digital marketing domainesia

Pembaca yang budiman, jika saya tidak keliru, tiap-tiap orang punya kesungkanan tersendiri dalam menjawab pertanyaan yang bisa membikin pening, bisa menerbitkan amarah, bisa mengurai tangis, atau berdampak pada membenci si penanya selama-lamanya. Ringkasnya begini: Anda tak akan bertanya tentang apakah anakmu kena raja singa dan mati muda karena suka main kelamin saat ia studi dan kerja di kota(?) kepada orangtua si pengidap sipilis. Oh, kecuali Anda ingin kena damprat dan tak dapat maaf—serta menambah daftar amal buruk, silakan.

Saya sendiri pernah sungkan menghadapi pertanyaan tentang pekerjaan. Syukurnya, pertanyaan itu tidak lagi membikin saya pening dan senewen. Kurang lebih, bunyinya begini: “Kamu anak psikologi tapi, kok, kerjanya digital marketing?”.

Selama berbulan-bulan di tahun 2018, tidak sedikit torehan pertanyaan seperti itu datang dari kawan saya, kolega saya, dan orang asing yang akhirnya menjadi kenalan saya. Jawaban saya yang barangkali tidak membikin pening dan senewen balik kepada penanya itu begini: “Saya suka jualan produk. Dan, sebagai lulusan psikologi yang seyogianya jadi HRD, saya sebenarnya kurang suka menghadapi manusia, so, lebih enak menghadapi produk.”

Awalnya adalah keisengan, akhirnya adalah ketertarikan, dan hingga kini ia menjadi pekerjaan yang menggembirakan—meski tidak sedikit bumbu kebingungan yang mengiringinya. Pada tanggal terakhir bulan November 2017, saya meyakinkan diri untuk mendaftar kerja sebagai digital marketing officer di Noura Publishing. Ia adalah penerbit arus utama, anaknya Mizan, dan payahnya saya, waktu itu, hanya memiliki (dan tentu saja telah membaca) dua buku terbitannya.

Apa boleh bikin, 22 hari kemudian, nyatanya saya diundang wawancara di Jakarta. Tidak ada psikotes sebelum wawancara. Saya dan beberapa pencari kerja sekadar disuguhkan soal-soal tentang kreasi konten dan strategi pemasaran online.

Lulusan psikologi tak boleh mandeg hanya gara-gara di kuliahnya tak diajarkan hal begituan. Oh, iya! Saya, kan, pernah ambil kuliah perilaku konsumen. Tapi sial, materi kuliahnya tidak menjurus ke soal-soal yang saya hadapi kala itu. Tentu saya juga tidak mau ngawur dalam proses seleksi kerja. Ini soal masa depan, Bung! Saya perlu mengerahkan kreativitas saya, mengupayakan daya imajinasi terbaik saya, dan tidak sembrono dalam menggarap.

Hasilnya? Sebulan kemudian, Januari 2018, saya diterima. Dan per tanggal 1 Februari 2018, saya bekerja sebagai digital marketing officer. Tahap belajar dan bekerja (dan bermain-main) setelah sekian lamanya duduk di bangku kuliah akhirnya datang. Saya tinggalkan dulu Jogja, kampung halaman tersayang. Saya tambatkan dulu perjalanan karier ini di ibukota, di Jakarta, atau di kota yang sesak, macet, dan banyak kebelingsatan yang hmm-hmm betul, Bung!

Kiat Sukses dan Tak Hancur Lebur

Jika HRD (Human Resource Development) bisa diterjemahkan menjadi pengelola sumber daya manusia, lantas apa terjemahan digital marketing?

Mari, ambil satu per satu: digital = digital; marketing = pemasaran. Gampangnya, terjemahan digital marketing adalah pemasaran digital. Pelakunya, saya umpama, disebut pemasar digital.

So, apa tujuan saya menjelaskan deskripsi yang terkesan menggurui pada dua paragraf di atas? Ehehe, santai, Bung. Saya sekadar ingin mengutarakan bahwa digital marketing bukan tipe pekerjaan yang paling unggul. Hanya karena ada kata ‘digital’, hal itu semestinya disikapi dengan biasa. Memang, kita tak akan menemukan bukti bahwa pekerjaan itu ada di zaman dahulu. Christopher Columbus tak perlu menayangkan iklan di laman Instagram untuk meluaskan kepercayaan penduduk asli Amerika terhadap kesejahteraan yang ia tawarkan. Pangeran Diponegoro juga tidak pernah live streaming Perang Jawanya di Facebook. Dan Soekarno tidak pernah berkampanye program-program pemerintah menggunakan hashtag, baik di Instagram, Twitter, atau YouTube.

Barulah, era 2000-an, media sosial menjadi tonggak digital yang membuat kepala kita menunduk lama-lama dan jempol kita tidak berhenti untuk scrolling, down, scrolling, down, scrolling, down, dan scrolling, up, lalu mengulangi aktivitas scrolling sampai entah kapan.

Aktivitas menatap-layar-gawai-tak-henti-henti itu mendorong para produsen dan distributor—apa pun jenis produknya—untuk melek digital. Terdaftarlah produk-produk beserta distributornya di beberapa kanal media sosial. Tidak ada regulasi pemerintah yang mewajibkan setiap pengusaha atau pedagang untuk punya akun media sosial. Namun, rasanya, digital marketing menjadi dobrakan agar produk, jasa, atau jenis usaha Anda tidak tertinggal atau tutup usia.

12 bulan, saya menggenapi masa kerja sebagai pemasar digital suatu penerbitan di Jakarta Selatan. Konten Instagram berformat feed dan story saya rancang, unggah, dan evaluasi setiap Jumat bersama kolega saya di departemen Marketing and Communication. Iklan di Facebook dan Instagram saya pelajari baik-baik, mulai dari memahami istilah-istilah reach, impression, dan conversion. Caption-caption yang memikat atau yang perlu kena ralat oleh atasan menjadi pembelajaran saya. (Saya ingat betul satu kalimat manajer saya: “Kita ini penerbitan, masak typo?”.) Google Analytics dan SproutSocial menjadi dua peranti paling unik yang saya gunakan. Keduanya memberi kesadaran kepada saya bahwa media sosial bukanlah kunci, melainkan konten.

Beberapa minggu kemudian, saya balik Jogja. Jika sebelumnya saya bekerja di produsen buku, sekarang saya bekerja di distributor buku, sebagai Content Marketing Officer (itu yang tertera di posting-an lowongan kerja; sementara itu, di slip gaji saya, tertera Social Media Manager). Susah? Menurut saya, lebih gampang. Bekal bekerja di tempat sebelumnya memudahkan saya bekerja di tempat-yang-bukan-perantauan ini.

Dunia literasi—dunia kerja yang saya tapaki ini—mendapatkan ruang yang luhur bagi pengguna media sosial di tanah air. Umumnya, buku tidak sekadar dibeli dan dibaca, ia menjadi barang berkomoditi tinggi untuk dipamerkan di akun media sosial kita. Festival-festival sastra dihelat dan pengunjungnya bergembira ria setelah memotret dirinya dan penulis favoritnya lalu diunggah di kanal media sosialnya. Pepatah-pepatah oleh pengarang ternama ataupun tidak justru berserakan di dunia maya. Anda, menurut saya, pasti telah kena ciprat gombalannya Dilan “Jangan rindu. Rindu itu berat. Biar aku saja.” yang termaktub dari novel Dilan 1990 karya Pidi Baiq dan kemudian beralih wahana ke film.

Terima kasih, digital marketing!

Cara Hampir Terbaik Memungkasi Keributan antara Pekerjaan dan Hobi yang Tiada Beda

Mengapa hampir perlu ditulis dan bukankah akan lebih jelas jika dihapus saja? Pertama, saya tidak berani mengaku-ngaku bahwa cara yang saya tawarkan itu memang yang terbaik. Kedua, jika Anda kurang puas dan tetap getol ingin cara terbaik, setidaknya saya sudah mendempetkannya: cara saya boleh dianggap sebagai cara nomor dua atau cara alternatif. Ketiga, Anda berhak melakoni sesuai daya pikat Anda, bukan karena ceramah saya yang boleh jadi nyeleweng.

Ketahuilah pembaca yang budiman, hobi saya adalah membaca dan menulis—sesederhana itu. Dan pekerjaan saya pun sesederhana hobi saya. Saya tidak seperti orang kebanyakan yang pekerjaan dan hobinya jauh berbeda, misalnya koki restoran ayam goreng punya hobi bermain bulutangkis, akuntan perusahaan minyak menggemari arung jeram, dan direktur utama suatu BUMN punya kegemaran menggebuk drum.

Dan sebagaimana ujaran inspirator pada umumnya: “Jika pekerjaan Anda adalah hobi yang dibayar, maka carilah hobi baru.”

Jelas itu menyulitkan saya. Saya tidak suka memancing, dan apabila memancing akan menjadi kegemaran baru saya, rasanya itu kurang aduhai. Saya tak bisa memaksa diri sendiri untuk menyenangi memancing, atau berkebun, atau mengoleksi perangko. Saya akan terus membaca dan menulis, seperti sedia kala.

Taruhlah ujaran inspirator tidak mengandung kesalahan mutlak. Bagi saya, ujarannya perlu diejawantahkan dengan cara kreatif. Apa boleh bikin, saya pun memilih untuk menulis di jejaring yang baru.

Sampai April 2018, saya selalu memuat tulisan-tulisan saya di blog WordPress. Kemudian, pada Mei 2018, saya memutuskan untuk membuat blog tanpa embel-embel subdomain. Saya ingin yang langsung dot com.

Pilihan saya jatuh ke DomaiNesia. Giuran potongan harganya, waktu itu, kerap mampir di linimasa media sosial saya. Saya pikir, itu masih berlangsung sampai sekarang. Sejauh memikat dan tidak tipu-tipu, kenapa tidak, Bung?

domainesia.com

Umurnya sudah setahun lebih

Lantas, jadilah sevmananda.com ini sebagai blog dot com pertama saya—akan bertambah atau tidak, saya belum memikirkannya sejauh ini. Berkat DomaiNesia, saya kembali melakoni hobi saya. Saya merawat blog saya serupa kegiatan berkebun, memancing, atau mengoleksi perangko. Aha, inilah sebuah alternatif mencari hobi baru.

Terima kasih, DomaiNesia! Tetaplah menjadi tujuan akhir cloud web hosting terbaik bagi para penulis, pegiat digital marketing, dan lain-lain. Tetaplah menjadi pilihan VPS bagi klien-klien terbaikmu agar server mereka punya manajemen yang berdedikasi tinggi dan modifikasi yang ciamik. Hingga kelak, predikat VPS Indonesia menjadi masyhur dan memang layak jajal.

Share: