novel aruna dan lidahnya - books review buku

Ini bukan buku kuliner. Ini novel tentang makanan, perjalanan, dan konspirasi. Ada dua alasan yang membuat saya getol untuk membaca novel ini: pertama, sebentar lagi akan difilmkan; kedua, novel ini tersedia di arsip kantor saya dan saat saya sedikit membaca bagian prolognya, saya akhirnya berfirasat akan terilhami banyak hal mengenai dunia makanan.

Prolog Aruna dan Lidahnya yang ditulis oleh Laksmi Pamuntjak itu ditulis sebanyak 8 halaman dan hanya terdiri dari 1 kalimat—hanya ada 1 tanda titik! Prolog yang menyenangkan itu saya kira bakal digulirkan kembali di bab-bab berikutnya. Ternyata tidak. Dialog Aruna dan kawan-kawannya (Bono, Nadezhda, dan Farish) bergantian dan bertubi-tubi muncul. Mereka saling unjuk kepandaian masing-masing tentang makanan, juga tentang filosofi hidup.

Aruna Rai adalah ahli wabah yang ditugaskan untuk meneliti flu burung. Karena tugas penelitian itu, akhirnya ia bisa ke mana-mana, bisa mencicip berbagai makanan di Nusantara. Jarang digagas berapa harga suatu makanan maupun minuman. Sebagai pembaca, minimal, perut saya harus sudah terisi makanan dulu, agar saat membaca, tidak terbit keroncongan atau saliva yang pelan-pelan tergulir di lidah.

Novel “Aruna dan Lidahnya” turut memberi pesan tentang cinta. Berikut kutipannya:

Pendek kata, kita nggak akan pernah mencintai X seperti kita mencintai Y, karena pada akhirnya kita ingin dicintai untuk hal-hal yang mengejutkan dalam diri kita, hal-hal yang menjadikan kita lain.

Dan meski buku ini tidak berkutat pada makanan saja, pelajaran politik bisa dipetik. Misalkan pada akhir bab 12 yang tertulis seperti ini:

Luar biasa, pikirku. Ekonomi bisa amburadul, pasar bisa anjlok, kesenjangan sosial bisa melebar, politikus bisa korup dan tak becus, tapi orang tetap membuka usaha, tetap memasak, tetap memberi makan satu sama lain. Dan meskipun “terharu” terasa seperti sebuah emosi murahan—begitu seringnya kata itu dipakai, untuk hal-hal yang tak layak menyandangnya—itulah yang saat itu kurasakan.

Hebat, bukan? Pada akhirnya, kita mesti setuju bahwa Aruna dan Lidahnya tidak soal lidah sahaja. Tapi juga soal cinta: kepada makanan beragam rasa, kepada sahabat yang sering membuatmu gila dan acap kecewa juga, pun kepada seseorang yang entah mau diajak nikah atau melajang selamanya—seperti Aruna dan Farish di bagian akhir novel ini.

Share: