Pagi itu, hari kedua kami berada di kelas 3 SMA. Tepat setelah pelajaran kedua berakhir, baru saja Bimbingan Konseling di kelas selesai. Pembahasan menarik mengenai kerja yang lebih keras untuk dipersiapkan menjunjung UN 2013 nanti.

Dan, waktu itu tak sengaja, aku mengucapkan sepotong kalimat yang ku tujukan ke Pedro yang duduk semeja denganku. “Kok kita bisa sekelas lagi, ya? Tapi sayangnya, kenapa kita juga harus satu kelas bersama anak-anak pas kelas 1 yang lain?”

Jadi gini, dulu pada waktu kelas 1 SMA, aku satu-kelas dengan Pedro. Namun, kami tidak satu-kelas pada waktu kelas 2 SMA. Nah pada kelas 3 SMA, kami dipersatukelaskan kembali. Itu berbeda dengan Nuria. Ia tak pernah satu-kelas denganku sebelumnya, begitu juga dengan Pedro. Lantas bagaimana kami sanggup untuk cepat mengenal? Itu dimulai pada hari ini. Obrolan pada hari ini.

“Iya, aku juga nggak nyangka aku bisa satu-kelas sama kamu lagi. Dan aku juga nggak nyangka sebagian dari anak-anak di kelas ini nggak satu-kelas sama kita pas kelas satu,” sahut Pedro.

Nuria duduk di depan kami. Teman semejanya entah ke mana tadi keluar kelas. Terlihat Nuria memicingkan mata. Bisa jadi Nuria merasa tersinggung atas obrolan kami. Bisa jadi telinganya mengupingi obrolanku bersama Pedro yang kalau ditelaah memang bisa menyindirnya.

Nuria menengok ke arah belakang, kemudian ia berujar, “Hei, menurut kalian, lebih enak pas kelas satu atau kelas dua?”

Aku kira ia akan marah. Ternyata perkiraan itu salah.

Pedro menjawab, “Menurutku, aku lebih enjoy pas kelas dua. Soalnya di situ, aku bisa mengenal cinta lebih dalam. Hehe…,” aku mengangguk-angguk, setuju dengan perkataannya. Aku tak perlu menjawab karena jawaban kami itu sama.

“Oh karena itu… Menurut kalian lagi, lebih enak pas kelas satu atau kelas tiga?”

Kali ini aku yang menjawab, “Ya jelas enak pas kelas satu, dong. Soalnya… Mmmm… Soalnya di situ bermula aku jatuh-cinta dengan seorang wanita.” Pedro sepertinya tidak mengangguk-angguk seperti aku tadi. Mungkin ia tidak setuju.

“Kalau menurutmu, eh siapa kamu? Pedro? Menurutmu, enak pas kelas satu atau kelas tiga?” Nuria mengulangi pertanyaannya. Membutuhkan jawaban yang berbeda dariku.

Pedro berpikir sejenak. Sedikit-banyak mengerut-erutkan dahinya. Kemudian berujar, “Menurutku, enak pas satu, sih. Soalnya… Soalnya banyak teman yang asyik gitu. Tapi cuma sebagian dari mereka saja yang sekarang satu kelas di kelas tiga ini.”

“Hei, kawan baruku, perkenalkan kalau kalian belum kenal aku, nama lengkapku Mifsa Nuria Yana. Panggil aku dengan nama tengahnya. Nuria. Bolehkah aku mengatakan beberapa kata sejenak?” Nuria memperkenalkan diri padahal kami sudah tahu namanya.

Kami mengangguk setuju. Membolehkan Nuria mengatakan suatu hal. Suatu hal yang khas. Yang menjadikan kami, aku dan Pedro, terpukau.

Hei, Steven dan Pedro, aku memang tidak pernah satu kelas dengan kalian. Dan hari ini, hari ini akan menjadi sejarah bagi hidup kita. Ini pertama kalinya kita ngobrol-ngobrol. Sebelumnya? Nggak pernah! Ingat itu…

It’s okay, kalian jawab lebih enak kelas dua daripada kelas satu dan lebih enak kelas satu daripada kelas tiga. Tapi pertimbangan kalian salah! Salah besar. Bukankah kalian belum menuntaskan masa-masa kelas tiga? Bukankah kalian belum menyelesaikan kehidupan yang sejatinya kalian tidak pernah bisa menakdirkan jalan ke mana ia akan berjalan? Nikmati sejenak kelas tiga kalian… Lagian buku tahunan kita nanti, itu sebagian besar terpampang foto-foto pada waktu kita kelas tiga.”

Aku dan Pedro terpukau atas perkataannya. Kami tak sanggup mengatakan apa-apa lagi kecuali, “Terima kasih, maaf kami salah dalam menilai hidup ini.”

Nuria mengakhiri obrolan pertama kami, “Wahai dua pemuda yang cintanya menjadi lebih baik pada waktu kelas dua daripada kelas satu, kalian nggak salah, juga nggak perlu minta maaf. Ingat satu hal ini, semoga di kelas tiga ini, aku, kamu, dan kamu bisa jadi sahabat yang baik. Walau tak pernah sekelas sebelumnya, semoga kita menyelesaikan kelas tiga ini dengan baik.”

Pada hari itu, terciptalah sejarah antara kami bertiga. Obrolan yang pertama di antara kami, obrolan pertama yang terjadi di hari kedua menjadi murid kelas 3 SMA.

Share: