Masih di hari itu. Siang itu, tepat semua pelajaran pada hari Selasa –hari kedua kami berada di kelas 3 SMA–  telah selesai. Siang itu, pelajaran di kelas kami berakhir pada Matematika. Pengenalan dengan guru baru yang motivasional. Siapakah dia? Dia adalah guru matematika senior di sekolah kami. Menjadi acuan untuk anak-anak kelas tiga yang akan bersiap menghadapi Ujian Nasional tentunya. Namanya Pak Gun.

Pak Gun memberi pelajaran kilas-balik tentang Matematika yang telah kami pelajari di kelas satu dan dua. Oh my dear, satu kelas ini hanya terpelongo ketika soal rumit (aslinya nggak rumit) itu ditujukan kepada setiap siswa. Kami merasa aneh, satu-dua bulan yang lalu, kami toh sanggup menggarap soal-soal macam soal Pak Gun. Tapi sekarang? Seakan-akan dunia ini terbalik, kemudian berhenti berputar, lantas menggoncangkan pikiran kita. Keringat mengalir deras. Hanya gara-gara soal-soal Matematika kelas satu dan dua. Bodohkah?

Lima menit sebelum bunyi bel tanda kegiatan belajar mengajar selesai, Pak Gun menghapus semua soal yang sudah tertulis, juga menghapus semua coret-coret garapan nggak-cetha dari siswa-siswi di kelas kami.

Kemudian, dengan tatapan tajam, Pak Gun mengatakan, “Kalian semua di sini belum begitu mengenal arti waktu luang! Kalian tahu kenapa kalian tak ada satu pun yang bisa mengerjakan soal itu? Itu dikarenakan kalian tidak mau mau mengenal waktu-waktu luang. Sekian siang ini dari saya. Selamat siang!” Pak Gun meninggalkan kelas dengan tegap, sedikit senyum tersungging. Tapi sayangnya, senyumnya tidak mesra.

Nuria yang duduk di depanku dan di depan Pedro segera menoleh, menatap tajam ke arah kami. Sayangnya, tajamnya tidak setajam Pak Gun.

“Kalian tahu maksud perkataan Pak Gun? I don’t know anymore!” celetuk Nuria tergesa-gesa.

“Aku tahu. Iya. Aku tahu!” Pedro membalas tanpa tergesa-gesa. Cukup kalem. “Waktu luang, kan ya? Sebelum masuk kelas, kita selalu punya waktu luang. Bahasa Jawa-nya tu wektu sela. Di antaranya adalah waktu libur. Kita dulu punya waktu libur to?” Aku dan Nuria mengangguk setuju atas pertanyaan retorik-nya.

“Oh… Maksud Pak Gun, ‘belum begitu mengenal arti waktu luang’ adalah selama liburan kita jarang memanfaatkan waktu luang tersebut. Nggak mau mengulangi pelajaran-pelajaran yang telah berlalu padahal itu sangat penting untuk Ujian Nasional nanti? Di waktu luang, kita justru sengaja menjadikannya seolah-olah memang benar-benar luang, begitu? Kita nggak mau mengenal waktu luang?” jelasku kali ini yang ternyata melebihi ketergesa-gesaan Nuria tadi.

“Nah, itu lho!” Pedro setuju. Nuria tersenyum mesra ke arah kami berdua. Langsung membalikkan badan. Menatap papan tulis sejenak. Berpikir, berpikir atas maksud-maksud obrolan barusan. Kemudian, ia bergegas membereskan buku-buku dan alat tulis. Sementara aku?  Juga. Bagaimana dengan Pedro? Ia sudah beres dari tadi. Bagaimana denganmu? Iya kamu, pembaca. Bukan. Kali ini bukan masalah tentang membereskan buku. Kamu sudah mengenal waktu luang?

Share: