Ada 4 judul film nasional yang saya tunggu-tunggu di tahun 2017 ini, di antaranya Istirahatlah Kata-Kata, Ziarah, Pengabdi Setan, dan Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak. Saya sudah menonton 3 judul. Satu judul terakhir belum saya tonton.

Kalau mau tahu rating saya (berdasarkan nilai a la Indeks Kumulatif aja ya!) terkait 3 film itu, saya akan beberkan di sini saja:

  1. Istirahatlah Kata-Kata = A
  2. Ziarah = A+
  3. Pengabdi Setan = B

Mungkin Anda (selaku pembaca) bertanya-tanya: kenapa B? Mungkin juga tidak bertanya-tanya.

Tulisan ini saya buat karena saya nyaris puas dengan Pengabdi Setan. Anggap saja, kata ‘nyaris puas’ itu sepadan dengan kata ‘nyaris tidak puas’.

Lalu, kalau memang tidak bisa menuju ‘puas’, mengapa saya menonton? Ini hebatnya sutradara (plus tim marketing-nya). Saya tertarik menonton karena trailer dan logline film ini. Saya menemukan tiga kata kunci yang jujur dan sederhana: ibu, pulang, dan bangkit dari kematian. Di trailer, film ini menyimbolkan kehadiran ibu dengan bunyi lonceng. Cerdas memang! Sederhana, tapi ngena!

Kenapa B? Kalau mau jawaban sederhana, ya saya jawab gini: karena bagi saya, belum bisa A. Bagi saya.

Saya pernah menonton 3 film panjangnya Joko Anwar: Janji Joni, Kala, dan A Copy of Mind. Dua judul terakhir, bagi saya ber-rating A; Janji Joni B.

Film itu bukan soal rating semata! Benar!

Ada Joko Anwar dan Tara Basro, beserta 2 pemeran lainnya

Toh, saya hanya meluapkan kenyaristidakpuasan saya dengan Pengabdi Setan. Apalagi, beberapa menit sebelum film ditayangkan, Joko Anwar, Tara Basro, dan dua pemeran lainnya (yang saya sengaja nggak mau tahu namanya) masuk ke studio 1 tempat saya menonton. Tara bilang kepada kami-kami para penonton agar setelah nonton, kami tidak spoiler ke orang lain. Mindset saya terbentuk, bahwa film ini bakalan ada plot twist-nya. (Sebagaimana film Ziarah, plot twist yang disajikan di akhir babak film ini, memaksa saya agar benar-benar tidak spoiler tentang ending cerita Ziarah.)

Satu setengah jam lebih saya menonton, selesailah Pengabdi Setan, dan saya dongkol: Is it enough? Or, is it new style of Joko Anwar? Yakin nih, kayak gini nggak layak di-spoiler-in? Kenapa banyak pemeran yang muncul (dengan agak terpaksa) seolah-olah harus menjadi superhero untuk menentang para “Pengabdi Setan”?

Marwah film horor nasional (mungkin) bangkit melalui film ini. Tapi seberapa jauhnya sih?

Jujur, saya lebih merinding nonton Kala daripada Pengabdi Setan. Bahkan, bagi saya, Grave Torture—film pendek horor Joko Anwar—lebih menyeramkan daripada Pengabdi Setan. Jadi, bukankah seharusnya marwah film horor bangkit melalui Grave Torture? Ah, saya nggak paham. Saya bukan kritikus. Pengeluh, mungkin iya.

Saya bisa saja mengeluh lebih banyak lagi. Tapi, saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan apresiasi positif sebagai penyeimbang.

Yeah, i love this soundtrack!

“Di kesunyian malam,….”

Saya jatuh cinta dengan lagu ini, liriknya, dan vokalnya, bahkan sejak menonton trailer-nya. Serupa ketika saya menonton A Copy of My Mind. Saya suka One Moon-Lit Night-nya The Spouse yang diputar ketika credit title bergulir setelah adegan Sari merindu dekap tubuh Alek. Saya juga suka lagu A Copy of Your Mind yang dinyanyikan Aimee Saras dan Bembi Gusti, dan sangat ngena ketika diputar saat adegan bermesraan. Di Pengabdi Setan ini, juga begitu: nuansa jadul yang selalu membuat terngiang, meski sepertinya remake dari Di Keheningan Malam-nya Anna Mathovani mirip keroncong Bengawan Solo.

Saya juga masih suka dengan acting Tara Basro. Serupa dengan di A Copy of My Mind, ia tidak berlebihan, masih benar-benar menjadi perempuan yang biasa saja, nggak neko-neko, selow wae, tapi tetap bisa memberikan efek mencengangkan bagi saya—selaku penonton. (Btw, kesukaan saya terhadap acting Tara Basro sedikit menurun paskamenonton 3 Srikandi. Ha-ha, peace!)

Lebih khusus lagi soal Pengabdi Setan, saya suka set decoration­­-nya. Ini mahal, pasti. Dan kemahalan wajib dibayar tuntas dengan tata ruang yang benar-benar menyeramkan ketika malam dan agak menyeramkan ketika hari tidak lagi malam. Semuanya saya suka! Pintu, jendela, sumur dan katrolnya, gordyn, tangga menuju lantai atas, foto ibu dengan bingkai di dekat ruang tidur, tembok yang kerap dipegang lembut-lembut oleh Ian, kursi roda nenek, motor Suzuki pinjaman, mobil Budiman yang datang menjemput, dan yang paling saya suka dari semuanya adalah lonceng.

***

Sekian dari saya.

Tiga judul film nasional yang saya tunggu-tunggu tahun ini sudah saya tonton. Satu judul yang belum saya tonton akan tayang di bioskop pada pertengahan November 2017. Marlina Si Pembunuh dalam Pembunuh Babak, sebuah film karya Mouly Surya. Ia telah melanglang ke Cannes dan Toronto. Dan akhirnya, bioskop dalam negeri adalah ruang yang patut dinantikan.

Share: