Bukannya apa-apa. Itu malam terakhir saya di Jogja pada bulan April. Tatkala saya terlelap, perempuan itu datang. Memakai jilbab, rok panjang, dan tidak mengenakan make-up sama sekali. Wajahnya yang menggemaskan mampu membuat siapa saja yang memandangnya menelan ludah berkali-kali. Dia pernah bilang bahwa dia sangat jarang make-up-an. Lagian, buat apa? Tentu saya tidak mendebat tentang kebiasaannya yang sangat jarang bersolek. Saya cukup bisa dibilang sering mengomentari celana panjangnya yang kombor-kombor. Entah mengikuti tren perempuan pemakai hijab, atau memang suatu kali dia pergi ke toko busana dan melihat ada barang bagus dengan harga yang terjangkau dan dia kepincut beli banyak. Tetapi saya sadar kemudian, rok-rok panjang yang rupanya dimilikinya sejak zaman sebelum kuliah tampak memendek. Maksudku, roknya jadi tampak cingkrang dan saya tebak kaos kaki yang dia kenakan jadi diketat-panjangkan sampai sejengkal di bawah lututnya.

Saya beri tahu kepadamu, saya cinta pada perempuan itu. Entah kalau perempuan itu, apakah dia mencintai saya atau tidak, sepertinya kita tidak bahas itu di sini. Kamu mungkin bakal menerbitkan ketidakpuasan dengan memusamkan parasmu atas penjelasanku tadi. Namun, bila ada waktu kita bersua, kamu boleh bertanya dan saya boleh-boleh juga tidak menjawab kalau keadaannya tidak memungkinkan untuk menjawab.

Ah, ya, perempuan itu duduk di ruang keluarga yang menyatu dengan ruang tamu. Kasur yang biasanya digelar di depan untuk tidur di ruang keluarga tidak ada di situ. Mungkin ditaruh di kamar tante saya atau di garasi belakang. Hanya tikar-tikar yang digelar.

Saya tahu perempuan itu datang sendiri. Saya tidak tahu jam berapa dia datang. Jelasnya, tidak dalam waktu gelap.

Saya melihatnya dari dalam kamar almarhumah nenek. Tidak ada yang banyak bertanya kepadanya. Dia juga tidak celingukan seperti tamu yang kehabisan bahan pandang. Saya berkehendak ke luar kamar. Apakah saya akan menyapanya? Sepertinya, saya harus menyembunyikan roman sedih saya terlebih dahulu.

Saya pun ke luar kamar. Setelah korden pintu saya sibak, saya memandangnya lamat-lamat. Dia tidak kunjung menengok wajahku. Saya harus bagaimana? Saya menuju pintu utama saja. Dan sebelum resmi saya menuju pintu, masih dalam ambang batas penglihatan saya, dia memandangi saya.

 

Share: