Akhmad, mungkin, capek. Akhmad (mungkin akan) lebih capek kalau saja ia harus mengikuti jalur yang disarankan Google Maps: seturunnya dari stasiun Lenteng Agung: berjalan ke utara (di sebelah timur pagar stasiun), berputar balik di area putar balik sebelum stasiun Tanjung Barat, lalu berjalan ke selatan (kali ini di sebelah barat pagar stasiun), dan itu melelahkan. Maka aku bilang, bahwa, nyeberanglah lewat jembatan penyeberangan.

Pukul 11 malam, sudah masuk jam malam. Saya ke luar dengan izin seorang bapak tua penjaga malam yang dua atau tiga jam lagi akan tidur malam, yang mengenakan sarung, yang mengenakan kaos dalam, dan yang akan membukakan pintu gerbang untukku berjalan ke luar menjemput Akhmad Kurniawan.

Kami tidak berpelukan seperti pertemuan di film-film romantis. Terakhir kali bertemu dengannya sebelum saat itu adalah di Masjid Jogokariyan. Seharian di pertengahan Januari, saya (dan Sab (dengan imbuhan doro) dan Haidar) jalan-jalan dengan Akhmad Kurniawan. Ia libur—setelah tiga bulan ia nyambut gawe. Kami makan-makan: yang mahal dan tetap bermoral. Bayangkan, ayam geprek seharga Rp75.000,00! Kami tidak pesan itu, ya… Kami pesan yang lain. Yang di bawah Rp75.000,00.

Imogiri tujuan pertama dan Haidar malu-malu ketika saya berteriak di belantara non-kota secara tidak malu-malu. Akhmad ikutan malu. Sab awalnya malu, kemudian tidak, kemudian ikutan teriak secara tidak malu-malu. Sepertiku.

(Untung, hujan pun tidak jadi datang. Maka kami lanjutkan perjalanan menuju pematang sawah, mengejek orang-orang payungan dan pacaran dan berswafoto dengan gawai yang ringan digenggam.)

Sorenya, setelah melewati bukit yang lihai dengan kecepatan yang kadang-kadang abnormal, saya, Sab, dan Haidar lagi-lagi ditraktir Akhmad Kurniawan. Mangut lele yang menyenangkan di Imogiri (lokasinya dekat pertigaan yang mentok). Lahap, lahap, hap-hap-hap. Saya pengonsumsi nasi terbanyak. Tapi bukan cuma saya yang mengaku kewaregen. Kita semua mirip ikan buntal. Kecuali Sab; Sab lebih mirip ikan mujair dengan menahan-nahan napas agar tetap langsing.

Petangnya, kami belum berpisah. Sebab, ada Gotris yang siang harinya melawat ke Jawa Tengah karena ada urusan terkait karir. Baru, setelah itu, setelah bakda Isya (beruntungnya negara belum bubar), kami berpisah. Saya harus segera ke Kalasan. Ngapain? Ya, pulang.

*

Tapi Maret ini saya sudah menetap di Jakarta. Dan malam itu, Akhmad Kurniawan hampir gundul. Tapi tidak pacul.

Malam Sabtu, Akhmad Kurniawan kuberikan bantal untuk tidur. Aku memberiku guling untuk tidur. Besok, kita akan melawat ke Muara Kamal. Barat lautnya Jakarta utara.

Hebat! Saya dan Akhmad Kurniawan tidak berhenti sama sekali mengarungi Jakarta Selatan, Jakarta Barat, lalu Jakarta Utara. Dengan motor berplat AB, kami harus tampil ganteng dan bercakap dengan bahasa Jawa.

Sampailah kami di suatu rumah tempat transit kelompok KKN-nya Akhmad Kurniawan. Adalah suatu wilayah tempat rumah-rumah dibangun, tepat di selatan laut, di sekitar tempat pelelangan ikan. Sewajarnya, jelang sore itu, kami makan ikan. Dan sejak jelang sore itu, saya memfavoritkan ikan selar sebagai ikan favorit—menggeser posisi ikan gurame dan ikan lele.

Kami pulang jelang petang dengan sedikit kenahasan. Jalan pulang tidak sama persis dengan jalan non-pulang. Berangkatnya lewat Kebayoran, pulangnya lewat Blok M? Mafhumilah, sebab plat kami masih AB dan cakap kami lagi-lagi masih bahasa Jawa.

Tanpa ba-bi-bu(-ta), insting saya tampak benar. Ada satu terowongan yang perlu dilewati! Terowongan dekat Pondok Indah Mall. Itu, adalah jalur menuju kebenaran Ragunan yang mengarah ke Jagakarsa tercintah.

Besok Minggu, ngapain lagi? Sudahlah, sekarang malam Minggu. Waktunya tidur dan bermimpi tentang cinta.

*

Sore, di hari Minggu, kami berjalan kaki, kira-kira satu kilometer, menuju stasiun Lenteng Agung. Hanya berhenti setelah melewati satu stasiun saja (yakni Universitas Pancasila (cocoknya disingkat jadi Upan—seperti nama temannya Verezha Ibrahim(‘s Project))). Benar, saya dan Akhmad Kurniawan turun di Universitas Indonesia (cocoknya disingkat jadi Undo—antonimnya Redo (apa itu Redo? Republik Indonesia! Nyomnyom…!)).

Akhmad Kurniawan berkata dengan takjub dan suka citanya bahwa ia ingin bermain di Undo (eh, UI aja lah, ya…). Tapi, saya bilang kapan-kapan saja, pasti ada waktu. Sekarang kita ke ring road-nya Depok. Yakni, Margonda. Kalau saja Margonda ini terletak di wilayah Jawa yang kental dengan bahasa Jawa, orang-orang berambut jarang dibasuh sampo Emeron yang menyukai Endank Soekamti dan pernah membenci SKJ’94, saya punya dugaan kuat namanya akan menjadi olok-olokan. Yakni, MARGONDI!

Keliru perkiraan saya. Mal yang akan jadi tempat kunjungan kami ternyata berada di jauh dari stasiun UI. Kami pun berjalan kaki. Saya bilang, sepertinya setelah jembatan penyeberangan yang itu, tu. Tapi setelah melewatinya, ternyata hanya bangunan yang di depannya terpampang poster tentang pembangunan. Saya bilang lagi, seperti setelah jembatan yang kedua. Tapi setelah melewati jembatan kedua, ternyata nggak ada mal sama sekali. Oke. Jalan kaki lagi…

Akhirnya, pada jembatan yang ketiga, mal itu ada—tentu tidak tiba-tiba seakan-akan menghadiahi kesabaran saya dan Akhmad Kurniawan yang telah berjalan kaki jauh, dari stasiun UI.

Maka, agenda menonton film adalah agenda yang sebaiknya dilakukan dengan takzim ketimbang belanja pakaian kekinian, ngopi-ngopi, atau bermain wahana ding-dong. Lady Bird adalah pilihan terbaik ketimbang film komedi yang ada kalimat e, ujan gerimis aje, ikan teri diasiniiin…

Kemudian, setakzimnya menonton film, saya dan Akhmad Kurniawan memutuskan untuk makan malam. Ayam goreng yang digeprek adalah pilihan terbaik ketimbang ayam geprek yang digeprek. Sudah geprek kok digeprek lagi?

Akhmad Kurniawan, kamu adalah seorang laki-laki (dari sekian laki-laki) yang keluar dari rumah. Memilih tinggal di ibukota, dan meninggalkan ibu yang tidak di kota. Aku juga begitu.

Jakarta semakin berjejal. Jogja juga begitu. Kalau Gombong, aku tidak tahu.

Saya mengakhiri ayam geprek lebih awal lalu meneruskan bacaan yang waktu itu belum saya selesaikan—Kamu, karya Sabda Armandio. Sesekalinya dan beberapa kali kemudian, saya melirik cara makannya Akhmad Kurniawan yang santun, tidak tergesa, dan menyenangkan. Hari ini kita telah berjalan kaki dari Jagakarsa ke Lenteng Agung, dari Stasiun UI ke Depok Town Square, tapi sebentar lagi, kita akan berpisah lagi. Kemarin kita ke dermaga dan kembali dari dermaga, tapi sebentar lagi, kita sudah tidak Margonda.

Kami pulang dengan cara kami masing-masing. Saya naik ojek online. Akhmad Kurniawan berjalan kaki lagi menuju stasiun KRL terdekat, menuju stasiun Kramat.

Menghabiskan ayam geprek dengan sendok dan garpu.


Salam cinta dari Ananda Sevma!

Jakarta Selatan, 25 Maret 2018

 

Share: