Ibu saya mengirim pesan dengan sapaan awal “Mas”. Saya membalas cepat. Saya menulis bahwa saya justru sakit dan tidak berpuasa. Ibu mungkin akan menulis kalimat lanjutannya, namun, setelah kalimat dari saya itu terkirim dan tercentang biru, ibu meminta saya untuk lekas rehat. Ibu memohon agar saya bisa lekas pulih dan pulang dalam keadaan sehat.

Saya tengah dijangkiti sakit mual dan muntah di pengujung bulan puasa ini. Pemilik warung yang biasanya saya singgahi sudah menjalankan ibadah mudik lebih dahulu. Beberapa depot yang sering saya singgahi juga melakukan rutinitas itu. Pilihan saya jatuh ke sembarang warung. Kemudian, tidak berpuasa adalah pilihan yang semestinya saya pilih di hari-hari terakhir bulan puasa ini ketimbang timbul sakit yang bakal melanjut dan memedihkan perut.

Namun, pesakitan selalu saya lalui seperti pesakitan sebelum-sebelumnya. Saya tetap membaca buku. Saya tetap berselancar, membaca artikel-artikel menyenangkan dari linimasa, dan tertawa menonton video-video lucu yang tertebar di Twitter dan YouTube. Saya melewati pesakitan mungkin dengan cara yang orang lain melewatinya. Saya, bahkan, kadung tidak percaya pada warung yang masih membuka tendanya di sekitar tempat tinggal saya. Pesan antar adalah pilihan saya. Meski bisa dibilang boros, hal itu tampak lebih aman di perut saya, juga pikiran saya.

*

Kautahu, Jakarta sepi.

peta-map-sepi-jakarta-lebaran

Dan kau bisa menebaknya, jalanan tol, stasiun-stasiun, terminal-terminal bus, pelabuhan-pelabuhan, bandara-bandara pastilah ramai. Aku kurang peduli apakah mereka membawa dua koper, sepuluh stel pakaian, atau cukup satu tas ransel berisi aneka perkakas harian. Kita bisa menaruh kepedulian kita pada diri kita sendiri. Misalkan, kapan tiket pemberangkatan kita sebaiknya dicetak, apakah perlu berpamit dengan tetangga samping bahwa kau akan mudik, dan berapa ongkos yang harus kau manfaatkan selama berlebaran di beranda halaman tercinta?

Saya tahu, akan terbit percakapan yang barangkali tak mengenakkan benak. Saya juga tahu, akan tenggelam pula percakapan yang sudah direncanakan baik-baik. Suatu kali, ketika kau mulai mengobrol bab tentang kepenatanmu, pamanmu akan memotong dan menceritakan dua atau lebih pengalamannya bekerja di luar Jawa. Itu lebih mirip ketika kau bercerita tentang pengalamanmu bekerja sebagai pengelola perusahaan tiba-tiba dipotong sobat jauhmu. Pasalnya, selain membosankan dan cenderung mengarah ke penggerutuan yang tiada berujung, cerita seperti itu hanya akan menimbulkan perasaan getir yang menular.

*

Pada hari-hari terakhir bulan puasa, saya belum juga berada di beranda halaman. Teman-teman saya mudah kautebak. Berswafoto dengan keluarga kecil maupun besar, berpuasa bersama, mengunjungi mal dan menyanjung label pakaian baru, dan menjangkar kebahagiaan dengan caranya sendiri adalah beberapa kebiasaan yang terduga waktu libur lebaran tiba.

Akan tetapi, saya telah menjadi bagian yang tidak lazim. 31 Mei 2019 adalah hari terakhir saya bekerja. Dari semua staf, kurang dari lima atasan belaka yang tahu rencana saya akan berhenti bekerja di bilangan Petojo, Gambir. Saya tak menguar rencana berhenti itu kepada kolega-kolega. Sengaja. Dalam surat pengunduran diri yang menjadi surat wajib, saya menulis bahwa saya ingin di Jogja terlebih dahulu. Saya kurang tahu, apakah tiga atasan saya yang membaca surat itu mafhum dengan pilihan saya atau tidak. Yang saya percayai adalah bahwa posisi saya pasti mudah digantikan. Meski, ya, sulit rasanya mendapatkan seorang staf yang bisa apa saja. Mungkin kita perlu waktu bercakap lebih panjang untuk membahas apa yang telah saya cetak miring. Namun, bila waktumu pendek, aku hanya sanggup mengatakan bahwa aku betul-betul ingin di Jogja dulu.

Saat saya menulis paragraf ini, saya belum benar-benar pulih. Lidah yang hambar dan keringat yang mengucur pelan-pelan di pelipis adalah dua tanda bahwa saya sepertinya perlu memungkasi tulisan ini. Barang-barang belum saya packing. Satu kipas angin dan satu ember plastik siang tadi (3/6) telah saya serahkan ke kerabat KKN saya yang tinggal di sub-gang dekat indekos saya. Dua kantong plastik dari pesan antar masih berserak di antara kasur dan almari pakaian. Lagu di laptop saya masih itu-itu saja: Hindia – Secukupnya. Buku Sapiens karya Yuval Noah Harari pun telah sampai pada bab akhir, yang kalau saya parafrasekan, begini bunyinya:

Dunia Islam, India, maupun China tak ada yang bersemangat melakukan ekspedisi hingga Amerika. Paling mentok, India dan Islam, konon, sampai ke Nusantara. Nah, ini yang lebih disayangkan lagi: ketika Islam menaklukkan India, mereka tidak disertai arkeolog, antropolog, geolog, maupun zoologis. Beda dengan Inggris. Berkat kesinambungan profesional itu, mereka memahami daya militer, lokasi tambang emas, laba-laba India, kupu-kupu berwarna-warni, bahkan bahasa dan reruntuhan kuno dan terlupakan. Di titik itu, kepakaran (kata yang biasa diwanti para ahli) sama pentingnya dengan kepekaan (kata yang biasa diungkap para perasa).

Saya mengilas balik, mengapa saya akhirnya menyetujui bekerja di penerbitan dan pindah ke appliances? Oh, saya ingat ibu berpesan, untuk mencari pengalaman. Senilai 1 tahun 4 bulan di Jakarta-kah pengalaman itu? Saya bertanya-tanya, apa yang saya alami itu sudah satu track record dengan studi saya? Jika menjawab dari ceruk besarnya, tentu tidak. Dan, dari semua hal yang acap membingungkan itu, apakah saya bisa seperti Inggris yang berdaya jelajah tinggi dan mendapatkan pengetahuan sejatmika mungkin untuk dibagi, dicerna, dan ditulis kembali? Bisa…

Sebagai penutup, Terima kasih, Jakarta.


Grogol-Jakarta Barat, 4 Juni 2019
18 jam sebelum berangkat dari Gambir ke Jogja

Share: