Pernah pesimis? Sering pesimis? Apa itu pesimis?

Baik, jawabannya secara berurutan adalah Saya pernah pesimis, tapi tidak sering pesimis, dan optimis itu sendiri adalah lawan dari optimis.

Semoga jawabanmu –para pembaca– lebih bermanfaat.

Pesimis bukan barang, bukan benda yang bisa dilihat, apalagi disentuh. Pesimis menggandrungi manusia lewat batin. Hakikatnya didatangkan untuk tidak merasakan musuhnya yang bernama optimis.

Tentunya ada sebab-sebab seseorang menjadi pesimis. Satu hal yang paling membuat dag-dig-dug adalah pesimis yang tiba-tiba.Yang tiba-tiba ini misalnya ketika seseorang yang dipilih secara acak di dalam satu kelompok belajar hendak mempresentasikan tugasnya, kemudian ia disuruh pengajar atau pengujinya untuk membawakan materinya dari awal hingga akhir. Akan tetapi, ia justru berujar kepada teman satu kelompoknya, “Aduh, gimana ini? Aku canggung di depan publik, kamu gantiin aku dong. Aku nggak PD.”

Contoh yang tiba-tiba tadi sering terjadi di kelas kuliah saya. Sampai saat ini, saya belum tahu persis sebab dari kecanggungan yang melanda pada orang-orang yang pesimis tiba-tiba untuk maju presentasi. Yang saya tahu hanya satu pola, yakni tidak percaya diri (seperti kalimat terakhir pada contoh seseorang yang pesimis tiba-tiba).

Jika ini sering terjadi, wajar saja. Wajar karena ‘tidak PD’ itu sendiri justru tidak diperbaiki oleh pihak yang sering merasa pesimis tiba-tiba. Apakah ada obat tertentu untuk memperbaiki ‘tidak PD’? Tentu ada!

Imajinasi!

Saya mencoba untuk mengobati pesimis itu dengan berimajinasi. Hei, ingat, imajinasinya harus menuju arah positif, arah yang optimis.

Ada sepenggal cerita menarik tentang dahsyatnya imajinasi. Yakni tentang seorang tentara yang memiliki hobi bermain golf, namanya Mayor James Nesmeth. Suatu waktu, ia bertugas di Vietnam Utara. Dan saungguh sial, ia justru ditangkap musuh, ia dijebloskan ke penjara. Jangan bayangkan penjara itu dengan hal-hal yang nikmat! Penjara itu bukanlah penjara-penjara zaman sekarang yang boleh jadi kasur dan bantal lebih empuk daripada milik tetangga sebelah. Penjara ada pada zaman dulu, keadaannya sangat pengap. Tetapi, satu hal yang perlu disadari bersama, Nesmeth menyadari ia harus menjaga daya pikirnya agar tetap sehat dan tidak gila. Nesmeth memutuskan untuk berimajinasi setiap hari. Ia mengimajinasikan dengan detil bahwa ia berada di padang golf, ia bermain golf sebanyak 18 hole. Ia selalu melakukan itu rata-rata empat jam sehari selama tujuh tahun.

Sesudah Nesmeth dibebaskan, ia bermain golf kembali untuk pertama kalinya. Hebat! Nesmeth mampu mengurangi rata-rata 20 pukulan dari permainannya dulu. Orang-orang yang ada dan mengetahui tentang kehebatan di zaman itu bertanya-tanya tentang kepada siapakah Nesmeth berlatih, toh selama tujuh tahun ia dipenjara di tempat yang pengap, sendirian pula. Tentu saja, tidak ada yang melatihnya. Dan tentu jelas, dia hanya berlatih dengan imajinasinya. Hebat, ternyata itu memiliki dampak pada kemampuannya. Itulah sepenggal cerita tentang kekuatan dari imajinasi. Boleh jadi kalau Nesmeth ini tidak berimajinasi, maka ia akan menjadi gila, pikiran-pikiran negatif akan melandanya.

Imajinasi agar tidak pesimis memang hebat dan memang harus. Saat Anda disuruh untuk maju presentasi pun seharusnya Anda juga sering berimajinasi, membayangkan tentang betapa antusiasnya audiens, betapa menariknya pembawaan Anda, dan lain-lain yang bersangkutan tentang presentasi Anda. Berimajinasilah untuk meraih rasa optimis, berimajinasilah untuk menumpas rasa pesimis!

Sumber cerita Nesmeth berasal dari buku berjudul ‘Rahasia di Balik Kata-kata’ karya A. Agiel Josep.

Share: