Tulisan ini merupakan tulisan saya selaku produser, sutradara, dan pemilik ide cerita dari film pendek ‘Terngiang’ yang telah diseleksi resmi untuk berajang di RememberMe Film Festival 2017. Semoga, dengan adanya tulisan ini, kita bisa berbagi pengalaman dan rasa bahagia.

Mulanya

Bulan Juli 2017 lalu, ada lomba film pendek berjudul RememberMe Film Festival. Lomba itu diselenggarakan oleh ALZI atau Alzheimer Indonesia. Total hadiahnya ratusan juta. Juri-jurinya, di antaranya Riri Riza, Mira Lesmana, dan Andi F. Noya.

Juni 2017, saya bikin film pendek religi dan menang di kompetisi yang diadakan oleh Ramadhan Di Kampus UGM. Hadiah dari lomba itu tidaklah sedikit, juga tidak terlalu banyak, sih. Tapi, cukup untuk bikin film pendek lagi. (Dan prinsip saya, waktu itu, adalah bikin film yang bisa mendatangkan uang. (Kan bikinnya juga pake uang. Dan tenaga…))

Terpintaslah suatu ide untuk ikutan RememberMe ini. Tema besar yang ditawarkan adalah penyakit alzheimer. Maka saya membuka rekrutmen di grup chatting organisasi yang saya sayangi. Dua orang masuk: satu jadi duet sutradara dengan saya, satu jadi penata suara utama. Kru kreatif lainnya saya minta secara personal. Jadilah tim kreatif Terngiang berjumlah sembilan orang. Waktu itu belum fix siapa bakal jadi apa, bakal ngapain saja. Intinya, di bulan Juli itu, saya hanya memecah tim menjadi tiga kelompok: produksi, gambar, dan suara. Saya mengepalai produksi, Ezra mengepalai gambar, dan Afwan di suara.

Setiap minggu kami bertemu. Kalau tidak salah sebanyak empat kali. Tidak seluruhnya hadir: saya sengaja tidak mengundang penata musik untuk datang di temu mingguan, Ammar selaku penata suara juga sedang KKN waktu itu.

Pertemuan pertama, saya berbagi ide. Bunda Afra mencatat baik-baik ide saya. Dan kesigapannya membuat saya yakin bahwa film ini bakal sukses. Bunda Afra pun saya mintai tolong untuk membuat naskahnya.

Pertemuan kedua dan ketiga saya awali dengan kuis tentang alzheimer. Saya membagikan jurnal dan tautan video untuk ditonton beberapa hari sebelum pertemuan. Konten jurnal dan video itu berkaitan dengan soal kuis.

Pertemuan keempat, tetap ada kuis. Saya mengundang pemeran untuk latihan peran dan mencocokkan apakah dialog pada naskah perlu ada yang disunting atau tidak. Kuis hanya diperuntukkan kru kreatif saja. Sore hari, kami mengecek lokasi syuting. Tujuan pertama adalah waduk UGM. Tujuan terakhir adalah Banguntapan. Sebagian besar adegan akan diambil di Banguntapan. Rumah untuk syuting ini adalah rumah sewaktu saya kecil dan sekarang ditinggali om saya beserta keluarga kecilnya. Kuburan yang akan digunakan syuting juga merupakan kuburan terdekat dengan rumah itu.

Share: