Kelanakan waktu tanpa pajanan
Tempati, singgahi segala hal yang mungkin
Pada dan kepada siapa lagi hendak bertaruh
Rahim ibu, jauh dari babak belurmu

 

Pada baris sebuah puisi serius
ciptakan huru-hara atau bla-bla-bla lainnya

Semakin kautepis-tepis,
semakin jalan kebaikan datang,
atau kiranya kau dikoyak-koyak tenggat,
masih ingat
pada jalan dua tapak,
atap panas dan ubin dingin
masjid, bentangan udara di selat—atau semenanjung
yang entah apa sebutnya.

Hutan dan hujan
bisa digonta-ganti huruf tengahnya.
Contoh lainnya: pamit dan pahit,
lekat dan lezat, pesan dan pelan,
sehat dan sesat, kejam dan kelam,
cinta dan cipta,
trisna
dan tresna…

 

Jeda

Agama apa yang pantas bagi belantara hutan? Bagi daun-daun kering?
Doa apa yang layak terpanjat bagi kemelut batin para pekerja Jawa, transmigran lama, dan udara ramah lingkungan?

 

Cara paling aduhai
menjadi pribadi yang ululu

Iringi doa bunda,
ingat bagaimana takzimnya:
pejamkan mata,
sedikitkan lengah.

Jangan bermain-main dengan rapal.
Hidup bukan soal senewen.
Bilangan nyinyir mungkin adalah bumbu lainnya.
Pernikahan disebut capaian; padahal
itu jebakan Tuhan. (Orang alim bilang:
ujian.)

 

Ramai-ramai meramaikan
kesepian di tanah tanpa lada

Prostitusi dan ladang urat kemaluan.
Badanmu kurang sintal dan mau apa lagi?
Sungai dan jalanan berdebu,
tongseng kambing tongseng asu,
lidahmu tak banyak liur dan mau gimana lagi?

Pelan-pelan dan kata-kata disenyapkan sementara.

Hormat kepada atasan.

“Borneo, dab!”


Kalasan, 17 Juni 2018

Share: