Nyawanya pernah berada di ambang duka
Doa-doa disematkan, menyertai kesembuhannya

Juga jingga di hari pulangnya,
atau hari ini ketika kamu sedang melupa

 

Berjalan

(Ucapkan selamat datang kepada ibukota Indonesia, Daerah Tidak Istimewa—Jakarta. Kamu mungkin tidak ingat ketika kamu  mengambil sepatumu dan memakai kaos kakimu, tidak ada yang menyuruh menggenggam sepatu sebelah kanan dengan tangan kananmu dan begitu pula dengan sepatu sebelah kiri, kamu sedikit mengingat tentang tepukan kedua sepatu itu di lantai yang tidak kotor-kotor amat. Bagaimana bunyinya? Brok, brok, brok, atau duk, duk, duk?)

Seharusnya iMop tidur sejenak di Jatinegara atau menikmati matahari terbit di kesibukan yang mengada-ada di jalanan Jakarta Timur, Jakarta Pusat, dan berakhir di tujuannya di Ragunan atau Jagakarsa.

Tapi jika itu dilakukan, ia takkan aku jemput di belokan menuju Ragunan di perempatan alternatif menuju Universitas Indonesia.

(Hela napasmu tiga kali karena iMop sampai di Jakarta Selatan, sudah dalam keadaan sahur, setengah ngantuk, dan membawa tas ransel yang muat untuk jatah sandang tiga hari ke depan. Tapi iMop tetap akan mencuci setengah sandangnya atau kurang di indekosku. Sambil lalu ia ke Lampung, mengantarkan suatu pesan atau bisnis marjinal kepada kawan lamanya sembari mencetak rekor tentang sudah dua kalinya ia pergi ke seberang pulau.)

 

Berlari

Kecepatan berlarinya mungkin tidak akan sekencang kamu kala dikejar anjing atau babi hutan yang apabila dibayangkan itu akan bikin pasanganmu mengakak dan menggelinjang. Masalahnya, berlari memiliki esensi soal kekuatan. Dan iMop tekun sekali soal berlari. Barangkali ketekunan itu berlaku di tahun-tahun lalu. Untuk tahun ini, aku tidak tahu.

 

(Apakah besok masih ada puisi?)

(Jika ya, mengapa puisi untuk iMop seperti prosa atau kata-kata lirikal yang sah-sah saja dicibir sebagai kata-kata banal, arogan, dan sungguh tidak aduhai?)

(Lain kali dan jika sempat, aku kepengin bikin pantun saja. Gimana?)

Share: