dua garis biru review

Di Indonesia, seorang pemudi usia kelas 3 SMA bisa hamil dan seorang pemuda bisa menuai sekian janji soal tanggung jawab. Di Indonesia, seorang pemuda bengal dan kurang berprestasi bisa tampil gagah menjadi calon ayah dan menikahi kekasihnya yang lebih berprestasi setelah sekian hari berhubungan badan. Dan, lagi-lagi di Indonesia, kebimbangan antara aborsi atau jangan-aborsi adalah hal yang menyangkut pilihan bebas dan kesetiaan nyawa. Tengah tahun ini, Dua Garis Biru (2019) menyuguhkan topik tersebut.

Dua Garis Biru, film debut Gina S. Noer, punya gagasan sederhana tentang edukasi seks hari-hari ini. Mulanya saja sudah sederhana: Dara (Zara JKT48), karena di rumahnya sepi, mengajak Bima (Angga Yunanda) bermain ke kamarnya. Mereka berdua iseng main dandan-dandanan, bercanda tak tahu arahnya, dan melepaskan gairah remaja. Kita tidak akan menyaksikan adegan gila mereka. Tidak ada titik orgasme atau gelinjang erotis dari kedua pemeran. Kita hanya akan mengetahui akhir persenggamaan melalui perkataan Dara yang berselimut di dekapan Bima, “Jangan bilang siapa-siapa, ya, Bim…”

Sebelum pada pengakuan kehamilan di ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS), Bima adalah pribadi yang bingung. Bima mencari cara terbaik pengguguran jabang bayinya dengan tubi-tubi pertanyaan ke kawan-kawan di sekitar rumahnya. Ketika kawannya meletukkan tanya soal apa kamu menghamili anak orang, Bima berbohong dengan menjawab tidak. Dara pun sama bingungnya. Ketika jalan-jalan di mal, adegan Dara melihat-lihat test pack menjadi daya kebingungannya yang tidak ditampik serius oleh Bima.

Pihak sekolah memang tidak bungkam. Pihak sekolah memilih untuk mengeluarkan Dara, tetapi mempersilakan Bima untuk terus lanjut sekolah. Orangtua Dara geram mengapa hukuman jatuh pada Dara saja dan Bima tidak.

One-shot terjadi begitu panjang pada adegan di ruang UKS. Ayah dan ibu Dara marah. Ibu Bima marah dan menangis, sementara ayah Bima adalah sosok paling tenang. Ayah dan ibu Dara memilih keluar UKS setelah tidak ada mufakat yang memuaskan benak mereka. Ayah dan ibu Bima memilih untuk mengurus sementara kedua siswa yang tidak lama lagi mesti menjalan married (by accident). Tipikal orangtua beda latar ini ikut menentukan pilihan-pilihan anaknya sebelum bayi dalam kandungan menjumpai mereka sebagai kakek-nenek. Tipikal saudara kandung pun turut bereaksi: kakak Bima (Rachel Amanda) yang cenderung bicara tergesa dan adik Dara (Maisha Kanna)

Pesan tentang betapa pentingnya edukasi seks sangat kental, namun terkesan memojokkan orangtua dan kurang menggubris sekolah. Lingkaran pergaulan sebaya Bima maupun Dara juga tidak ambil sorotan. Beruntung ada pihak rumah sakit yang menjadi latar paling informatif soal edukasi seks.

Marwah romantis muncul berkat lagu-lagu pengiring adegan. Jikalau-nya NAIF—setelah menjadi lagu favoritnya adik Dara dalam melatih keterampilan ukulele—mampu mendapatkan makna lebih lanjut lagi saat mengiringi adegan Dara dan ibunya berbincang di atas kasur. Growing Up karya Rara Sekar ikut memberi efek sedih dalam membalut segala adegan kehamilan Dara.

Secara keseluruhan, film Dua Garis Biru bakal menohok Anda yang kurang melek edukasi seks sejak dini. Ia juga bisa menjungkirbalikkan segala opini tentang aborsi. Dan sederhananya, ia seperti satu bait Jikalau, “Kuharap dikau sabar ‘tuk menunggu. Ku pasti akan datang untukmu.” Entah apa yang ditunggu itu apa: yang empiris seperti bayi, atau yang abstrak seperti tanggung jawab.

Share: