review-ave-maryam-film
Pernah dimuat di psikomedia.net

Seseorang jatuh cinta dan ia merasa berdosa. Seseorang bercinta dan ia merasa mengingkari Tuhannya. Seseorang itu adalah tokoh utama kita, Suster Maryam namanya. Dalam film Ave Maryam (2019), Suster Maryam adalah tokoh utama yang akan mengajak Anda untuk mengakui dosa-dosa dan mengharap belas kasih.

Sebelum jauh ke pengakuan dosa, Suster Maryam berperan cukup monoton. Sehari-hari, ia—bersama Suster (Olga Lydia) dan suster-suster lain berbagai usia—adalah pelayan gereja yang begitu khidmat: memasak, menghitung pesanan susu, beribadat, merawat seorang suster yang kurang sehat jasmani, dan tidur.

Monotonnya film Ave Maryam teratasi dengan bayangan kelam suster yang kurang sehat jasmaninya. Ialah Suster Moniq, yang akan menyetel piringan hitam dan berjoget, tetapi bersedih hati saat melihat kuburan di depan teras. Suster Moniq, meski kurang sehat, akan melontarkan petuah kasihnya pada pendosa—ini terjadi di akhir-akhir film. Pasalnya, pendosa itu adalah Suster Maryam. Dosa yang harus ia tebus berkaitan dengan rasa cintanya. Rasa cinta yang malu-malu tak mungkin dihindari bagi Suster Maryam yang tak mengenal cinta lawan jenis. Meski begitu, ajakan dari lawan jenisnya terasa ganjil. Lawan jenis Suster Maryam tak kenal lelah pada ajakan pertama dan kedua yang ditolak dengan alasan “Sudah malam.”

Sosok yang akhirnya berhasil mengajak Suster Maryam keluar saat malam adalah Romo Yosef (Chicco Jerikho). Penonton sekalian tidak akan menyaksikan hubungan intim antara Romo Yosef dengan Suster Maryam. Kita akan mengetahui bahwa adegan mereka dipotong dan disambung dengan pulangnya mereka dari pantai. Di dalam mobil, Suster Maryam tampak kesal atas perilakunya. Ya ampun! Mereka membuat penonton berpikir singkat mengenai senggamanya mereka di pantai! Kesenangan berupa kue ulang tahun ke-40 dari Romo Yosef nyatanya hanya sesaat. Hadiah itu fana, dosa senggama yang abadi.

Ratapan dosa seorang suster sungguh menyayat. Bukan main, Suster Maryam pergi ke suatu ruang pengakuan dosa, dan dalam ruang terpisah, Romo Yosef-lah yang menjawab. Tentu itu bukan bagian yang mengejutkan. Yang sedikit mengejutkan adalah sikap Romo Yosef yang enteng-enteng saja; tidak seperti Suster Maryam yang ratapan dosanya begitu menyayat.

Ave Maryam bukanlah film religi, melainkan film drama. Lanskap gereja klasik Katholik dan peribadatan rutin yang dipimpin Romo Martin (Joko Anwar) sebatas latar, bukan intisari Ave Maryam. Untungnya, Maudy Koesnadi berdrama cukup epik. Ia telanjur lekat dengan peran perempuan yang tak bisa dibilang muda pada sinetron Si Doel, dan dalam Ave Maryam ini, ia menawarkan peran yang sama saja. Hanya saja, sebagai Suster Maryam, ia bukan kelembekan sosok perempuan yang butuh pasangan atau nihil kasih. Ia sekadar jatuh berdosa dari ajakan seorang pastor.

Share: