review film bisikan iblis 2018

Nany kecil (Aquene Aziz Djorghi) adalah Nany yang kelak memendam kepedihan. Dalam rentetan adegan awal Bisikan Iblis, Nany melihat ibunya dijerat iblis hitam hingga menimbulkan kegemaran bersembunyi di dalam lemari kayu. Sampai ia tumbuh remaja, wajah Nany (Amanda Manoppo) yang aduhai selalu memelas, dahinya mengerut, dan intonasinya kerap menerbitkan ketakutan bagi pendengarnya.

Film Bisikan Iblis (2018) besutan Hanny R. Saputra (Sajen, Di Bawah Lindungan Ka’bah) bukan sekadar film horor yang gemar menakuti para penontonnya. Tema besar seperti persahabatan remaja dan keluarga berhasil dihadirkan menjadi pelengkap Bisikan Iblis.

Bisikan Iblis diproduksi sebagai film ekranisasi, berdasarkan novel fantasi remaja berjudul Ghost Dormitory, karya Sucia Ramadhani. Farhan Noaru, penulis naskah Bisikan Iblis, mengubah genre dasarnya menjadi full of horror. Tetap ada karakter-karakter utama yang sama dari dua medium berbeda. Asrama Erly juga tetap menjadi lokasi utama segala kemisteriusan terjadi.

Latar Cirebon berhasil menorehkan sisi seram rumah Nany, rumah Bu Emil (Ayu Dyah Pasha), dan Asrama Erly. Namun, latar seram tidak didukung dengan kedatangan iblis secara konsisten. Sejak awal, iblis yang menjerat ibu Nany pastilah iblis yang akan menghantui Nany. Kenyataannya, iblis-iblis lain hadir: sosok siswi berambut pirang yang gemar memantulkan bola basket ke lantai, sosok perempuan buruk rupa yang tiba-tiba mengganggu obrolan telepon Nany di luar asrama, dan beberapa sosok berwajah jingga yang kepalanya menggedor pintu kamar Nany.

Tidak sedikit adegan yang mengingatkan kita pada film pendek Light Out. Ada pemuatan three of rules di balik pergerakan panning kamera maupun penyuntingan gambar yang cut away. Bagian yang sama persis adalah dengan mati-nyalanya lampu. Bagian yang diolah kembali yakni saat dua kali aktris utama kita melihat ke belakang, iblisnya tidak ada; saat kembali menatap cermin, iblis berdiri tetapi di sisi jauh. Saat menatap cermin untuk yang ketiga kalinya, sosok iblis berada sangat dekat dan mengedarkan kekecaman.

Bisikan Iblis merupakan film yang penuh dengan ekspektasi mencekam. Ada ekspektasi yang berhasil menakutkan dan membuat segenap penonton berteriak, tetapi ada pula yang kurang berhasil dan justru menjadi bahan tertawaan para penonton.

Plot twist di akhir film terasa asyik. Sayangnya, keasyikan itu mengandung penjelasan yang berjejal. Bermula dari bertemunya Nany dengan kawan khayalannya di perpustakaan sekolah, adegan flashback bertubi-tubi muncul saling berdesakan. Jika ada benang merah dengan babak awal, itu hanya satu: adegan ibunya Nany yang mengajak bermain si Nany kecil. Selebihnya, adegan flashback seolah kurang bertanggung jawab diselipkan di babak akhir Bisikan Iblis.

Disuguhkan kepada penonton usia 13 tahun ke atas, Bisikan Iblis punya makna kuat pada persahabatan di sekolah. Meski kerap dibilang aneh, tokoh Nany bukanlah protagonis yang gemar membenci. Nany adalah pribadi yang friendly, bahkan dengan kawan sekamarnya, Gie (Zoe Abbas Jackson), yang dipertanyakan Shila (Rebecca Klopper).

Entah sengaja terlewat atau tidak, kata ‘bisikan’ pada judul jadi kurang afdol karena bisikan yang terdengar di telinga Nany berbunyi semrawut dan tidak jelas. Bila menjunjung simbol bunyi pada film, sederhananya: perlu menguatkan kembali ‘bisikan’ menjadi lebih jelas terdengar dan memorable.

Share: