review-film-mortal-engines

Tidak ada kota yang tersisa di Mortal Engines (2018), kecuali ia yang berdiri di atas mesin-mesin dan London adalah kota paling agung. Thaddeus Valentine (Hugo Weaving) adalah komandannya. Di babak awal, Valentine menyuguhkan tontonan kelas tinggi bagi rakyat London. Tontonan itu berwujud pada pengejaran mesin butut yang tak disangka ada penduduk bernama Hester Shaw (Hera Hilmar).

Karena saking bututnya, Hester Shaw dan beberapa jelata masuk ke bawah tanah London. Mereka antre, digiring satu per satu, dan diberi impian betapa indahnya London. Hester tidak mudah percaya. Tatkala dilihatnya Valentine, pisau yang berhasil disembunyikan itu ditusuk ke perut Valentine. Tapi komandan tidak mati. Tom Natsworthy (Robert Sheehan) mengejar Hester sampai ke bagian perusakan mesin.

Hester dan Tom menjadi dua tokoh protagonis yang menyimpan sengit pada Valentine—itu setelah Hester cerita masa kecilnya kepada Tom: tentang ibunya yang dibunuh Valentine karena menyimpan sebuah legitimasi penguasaan dunia.

Tidak perlu kaget ketika petualangan Hester dan Tom sampai ke udara juga. Balon-balon dan pesawat-pesawat yang parkir di udara adalah wilayah tersendiri. Berkat Anna Fhang (Jihae) menyelamatkan keduanya di pasar lelang tempat transaksi orang asing, Hester dan Tom tidak jadi berpisah.

Masalahnya, Hester dikejar-kejar Shrike. Shrike bukanlah manusia tapi dia punya rasa, punya kenangan, dan mendendam. Dan entah apa yang dikejar Shrike ini. Selain hanya menambal masa lalu Hester, yang terasa justru Shrike ini hanya mengisi ruang yang tidak perlu saja. Shrike memang tiba-tiba. Pada masa lalu, dia tiba-tiba menyelamatkan Hester di rerumputan berair. Pada masa sekarang, dia tiba-tiba beringas setelah dikurung oleh Valentine.

Dalam tingkat kecanggihan yang paripurna, tawaran dunia apokalips pada film ini tak jemu-jemunya menyiasati penonton dengan acara baku tembak. Puncaknya, London menyerang kota yang bersembunyi di balik bukit. Valentine yang beringas itu benar-benar anti-damai. Tuntutan happy ending tentunya mempengaruhi aksi Hester, Tom, dan Anna Fhang, serta kawan seperdamaian untuk bergegas menghentikan serangan mematikan Valentine.

Ada kesempatan cinta yang rupanya tidak dilanjutkan. Katherine (Leila George), umpama. Sebagai putri kesayangan Valentine, perannya hampir-hampir mirip Shrike: sekadar menerbitkan dilema beberapa detik saja. Tidak ada lanjutan romansa antara Katherine dengan Tom. Sebagaimana tidak berlanjutnya romansa antara Valentine dengan Pandora Shaw (Caren Pistorius) di masa lalu.

Share: