review film papillon charlie hunnam rami malek

Tanpa alasan yang detil, Henri “Papillon” Charriere digeruduk aparat untuk masuk penjara. Tuduhan tak bisa disangkal Henri Charriere (Charlie Hunnam), apalagi oleh kekasihnya, Nenette (Eve Hewson), yang semalam mendapatkan surprise. Kekasih Papi—sapaan Henri selain Papillon—hanya sempat menengok Papi sekali saja. Sebab esok, Papi pindah penjara.

Papillon (2018) merupakan film yang berdasarkan kisah nyata—sebagaimana teraan pada pembuka film. Kisah nyata itu lebih dulu ditulis dalam wujud novel memoar, ditulis Henri Charriere selepas ia dituduh masuk penjara. Bukan Michael Noer yang pertama kali mengalihwahanakan Papillon ke medium film, melainkan Franklin Schaffner, pada tahun 1973, yang mengarahkan Steve McQueen (sebagai Papi) dan Dustin Hoffman (sebagai Louis Dega). Uniknya, Papillon (2018) mendasarkan skenario pada Papillon (1973) juga. Jadi, mari kita sepakati bahwa Papillon ini merupakah sebuah remake.

Namun, adakah kegentingan yang mengantarkan sutradara atau produser hingga repot-repot me-remake Papillon? Terlebih, skenario yang dibuat masih bersandar pada skenario tahun 1973. Sepertinya, sutradara kurang berkenan mengulik bagian yang belum ditayangkan pada versi pertama. Untungnya, ada pemeran-pemeran yang mau dibayar dan main sebagai orang-orang zaman perang dunia.

Durasi 133 menit (lebih dari 2 jam) belum cukup menguatkan peran Henri yang punya sikap anti-hero tapi sok-sokan butuh hero. Berkat Louis Dega (Rami Malek), Henri yang jago tengkar itu menawarkan diri sebagai pelindung selama di penjara. Dega punya satu jimat: uang yang tersimpan di anusnya. Gunanya sebagai pelicin penjaga penjara. Kendati demikian, penonton tidak akan tahu berapa jumlah nominal yang tersimpan di anusnya. Ketidakkonsistenan penawaran meruwetkan transaksi Dega, Henri, beserta pihak yang diklaim bisa membebaskannya.

Hal yang paling mengasyikkan terwujud pada kegagalan Henri dan Dega kabur dari penjara. Jika mereka berhasil kabur, itu justru menjadi bukti kecerobohan penjaga penjara. Kegagalan pertama ialah setelah Henri jauh berlari meninggalkan Dega yang capek membopong mayat yang kepalanya dipotong dengan penggilas kuno.

Kegagalan kedua ialah setelah Henri dan Dega terasingkan di pinggir laut bersama Maturette (Joel Basman)—seorang tahanan yang pernah diajak hombreng oleh penjaga penjara bertubuh tambun. Di pinggir laut itu, ada seorang suster yang murah hati dan mengetahui dari mana Henri dan Dega berasal. Cerobohnya, mengapa Dega terlalu santai singgah di situ? Apalagi satu tahanan yang mereka ajak justru mesra-mesraan di atas perahu.

Overall, Papillon telah menorehkan dramatisasinya di bagian akhir. Dega yang diasingkan di Pulau Iblis memilih menetap dan tidak ikut Henri mencari jalan pulang. Dega punya alasan sendiri untuk tinggal, seperti Henri yang juga punya alasan untuk tidak tinggal. Debur ombak ikut berperan sebagai saksi perpisahan mereka. Tidak banyak dialog yang dijejalkan di bagian akhir film. Setidaknya, mereka sudah bebas dari penjara. Dan kebebasan memberi ruang untuk merenung, bukan?

Share: