review film pendek jalan sepanjang kenangan fourcolours film

Demi merayakan hari jadinya, sekaligus meluapkan ngidam-nya, Susi (Kotty Kitikara) meminta suaminya Slamet (Adi Marsono) menemaninya seharian. Dengan mengayuh becak, Slamet tampak jengah mendengar Susi bawel minta ini-itu. Perjalanan itu tentu memaksa Slamet untuk bolos kerja tanpa diketahui Susi.

Sutradara Eddie Cahyono menawarkan film pendek drama ini dengan semi-dokumenter. Sebagai penyeimbang kegetiran keluarga baru, akan ada pemaparan dari Slamet di atas becak mengenai tingkah laku Susi. Pun sebaliknya, Susi akan menjelaskan suaminya yang pekerja keras.

Hal-hal jenaka akan timbul dan mengukuhkan cerita bahwa Slamet dan Susi merupakan sepasang suami-istri yang romantis. Sambil membayangkan bahwa mayoritas suami-istri pasti mengalami apa yang disuguhkan Jalan Sepanjang Kenangan. Misalnya istri yang ngidam es buah saat makan siang meski es tehnya belum dihabiskan dan mbesengut saat suami protes untuk menghabiskan apa yang belum dihabiskan. Permisalan lainnya antara lain pembicaraan mengenai apakah istri masih mengenang mantan kekasihnya yang bisa bikin sewot berjam-jam, kesungkanan istri pada suami yang memaksanya menerima setangkai bunga padahal istrinya sedang tidak ingin bicara apapun, dan kekesalan istri pada suami yang muntab mengata-ngatai istrinya yang rela menikahinya sebatas pelampiasan ditinggal tunangannya dan meninggalkannya untuk beli pakan burung.

Sebagai suatu komunitas yang aktif membuat film di Yogyakarta, Fourcolours Films turut memberi aksen-aksen Jogja pada Jalan Sepanjang Kenangan. Salah satunya setelah Slamet muntab di Pasar Ngasem, Susi pergi ke alun-alun demi menguji apakah ia berhasil melewati dua pohon beringin yang disakralkan. Untuk konteks modernisasi Jogja, tampak Ambarukmo Plaza pada tahun 2006 yang sebelah baratnya belum marak dibuka lahan parkir dari rumah warga.

Jalan Sepanjang Kenangan memang patut diapresiasi, tidak sebatas apresiasi film pendek belaka yang punya kedalaman pesan cinta rumah tangga, meskipun saya tonton pada tahun 2018—10 tahun setelah resmi menang di KONFIDEN Short Film Festival 2007.

Share: