Film pendek Mayar - review - fourcolours

Mayar (Ika Krismantari) pulang kampung. Menuju Jogja, dari Jakarta Selatan, ia membawa tas gitar yang berisi baju-bajunya. Dandanannya mencolok, menyiratkan bahwa Mayar sudah bukan orang desa lagi. Ke desa, Mayar rindu ibunya. Ke desa, Mayar masih punya kekhawatiran.

Kekhawatirannya berupa dua lelaki yang menyukainya, bahkan semenjak Mayar belum merantau ke Jakarta Selatan. Laki-laki pertama bernama Mas Agus (Adi Marsono), seorang laki-laki lugu dan turut serta mengampanyekan partai Pete dengan menempelkan poster bergambar pete di segala penjuru kampungnya. Laki-laki kedua bernama Mas Sentot (Ajisena), yang mudah sewot lagi berangasan, penggemar judi, dan sebagai saingan politis Mas Agus, Mas Sentot nyatanya juga mengampanyekan oposisinya partai Pete.

Mas Agus yang lebih mendapatkan perhatian penonton, khususnya saya, berhasil mendapatkan jatah waktu jalan-jalan bersama Mayar. Mas Sentot kadung gagal, padahal ia sudah membeli setangkai bunga demi Mayar yang balik kampung.

Persaingan antara Mas Agus dan Mas Sentot sebenarnya enteng-enteng saja. Namun, persinggungan dengan politik praktis itu yang tidak disegani Mayar. Lantas, Mayar memilih merantau kembali. Ke ibukota, Mayar meninggalkan ibunya. Juga meninggalkan Mas Agus dan Mas Sentot yang entah apakah keduanya mendapatkan ruang di hati Mayar.

Film pendek ini berlatar di Yogyakarta dan disutradarai oleh Ifa Isfansyah. Dirilis pada tahun 2002, kita akan melihat Yogyakarta belum begitu pikuk. Dan wajar jika perbandingan yang ditampilkan pada film ini adalah Jakarta dan Jogja. Berkali-kali, nyanyian Jawa atau sinden berhasil mengisi relung kedesaan. Tugu Jogja dan alun-alun adalah dua simbol yang mampu menerbitkan kerinduan pada Mayar saat ia dan Mayar keliling Jogja naik sepeda.

Humor-humor sederhana muncul berkat Mas Sentot yang lagaknya mudah sewot itu. Bagai pungguk merindukan bulan adalah peribahasa yang lekat dengan karakter Mas Sentot. Adapun Mas Agus, sekiranya mirip-mirip peribahasa itu. Toh, akhirnya, Mayar kembali mengabaikan mereka berdua melalui perjalanan balik ke Jakarta Selatan.

Share: