milly-mamet-review

Pernah dimuat di psikomedia.net

Bersyukurlah kalian jika agenda reuni sekolah atau sekadar kumpul dengan teman-teman satu almamater itu turut membantu kondisi asmara kalian. Mamet (Dennis Adhiswara) adalah tokoh percontohan kalian agar reuni tidak berkutat pada perbincangan karier semata. Berkat kemurahan hati Mamet, Milly (Sissy Priscillia) bisa pulang, meski seharusnya ia pulang bersama pacarnya, Rama (Surya Saputra). Adegan yang mengayemkan hati timbul saat mobil Mamet yang pernah membantu Cinta mengejar Rangga dalam Ada Apa Dengan Cinta? mogok meski sebelumnya Mamet bilang bahwa mobilnya aman.

Setelah adegan itu, Milly dan Mamet menyatu. Lupakan sejenak tentang Rama. Lupakan pula tentang Cinta dan Rangga sebab Milly & Mamet bukan tentang mereka.

Kolase foto di awal film berfungsi sebagai jembatan yang menjelaskan proses pernikahan Milly dan Mamet. Berikutnya, mereka punya seorang anak; Mamet kerja di pabrik mertuanya; Milly mengurus anak di rumah dibantu Sari (Arafah Rianti); dan berjubel dialog pengundang tawa di sepanjang film.

Komedi yang ditawarkan Ernest Prakasa memang tidak pernah tanggung-tanggung. Ibarat pertunjukan stand up comedy, dialog antartokoh punya kekhasan materi lawak masing-masing. Materi yang paling sering muncul adalah salah ucap atau plesetan kata. Demi mengisi ruang tawa itu, Ernest pun menggandeng komika-komika tanah air. Turut serta pula Isyana Sarasvati yang notabene penyanyi top tanah air berperan sebagai Rika, seorang asisten yang lugu dan freak.

Dibandingkan dengan film besutan Ernest sebelumnya, Ngenest (2015) dan Cek Toko Sebelah (2016), Milly & Mamet tidak terpaku pada masalah ras. Drama yang disuguhkan justru menyinggung tentang karier dan keluarga—tidak peduli ia dari suku atau agama apa. Tekanan drama dimulai dengan sosok Pak Sony (Roy Marten), selaku ayah Milly sekaligus mertua Mamet, yang menjadi hambatan bagi Mamet untuk bekerja sesuai passion dan membahagiakan Milly. Drama berlanjut pada lingkaran karier Mamet: Alex (Julie Estelle) yang bersekongkol dengan James (Yoshi Sudarso) untuk memuluskan usaha money laundry-nya pejabat yang pernah terlibat dalam kasus hangat.

Mamet mungkin idealis; ia tidak suka dengan cara tipu-tipu. Tidak hanya satu kali Mamet diminta James untuk bersikap tidak kaku. Pun, pilihan Milly ikut menjadi bukti kekakuan Mamet. Niat Milly yang baik terhambat sikap kaku Mamet. Misalkan saat Milly memilih untuk melakukan ‘kegiatan di luar rumah’ berupa mengurusi pabrik ayahnya, Mamet gusar. Kegusaran itu terbit karena anaknya membuncahkan tangis pada malam hari, pada waktu seharusnya ada Milly.

Polemik-polemik klise bertebaran di sepanjang film. Bukan soal peran ‘hanya suami yang kerja’ vs ‘istri boleh ikut bekerja’ saja. Milly & Mamet berhasil menghadirkan polemik yang biasanya menghiasi layar sinema eletronik di televisi: pak bos yang tinggi kolesterol, pejabat yang diam-diam main kotor, kawan lama yang kembali berkontak demi jalinan perwujudan impian lama sekaligus pengerukan keuntungan, hingga adegan sia-sia antara polisi lalu-lintas dengan Mamet yang memberi kesan bahwa sebaiknya kalian para pengguna jalan raya, selain wajib menaati peraturan lalu-lintas, juga wajib mengikuti akun medsos si polisi lalu-lintas. Termasuk keinginan Milly kembali bekerja, apakah itu benar-benar murni keinginannya, atau bosan mengurus anak, atau justru sekadar pembuktian atas kesinisan Jojo (Eva Celia), tetangga terdekatnya? Butuh pemahaman lebih dalam lagi untuk menelusuri polemik klise itu.

Sebagai penonton, apresiasi tidak perlu muluk-muluk diberikan kepada para pemeran dalam Milly & Mamet. Kita perlu bersepakat bahwa cinta tidak hanya milik Cinta dan Rangga belaka. Milly dan Mamet berhak atas cinta juga. Dan di sana, masalah karier dan rumah tangga keluarga muda adalah topik yang hangat dan selalu layak dinikmati bagi penonton remaja sampai dewasa di Indonesia.

Share: