Turtles-Can-Fly-review-film-perang

Bayangan perang, umpamanya, sudah tidak bisa lagi Anda lupakan. Saddam Hussein telah berakhir, tetapi dalam Turtles Can Fly (2004) invasi berlanjut atau paling tidak, menipis kadarnya. Permasalahannya itu tadi: bayangan tentang perang selalu ada. Mengapa selalu ada? Sebab, tenda-tenda masih berdiri, puing-puing masih mengedar di sekitar Anda, ranjau-ranjau dan tank-tank bekas selalu tampil pada setiap daya pandang Anda.

Berterimakasihlah pada Satellite (Soran Ebrahim): ia remaja yang berjiwa pemimpin, kocak, dan benci melihat Shirko (Ajil Zibari) menangis, serta memiliki ketertarikan pada perempuan sebayanya, Agrin (Avaz Latif). Satellite mengomandoi anak-anak pengungsian bertugas layaknya tawanan perang. Membantu penduduk memegangi antena teve yang panjang betul sekian meter dari masing-masing rumah adalah kebiasaan mereka. Wabilkhusus Satellite, kemampuan meng-install parabola sangat dinanti-nanti beberapa penduduk demi tersiarnya berita perang berbahasa Inggris. Sebenarnya tidak berhenti pada peng-install-an saja, Satellite juga diminta mengganti siaran-siaran maksiat dan dipaksa menerjemahkan bahasa Inggris itu agar para tetua memahami apa yang disiarkan. Satellite ngawur: ia bilang bahwa George Bush memberi pidato mengenai cuaca harian. “Sebentar lagi, hujan datang.”

Fokus lakon Turtles Can Fly juga mengarah ke Agrin, Hengov (Hiresh Faysal Rahman), dan si kecil Riga (Abdul Rahman Karim). Tiga anak ini tidak ikut bergabung ke komplotannya Satellite. Hengov yang kedua tangannya telah tiada mulanya disengiti Satellite. Namun, setelah Satellite tahu bahwa ada celah kemungkinan untuk diperhatikan Agrin, maka ia kerap berbaik hati kepada Hengov. Hengov sendiri kerap memberi tanda-tanda gila kepada komplotannya Satellite. Dan Satellite percaya itu dan langsung mengabarkan tanda-tanda gila kepada komplotannya.

Lanskap kecamuk perang di Timur Tengah berhasil dipaparkan secara dramatis dan penuh kepedihan. Bahman Ghobadi, selaku sutradara, memang asli daerah setempat. Ketika filmnya ditonton khalayak dunia, penghargaan bertubi-tubi datang padanya (cek di sini: https://www.imdb.com/title/tt0424227/awards?ref_=tt_awd). Meski begitu, penghargaan takkan mengakhiri bayangan perang. Terlebih soal anak-anak tanpa dosa. Sekian dari mereka harus mengalami amputasi tangan atau kaki atau keduanya. Satellite yang benci melihat Shirko menangis saja akhirnya meluapkan tangisnya. Bukan karena Agrin yang bunuh diri. Melainkan, tekad Satellite sendiri yang ingin menolong si kecil Riga di tengah-tengah jebakan ranjau.

Share: