Selama SMA atau waktu-waktu sebelumnya, saya belum begitu nyentrik terhadap suatu hal yang menjadi pandangan ke depan saya. Ada satu hal yang baru dan menjadi titik fokus saya setelah satu semester menjalani bangku perkuliahan. Satu hal yang tercantum dalam tridharma. Pengabdian masyarakat.

Awalnya, ketika saya sekadar tahu tentang dua kata itu, maka bayangan yang terlintas adalah semisal bakti sosial, kerja bakti, atau penyuluhan. Ternyata benar! Contoh-contoh tadi merupakan bentuk dari pengabdian masyarakat. Mengabdi untuk khalayak masyarakat.

Dua kali saya mengikuti ospek, yang pertama adalah tingkat universitas dan yang kedua adalah tingkat fakultas, sama-sama menjunjung nilai-nilai pengabdian masyarakat. Ketika ospek Fakultas Psikologi UGM dengan nama HALO PRK (Psikologi Rumah Kita), ada tamu yang merupakan mahasiswa aktif Psikologi angkatan 2009, –pada November 2013 lalu telah lulus dengan predikat lulusan terbaik se-UGM–, ia bernama Isnan Hidayat, ia menjadi pembicara dan membawakan materi tentang pengabdian masyarakat. Dibahas secara mendalam.

Kalau Anda kenal Anies Baswedan, pastilah Anda tahu soal program yang dicanangkan beliau beberapa tahun lalu. Program ‘Indonesia Mengajar’ tentu berbasis pengabdian masyarakat. Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh Indonesia yang hidup di zaman ini yang terus mengembangkan pengabdian untuk masyarakat.

Cita-cita Mulia

Sang Pengabdi! Kelak saya takkan dipanggil dengan sebutan Sang Pengabdi meskipun akan berjuang terus-menerus menjadi sang pengabdi. Cukup dengan panggilan Sevma, semoga ada waktu untuk saya untuk mengembangkan pengabdian kepada masyarakat.

Dengan berjalannya waktu dan proses pembelajaran di bangku kuliah, pun dengan kemampuan yang sudah saya miliki, saya akan terus mengabdi. Tanpa melupakan ilmu-ilmu Psikologi, tanpa melalaikan hakikat kehidupan yang sederhana.

Telah banyak tokoh yang membuat saya menjadi melek (tidak menutup mata). Semisal Anies Baswedan dan Isnan Hidayat. Juga seorang stand-up comedian Indonesia bernama Pandji yang telah membuka mata dan hati kepada masyarakat dan followers-nya (apalagi saya!) dengan bit (materi komedi) yang satir dan tweet yang edukatif. Kalaupun nanti sanggup, saya akan menjadi gabungan antara Anies, Isnan, dan Pandji. Tetapi, saya pasti sanggup menjadi diri saya sendiri untuk membawa suatu pengabdian masyarakat yang baik.

Share: