1-pelaut-ulung

Saya tidak tahu bagaimana rasanya menjadi seorang pelaut ulung. Menjadi manusia yang sudah berumur delapanbelas tahun lebih saja saya belum memahami seratus persen hakikat dari kehidupan. Bercita-cita menjadi seorang pelaut ulung itu sangat langka di negeriku. Kalaupun ada, merekalah orang-orang yang menjalankan tugas sebagai tentara angkatan laut. Bukan. Bukan seperti itu yang saya cita-citakan. Saya ingin menjadi pelaut yang bebas mengarungi samudra. Bukan beban tugas menjaga perbatasan negeri yang setiap tahun saya ketahui lebih dari seratus meter persegi malah terkikis diklaim oleh negeri tetangga.

Saya tidak bisa berenang, tidak bisa pula memancing. Kata sebagian buku tentang menikmati alam laut adalah dengan memiliki kemampuan berenang. Kalau urusan memancing itu terbatas untuk sekadar hiburan sekaligus bertahan hidup.

Dalam komik One Piece, tokoh utama bernama Luffy tidak bisa berenang. Itu dikarenakan dia memakan buah monster yang tumbuh di laut, namanya gomu-gomu. Bagi yang memakan buah langka itu maka ia akan memiliki kemampuan yang tidak akan dimiliki orang lain. Luffy memiliki kemampuan melunturkan dan memanjangkan tubuhnya sehingga ia disebut dengan manusia karet. Apakah di alam nyata ini ada buah monster yang tumbuh di laut? Saya merasa ingin mencarinya.

Saya bukan orang pinggiran daratan. Maaf, apabila pembaca sedikit kebingungan. Saya ganti saja: Saya bukan orang pantai. Saya rasa itu lebih baik. Ya, saya hanyalah orang yang berada di desa sejak kecil hingga berumur delapanbelas tahun. Sesekalinya saya berlibur ke pantai, saya hanya melihat beberapa nelayan yang telah pulang menepi dari laut membawa ikan hasil tangkapan. Andai saja saya berlibur ke pantai pada malam hari. Suatu saat mungkin. Saya akan ikut bersama para nelayan. Aduh, tapi bukankah saya tidak bisa memancing? Pasti saya justru merepotkan mereka. Apalagi itu urusan pekerjaan. Urusan kehidupan dan pencarian nafkah.

Saya tidak pernah membayangkan betapa nikmatnya menjadi pelaut ulung. Yang bebas tanpa sekat-sekat tekanan kehidupan. Tak terbatas oleh lika-liku rumitnya perjalanan pikiran dan perasaan. Saya pasti bisa mengarungi samudra luas. Sendirian pun tak mengapa. Yaahhh, minimal untuk saat-saat ini saya berdoa agar Tuhan memberikan mimpi tidur saya berupa perjalanan pelaut ulung. Semoga.

Sebuah fiksi oleh saya yang diciptakan tanggal 12 Februari 2014, malam hari. Sambil tersenyum.

Share: