Saya masih tidak tahu dimana letak perasaan itu berada.

Saya masih tidak tahu dimana letak perasaan itu berada. Walaupun saya pada tahun 2014 ini sudah jarang mendengar jawaban beberapa orang yang kalau ditanya, “X mau kemana?” atau, “Benda XX ditaruh dimana?” maka jawaban yang terlontar justru “Di hatimu.” Benar sekali kok, sudah jarang. Tidak sesering waktu booming.

Benarkah perasaan ada di hati? Kalau iya, buktikan! Apakah benar ada di hati? Kalau memang benar, maka kalau misalnya seseorang yang punya perasaan yang terletak di hati kemudian hatinya dibedah, seyogyanya perasaan yang dipunyainya itu seharusnya keluar dari dalam hati. Itu berlaku untuk perasaan yang berada di dalam hati. Sama dengan jika perasaan berada jantung. Bisa dibuktikan dengan membedah jantung dan melihat apakah benar ada perasaan di organ tersebut.

Saya masih tidak tahu secara pasti tentang hakikat perasaan. Tapi saya bisa merasa sekaligus merasakan. Semoga pembaca juga bisa ikut merasakan, bukan cuma merasa saja. Sama seperti kata dengar, kita seyogyanya melakukan mendengarkan, bukan cuma mendengar. Intinya juga diutamakan kata predikat beserta akhiran –kan itu.

Saya tahu bahwa perasaan bisa timbul dari mata. Orang yang kurang cantik pada tahun 2040 bisa dianggap cantik oleh laki-laki yang telah memendam perasaan sejak lama. Pasalnya boleh jadi laki-laki itu menilai si kurang cantik justru sebagai wanita yang cantik pada tahun 2005, gara-gara matanya. Sampai kemudian mengiringkan perasaan bersama tahun-tahun yang berpuluh-puluh ternyata si cantik tetap cantik bagi si laki-laki. Kalaupun memang ditanya jujur sejujurnya kepada laki-laki dengan kaitan matanya itu, bisa saja ia menjawab bahwa ternyata betul juga kalau orang cantik itu menjadi kurang cantik semenjak tigapuluh lima tahun yang dulunya dilihatnya cantik. Melalui kejujuran matanya.

Perasaan juga bisa timbul telinga. Suara merdu tidak hanya dimiliki orang cantik. Suara sumbang juga bisa dimiliki orang kurang cantik. Tak bersuara juga bisa dimiliki siapa saja.

Saat ini, saya masih tidak tahu letak perasaan itu. Ia bisa timbul dari organ apa saja. Memang yang paling bahaya menurut saya adalah jika timbulnya dari mata. Yakni akan dirasakan sebatas apa yang dilihat. Otak sangat wajib untuk ikut serta menentukan perasaan yang akan ditumbuhkan. Maka yang akan dirasakan bukan sebatas yang dilihat, melainkan juga yang dipikirkan.

Oh, para pembaca yang budiman, adakah kalian tahu dimana letak perasaan sebelum dan setelah ia mengakar? Adakah pilihan lain selain jawaban di hati atau di jantung? Sepertinya tidak ada, ya?

Oke, ya sudah. Biarkan saya tidak tahu dimana letak perasaan itu berada. Semoga saja kita bisa mengatur perasaan dengan baik. Serta menimbulkannya dengan baik dan kebaikan.

Bukan sebuah fiksi melainkan masih satu cerita sambungan dari serial Saya oleh saya yang diciptakan tanggal 19 Februari 2014, malam hari. Sambil tersenyum dan masih berpikir.

Share: