SAYA PUN JUGA BERADA dan BERCERITA DI kerumunan itu

Setiap langkah kaki bergerak gontai, saya seakan-akan mengingat bahwa ternyata saya telah dimata-matai. Ada satu cerita setiap langkah kakiku mulai bergerak lambat. Cerita yang lain bermunculan setelah langkahku dinilai memuakkan. Kerumunan itu meluap-luapkan amarah bahwa yang saya ceritakan selama ini adalah kosong, nihil, dan tidak utuh.

Saya memulai setiap cerita dengan diri sendiri. Tak pelak, saya mengakui keberadaan yang lain sebagai bumbu harmoni dalam cerita saya. Menyoal gurau dan mendandani pikir merupakan sarat makna dalam tubuh cerita saya. Tidak semua dari yang lain paham, tidak semua dari kerumunan itu terkoneksi. Saya juga paham bahwa sebuah cerita hanyalah menjadi usang ketika hanya diri sendiri yang menikmati. Namun, saya tidak takut. Saya menyimpan kisah pribadi sebagai kisah rahasia. Saya menyebarkan kisah keren untuk yang lain. Saya bahkan bercerita di sekitar kerumunan itu.

Apalagi yang perlu diresahkan? Banyak sekali, saya rasa. Setiap langkah kaki mulai bergerak normal, saya seakan-akan terngiang bahwa saat ini saya tidak sedang sendiri saja. Ada orang-orang yang tertawa, bersedih, berbahagia, atau biasa saja terhadap kisahnya masing-masing. Peristiwa haru bisa saja diubah menjadi komedi. Peristiwa memalukan tentu bisa dianggap sebagai kebahagiaan. Semuanya bisa diubah, sesuai selera dan cinta yang melewatinya.

Setidaknya ada satu hal yang akan saya utarakan di sini soal cerita saya. Hal itu ialah bahwa saya mungkin lelah untuk bercerita tetapi saya tidak akan pasrah begitu saja untuk mengkaryakan cerita. Kalau perlu, saya pun harus berada di kerumunan itu untuk terus bertukar resah. Kalau memang dibutuhkan, saya benar-benar harus berada di kerumunan itu agar cerita saya tidak selalu kosong, nihil, dan dapat berubah peran menjadi karya yang utuh seutuhnya.

4.15

1910.2014

Share: