Saya Sudah Merasa Bosan dengan Tempat Kelahiran Saya Sendiri

Saya lahir di Yogyakarta. Sejak kecil, hidup saya ditopang di tempat kelahiran saya sendiri. Lebih dari 19 tahun, mulai dari sekolah hingga kebutuhan fisiologis saya tercukupi. Ingin sesekali saya berlalu dari kota ini dan kabupaten yang ada di sini. Saya merasa bosan. Saya ingin berpetualang sekaligus bertempat tinggal di tempat lain, kalau perlu, di negeri lain, negeri yang indah dan sanggup mengenalkan kebaikan yang lebih banyak.

Tentu tidak hanya saya yang mendambakan berkelana di negeri lain. Saya rasa mereka-mereka juga bosan. Padahal, toh, ketika saya sudah berada di negeri lain itu, boleh jadi banyak penghuni yang merasa bosan tinggal di negeri itu. Saya berencana ke negeri mereka, namun mereka justru bosan tinggal di negeri mereka. Atau mungkin saja mereka ingin berkelana ke negeri saya. Timbal balik atau resiprokal bisa saja terjadi.

Rencana saya memang ingin bertempat tinggal di negeri lain, bukan di negeri sendiri. Saya ingin belajar banyak hal bukan dari negeri saya sendiri. Saya ingin universal dalam memahami kehidupan. Ada yang bilang, “Seseorang hidup makmur di negeri lain dan seseorang itu enggan untuk kembali ke negerinya, maka dia itu tidak peduli terhadap negeri kelahirannya. Membebalkan!”

Bagi saya, hal itu cukup dengan perbuatan saja. Menurut saya, kalaulah saya hidup makmur di negeri lain dan enggan kembali ke negeri asal, saya bisa membuktikan kepedulian saya. Saya bisa menyumbang. Saya pun bisa mengenalkan negeri saya kepada orang-orang di negeri lain. Atau, kalau saya sudah merasa bosan tinggal di negeri lain, saya pun bisa kembali ke negeri kelahiran saya yang lebih dulu memmbuat bosan.

Share: