Saya tidak berkeinginan mati bunuh diri.

Saya tidak berkeinginan mati bunuh diri. Saya juga tidak mau terbunuh. Sepastinya, saya juga belum pernah merasakan kematian. Sekalipun saya belum siap untuk menghadapinya, tetapi saya yakin tidak akan ada satu orang atau sekelompok orang yang mampu menebak jadwal kematiannya ataupun kematian yang lain.

Ketika seseorang membicarakan kebahagiaan dengan kawan-kawannya, maka para pendengar cerita itu seakan-akan bisa ikut turut berbahagia dan seolah-olah mencoba-coba untuk membayangkan apa yang dialami si tokoh pencerita. Apakah sama akibat jika yang diceritakan bukanlah kebahagiaan? Apakah sama ketika yang diceritakan justru tentang kematian? Ketika seseorang membicarakan kematian dengan kawan-kawannya, benarkah para pendengar cerita itu turut serta dalam merasakan keharuan pada kematian atau bisakah mereka membayangkan bagaimana kejadian saat kematian datang?

Merinding memang kalau kita jarang membicarakan ajal. Saya sendiri selalu mencoba untuk mengingatkan kematian kepada diri sendiri. Pepatah orang Jawa terungkapkan, “Urip kuwi mampir ngombe,”  yang memiliki arti harfiah bahwa hidup itu singgah sejenak untuk minum.

Hidup ini singgah sejenak. Mati bunuh diri bukanlah cara yang tepat untuk mengakhiri dari persinggahan sejenak itu, bagi saya. Tempo kehidupan sudah dijadwalkan, tempo kematian juga sudah. Itu terserah pada Tuhan, bukan campur tangan manusia untuk menjadwalkan secara sengaja. Orang yang telah mati dengan membawa hakikat kehidupan secara sempurna atau minimal nyaris sempurna maka dia telah mati secara tidak sia-sia. Lah, kalau dengan bunuh diri, bagi saya, hakikat kehidupan yang telah dicernanya menjadi minus, berkurang jauh drastis.

Vincent van Gogh, seorang pelukis terkenal, dulunya sempat bunuh diri. Saya ulangi tiga kata terakhir kalimat tadi: sempat bunuh diri. Atau kalau pembaca merasa ingin diperjelas maknanya maka sebaiknya baca kalimat setelah ini. Vincent van Gogh, seorang pelukis terkenal, dulunya sempat bunuh diri pada tanggal 27 Juli 1890, namun ia justru mati dua hari kemudian. Beberapa waktu berselang setelah menembakkan pistol ke arah dadanya, saudaranya yang punya nama Theo menyelamatkan dan membawanya pulang serta memanggilkan dokter untuk merawatnya. Van Gogh merasa gagal menjalani dunia kesenian, selama 37 tahun saja ia hanya mampu menjual satu lukisan. Ia berkarya secara maksimal justru selama masa-masa sebelum kegagalan bunuh dirinya. Sayangnya dirinya justru telah mencoba menyakiti diri dengan tembakan pistol.

Beruntunglah, kakak iparnya membawa lukisan-lukisannya ke Amsterdam sehingga kemudian dijualnya dan lahirlah nama Vincent van Gogh sebagai pelukis terkenal. Sayang ia harus mencoba untuk bunuh diri sebelumnya. Van Gogh menyengajakan diri untuk mati dan tidak menyerahkan kepada Tuhannya.

Saya beranggapan bahwa boleh saja kita mendambakan untuk menyejajarkan nama atau profesi seperti Van Gogh. Akan tetapi, untuk urusan akhiran dari tempo kehidupan jangan pernah mencoba untuk bunuh diri. Segera milikilah kalimat yang sekiranya belum pernah dicamkan, “Saya tidak berkeinginan mati bunuh diri.”

Bukan sebuah fiksi melainkan masih satu cerita sambungan dari serial Saya oleh saya yang diciptakan tanggal 14 Februari 2014, pagi hari. Sambil tersenyum.

Share: