JD Salinger The Catcher in the Rye

Aku sempat stuck berada di bab-bab akhir, Holden. Bukan apa-apa. Aku hanya sedikit ketakutan kehilanganmu. Sosok jujur, tidak taat aturan, nyentrik, gila-gilaan, dan penuh empati. Aku bingung setelah kau rampung. Aku harus ke mana?

Aku ingin bertemu denganmu jika kau benar-benar ada. Kau berhasil membawaku ke New York. Kau berhasil menorehkan wawasan tentang kebelingsatan orang-orang sekitar. Kau muda dan berbahaya. Tapi kadar bahaya yang kaupunya tetap bisa kaukondisikan. Kau cinta adikmu perempuanmu. Kau rindu adikmu yang lain, yang sudah meninggal.

Kemunafikan. Banyak sekali kemunafikan yang kaulihatkan kepadaku. Aku benci itu. Dan orang-orang melakukannya. Mereka yang suka mengawali pidato dengan banyak terima kasih, mereka yang gemar memendam makian di hadapan rekan atau lawan yang tertunda.

Holden, kau ajarkan aku untuk menunda dewasa. Mungkin untuk menyelamatkan anak-anak juga. Tapi aku tahu, hidup harus berlanjut. Lingkungan memaksa, dan tak pernah berhenti memaksa.

Aku akan merindukanmu. Rindu saat kau mengajak nikah kawan baikmu dan hidup jauh dari kota. Kau ditolak dan aku terbahak. Payah juga kau, Holden! Aku juga akan rindu saat-saat kau menyelinap rumahmu sendiri, demi menemui adikmu, Phoebe. Adikmu seperti adikku. Kami tidak akur, tapi sayang betul. Kami juga kadang-kadang gila.

Sebetulnya kau ini hidup di keluarga kaya, kan? Kau bisa berpindah-pindah sekolah. Meski, yah, kau memang payah soal perempuan. Aku sarankan kau belajar, belajar penuh perhatian, dari kawan sekamarmu itu. Kawan yang pernah menghajarmu. Haha! Kau cemburu kan kalau dia mengajak melakukan hal yang aneh-aneh bersama Jane. Kau mungkin tidak suka Jane. Tapi Jane kawan kecilmu. Kawanmu yang lucu. Main dam-daman? Apalagi tuh…?

Di balik rinduku padamu, aku sebenarnya ingin ngobrol barang sebentar dengan Salinger. Kau kenal dia? Dia yang menulismu, Holden!

Kau tahu, Holden? Jika aku ditakdirkan menjadi penulis (aku benci kata ‘ditakdirkan’ pada kalimat ini), aku akan menyebutkan nama Salinger sebagai orang yang memengaruhiku. Kalau nanti tulisanku, karya panjangku, atau yang bisa kaubaca itu dinilai banal, aku mohon maaf sebesar-besarnya. Di saat seperti itu, aku gagal menjadikan Salinger menjadi panutan. Haha!

Konon, si Salinger itu pemurung? Setelah menulismu, dia nggak begitu produktif. Aku takut yang seperti itu. Yah, walaupun royalti menulis nggak besar-besar amat, pasti Salinger kecukupan untuk hidup di Amerika, kan?

Holden… Kau jangan tumbuh dewasa, ya! Aku serius. Aku ingin menemuimu di lain laman. Atau setidaknya, jiwamu tumbuh di karya-karya lain. Atau mungkin kau menjelma dan bakal menjadi sobat baikku. Luhur betul kalau kita bisa ngopi-ngopi dan cerita apa pun. Mungkin kau akan mengecualikan cerita nabi-nabi dan kudeta presiden.

Kau bukan bocah vandal, Holden. Aku juga. Masalahnya, kau benci dengan film. Film tahun segitu mungkin ya ala kadar juga, sih. Dikit-dikit pelukan, ciuman, atau yang bikin geli lainnya. Aku juga sering membenci film. Apalagi film menye. Aku selalu dibuatnya ngekek. Miris juga sih kadang-kadang. Miris, kenapa ada yang nyaman dengan kemenyean, ya?

Aku sudahi saja, ya, Holden. Aku harus bekerja. Kau benci kata itu, kan? Haha! Anjir betul… Bekerja…

Salam uhuy!

Dari Sevma, di Jakarta. Buat Holden dan Salinger.


3 kutipan favorit The Catcher in The Rye

  1. hlm. 27

    … Menurutku, yang namanya buku dahsyat adalah, yang begitu selesai dibaca, kita lantas berandai-andai bahwa si penulis cerita tersebut adalah teman baik kita sehingga kita bisa langsung telepon kapan pun kita mau.

  2. hlm. 262

    “Ini yang ia katakan: “Mereka yang belum dewasa adalah yang bersedia mati demi memperjuangkan satu hal, sementara mereka yang dewasa justru bersedia hidup dengan rendah hati memperjuangkan hal itu.”

  3. hlm. 295 (kalimat terakhir)

    … Jangan pernah cerita apa-apa pada orang lain. Begitu kalian bercerita, kalian akan mulai merasa merindukan orang lain.

Share: