Laki-laki yang dimaksud pada judul tulisan ini adalah saya. Dan sebelum kamu membaca tuntas serta menutup laman blog saya ini, lebih baik saya utarakan bahwa tulisan ini memiliki 2 judul alternatif:

  1. Sebuah Ulasan mengenai Toko Buku Online Mizanstore
    dan
  2. Sudahkah Kamu Membaca Buku-buku yang Kamu Beli atau Saya Beri atau Dia Beri atau Kamu Lebih Memuja Televisi dan Gawai Terkini?

*

Karena ulasan bersifat bebas, maka saya tidak ingin mengulas seperti cara orang lain mengulas. Maka dari itu, izinkanlah saya menjadi pribadi yang baik dan menjunjung tinggi bahasa-bahasa yang kerap ditulis di karya sastra. Kamu pun sudah saya beri tahu bahwa tokoh dalam ulasan adalah saya—sendiri. Sedangkan tokoh ‘kamu’ berarti pembaca—sekalian.

Maret hampir berakhir = April akan menyingsing. Saya punya rencana yang tidak pernah ada dalam daftar rencana sebelum-sebelumnya, baik bulan yang telah berlalu atau tahun yang telah berlalu: membeli buku-buku di toko buku online Mizanstore. (Jamak buku sebaiknya diartikan mborong.) Prinsip membeli buku sepertinya terjalin karena hobi saya sesimpel malaikat pemberi wahyu yang menitipkan mukjizat kepada Nabi Muhammad: Iqro’… Bacalah…

Ya, hobi saya, mungkin juga sama sepertimu, adalah membaca buku. Kalaupun terbit kegemaran menulis (seperti menulis hal-hal yang aneh tapi tidak patut dipandang remeh, perjalanan singkat bersama satu dua kawan, dan ulasan buku dan ulasan film alternatif maupun mainstream) itu akibat dari kegemaran membaca.

“Begini kira-kira alurnya,” tukas saya kepada kamu. “Membaca – Menulis – Membeli – Membaca – Menulis – Membeli – Membeli – Menulis – Membaca – dan secara acak tiga kata kerja itu akan bergantian menjadi siklus literasi.”

“Kita, sebagai manusia, bisa menambahkan kata ‘Memberi’ sebagai kata kerja aktif. Maksud saya jelas, memberi buku kepada seseorang atau beberapa orang,” saya menambahkan, agar siklus literasi terlihat dan terbaca lebih jatmika.

*

Maret berada di minggu terakhir = April bersiap mengedarkan senyumnya. Rencana saya pun tiba: 28 Maret 2018, saya berselancar (secara konotatif) di mesin pencari, menulis Mizanstore.com di kolom alamat, mengeklik Enter, menulis beberapa buku incaran terbitan Mizan. Buku-buku yang saya beli di antaranya:

  1. Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi, karya Eka Kurniawan
  2. Puisi-puisi Cinta, karya WS Rendra
  3. Luka dalam Bara, karya Bernard Batubara
  4. Jokowi, Sangkuni, Machiavelli, karya Seno Gumira Ajidarma

*

Buku-buku yang saya pesan datang kurang dari seminggu kemudian. Mereka datang ke kantor saya dalam tas plastik putih.

Konon, setelah proses pemesanan menyulut kesuksesan dan pembayaran memburu-burui saya, informasi di web Mizanstore menyetorkan kabar bahwa buku-buku yang saya pesan memiliki berat lebih dari 1 kg. Bukannya sebatas 4 judul belaka dan tidak ada 1 judul pun yang berupa novel setebal Aroma Karsa-nya Dee Lestari atau serial Percy Jackson? Memang bukan. Permasalahan yang sebaiknya kamu tahu ialah bahwa saya menjamakkan pembelian buku kumpulan cerpen Eka Kurniawan sebagai hadiah bagi teman-teman yang sengaja ingin melawat ke indekos saya di bilangan Lenteng Agung-Jagakarsa.

*

April sama seperti Maret dan bulan-bulan lainnya. Ia memiliki penghujung dan akhir. Sementara buku-buku yang saya beli di Mizanstore masih tergeletak di samping kanan kasur saya—menumpuk bersama buku-buku yang lain, yang mangkrak dan mandeg dibaca maupun yang belum rampung dibaca. Tugas saya (selain membaca buku dan menulis), kali ini, adalah mengantarkan buku-buku yang sudah saya rencanakan untuk saya berikan sebagai hadiah paling indah, takzim, dan jatmika.

Berikut kronologis terbaik dalam pemberian buku-buku kepada kawan kerabat saya:

  1. Sabtu, 28 April 2018

Saya melawat ke Jogjakarta, mengunjungi kembali almamater saya. Saya menengok Badan Kegiatan Mahasiswa (BKM) yang pernah saya ikuti: Psikomedia. (Psikomedia ini sedang berulang tahun. Pada tanggal 21 April 2018, Psikomedia ganjil berusia 31 tahun. Sayangnya, tidak ada keriuhan di minggu-minggu hari jadinya. Sabtu pagi itu, Psikomedia tutup. Padahal, Minggu besok, Psikomedia ada perayaan dan saya hendak kembali ke ibukota untuk mengucurkan keringat kerja dan meninggalkan ibu dan Psikomedia.)

Gambar tersebut merupakan dua bingkisan seada(-ada)nya karya saya; hanya berbalut karet bekas (pembelian sayur mayur lauk pauk dari warung Tegal) yang turut merekatkan koran bekas (yang bertumpuk di kantor saya) supaya membungkus buku-buku.

Saya menitipkan dua bingkisan untuk Psikomedia dan BKM sebelahnya (LM Psikologi (BKM arus utama di fakultas saya)) ke perempuan adik angkatan yang tengah sibuk di BKM sebelahnya LM Psikologi (Keluarga Muslim Psikologi (BKM yang 100% beranggotakan mahasiswa beragama Islam di fakultas saya)).

Dua hari kemudian, saya dikirimi foto yang menyuratkan bahwa buku-buku yang saya beli di toko buku online Mizanstore telah sampai, telah dibuka, dan katanya, “disukai awak-awak Psikomedia”.

Kepada Psikomedia, saya tidak berusaha memberi buku-buku berkonten pers atau nonfiksi yang serius dan mampu menerbitkan wawasan mendalam mengenai kata-kata atau negara.

Adapun kepada LM Psikologi, saya justru berusaha memberi buku yang semoga-ringan-dibaca berjudul Jokowi, Sangkuni, Machiavelli karya Seno Gumira Ajidarma dan kumcer karya Eka Kurniawan.

  1. Selasa, 1 Mei 2018

Hari Buruh Internasional adalah hari libur. Hari itu, satu eksemplar kumcer Eka Kurniawan diterima Aliza yang kadung bermain ke indekos saya dengan tujuan alternatif: meminjam kabel pengisi baterai untuk mengisi ulang baterai gawainya yang mana kabel miliknya tidak sengaja dibawa kolega sekantornya.

Yah, semoga, Aliza, yang bekerja terlampau sibuk sampai-sampai hari Sabtu tidak dianggap lembur, bahagia dan memiliki waktu baca yang signifikan di hari-harinya, di ibukota, maupun non-ibukota.

  1. Rabu, 9 Mei 2018

Yang terakhir, teruntuk sahabat perempuan yang bisa dibilang dekat saja tidak, jauh pun mungkin-mungkin iya, saya sudah sejak lama hendak memberinya kenangan berupa buku. Namun, sahabat saya yang kini sibuk bekerja di dunia perbankan ini telah berhasil menanamkan semangat dan optimisme ketika saya sedang malas-malasnya melanjutkan penulisan skripsi saya yang ambil data sudah lama, tapi kehidupan luntan-lantung melanda, dan tinggal nunggu jadwal sidang jika tuntas bab satu sampai lima. Beruntung, Agustus 2017 itu, tatkala saya duduk-duduk di atrium kampus sambil berselancar (masih bermakna konotatif) di depan laptop, sahabat saya yang satu ini ke luar dari ruang akademik: dia baru saja mengurusi ketuntasan masa studi strata satunya. Dia, kemudian, duduk di depan saya. Kami bertegur sapa dan beginilah saya ketika bertemu dengan sahabat seangkatan yang pada akhirnya lulus (dan lulusnya lebih dahulu daripada saya): memohon doa. Klise? Lha, iya. Namun, setelah memohon doa itu, beberapa penggal perkataannya memunculkan benih-benih yang berfungsi untuk melanjutkan penulisan skripsi saya yang telah menggantang tanpa asap.

*

Begitulah kiranya saya menuturkan kisah saya sendiri sebagai laki-laki yang membeli buku secara online. Semoga kamu-kamu dan dia-dia sanggup bertambah akan wawasannya, terlebih soal tahap paling aduhai menjadi pemberi buku-buku cinta (ataupun non-cinta).

Sebagai tanda terima kasih, saya ucapkan terima kasih kepada Mizanstore yang kerap mengadakan diskon-diskon yang terlampau uhuy dan cihuy. Semoga dan selalu saja, Mizanstore menjadi garda terdepan di bilantika perbukuan Nusantara dan dunia.

(Mungkinkah dunia? YA! PASTI!)

Because of the tagline: Where Books are a Click Away.
Memudahkan, dan menyenangkan.

Share: