sekat pertemanan

Terlalu banyak caci maki, terluap lupa pada banyaknya rasan-rasan. Digambarkan seolah beda dari yang lain. Dijalani benar-benar untuk menjadi gerombolan yang satu visi. Samanya minat terkoneksi tetapi sinyal bakat menghargai tak diurusi. Orang-orang bergerombol menyendiri dari gerombolan yang lain. Saya menyendiri dari para gegerombol. Gerombolan mengecam, gerombolan yang lain mangancam. Aduhai, saya tak berani macam-macam.

Setiap delik mata menyayat setiap pandang dari kubu yang lain. Beda rumpun, maka beda darah. Beda darah, maka halal dihina. Itu menurut mereka. Bagi saya, toh sama saja. Kita semua sama-sama menghirup oksigen, bukan menghirup darah yang lain!

Polahnya meninggikan otot leher. Meneriakkan sebuah kalimat memakai tanda seru. Berulang-ulang, tak henti-henti walau sudah saatnya pulang. Tidak ada keberanian sejati yang layak disebutkan. Pun tidak pantas menyebutnya pahlawan zaman sekarang. Merekalah yang pantas disebut kerumunan yang lupa, yang tidak saling jaga, yang tidak sarat makna pada yang selainnya. Inilah sebuah momen yang sudah diduga perpecahannya.

Sebuah batas yang tergaris oleh pemikiran. Anda injak, bersiaplah disayat. Anda berpolah, bersiaplah tak bergerak. Disayat tanpa mampu bergerak dilakukannya karena tidak ada kesepahaman. Juga tidak ada saling pengertian. Paham-paham mengungkung untuk menjaga entitasnya masing-masing. Sepertinya, inilah visinya. Dimanakah nuraninya? Bagi mereka, tidak ada yang hina kecuali gerombolan mereka.

Melihat alurnya memang membosankan, apalagi tokohnya. Sangatlah ramai. Ada yang baku hantam. Ada yang serang batin di belakang. Ada yang lupa. Ada yang gila. Ada yang lupa dan gila. Semuanya memasukkan dirinya pada kategori manusia yang berkerumun. Tidak ada kebersatuan sekalipun sering menggelakkan canda soal kesatuan.

Coretan dalam hati menandakan sakitnya batin tidak termaafkan. Permohonan maaf setahun sekali hanya sebagai rutinitas. Benaknya tidak memahami. Relungnya tidak meresapi. Masih ada sekat perihal maaf. Selalu ada sekat soal pertemanan. Mengaku baik namun tak sanggup menebar kebaikan. Menilai salah pada yang lain namun tak ada usaha memperbaiki yang telah dinilainya. Lupa! Dimanakah nuraninya? Bagi mereka, nurani itu harus tampak pada gerombolannya saja. Saling menjaga hanya untuk kerumunannya saja. Saling gandeng sebatas pada lengan-lengan di sekitarnya saja. Yang berbeda, layak dibedakan. Yang dibedakan, dibiarkan dientahkan dilenyapkan. Lupa!

Inilah ini yang disebut peristiwa. Saya sebagai saksi dan pengulas berita. Memperingatkan dengan tulisan sederhana tanpa kecongkakan. Semoga tidak hina. Hanyalah digarap setelah memendam sajian dingin soal buruknya perilaku manusia. Inilah ini yang disebut peristiwa. Peristiwa tentang sekat pada pertemanan.

 

1508.2014, 8.12 PM

Share: