Aku pernah berdoa dan tidak dikabulkan. Orang-orang di sekitar–aku jamin–juga pernah seperti itu: kerap berdoa dan tidak kunjung dikabulkan. Setakzim apapun!

Tapi, pernah pula aku sesekali malas berdoa, hingga merentet dan berubah pola: berkali-kali aku mulai jarang berdoa. Hei! Ini gawat! Aku merasa gawat. Aku mencoba berkabar baik-baik saja waktu itu. Mencoba, dan pada akhirnya kelu juga benak ini lama tak berdoa.

Oh, boy… I don’t know why… Seharusnya aku tak terlalu banyak ceramah soal doa. 

Berapa usiaku? Lebih dari 20 tahun!

Usiamu?

Usiamu kerap kamu sisipkan doa? Selalu samakah sisipan doa itu di setiap kali usiamu bertambah?
Oh, man… Seharusnya tulisan ini jangan dibuat terlalu puitis…

Sebagai mahasiswa psikologi, nih…, aku enggan menjadi seorang penulis yang dengan gamblang menjelaskan tentang cara hidup yang positif, penuh kebermaknaan, empatetik, atau apalah itu. Aku nggak bisa, men…
Oh. Coba kembali ke topik doa.
Jadi, besok pagi, doa yang bagaimana yang harus aku lantunkan?

Semuanya? Perkara hidup dan mati?

Atau, sebagian sahaja? Perkara hidup atau perkara mati?

Kalau soal karir, itu termasuk perkara hidup, kan? Soal jodoh, soal jodoh? Juga sama seperti soal karir? 

Lalu, perkara mati terwakili pada soal-soal apa saja?
Oh, dear……

Tidak bisakah aku akhiri semua paragraf ini dengan damai?

Ya enggaklah! Ini serius! Soal masa depan. (Masa depan yang mana?)
Masa depan?

Masa lalu?

Bukan keduanya? Alias masa saat ini?
Coba, ya, yuk kita coba. 

Kita haturkan doa melalui jalur lisan. Atau acapkali, bolehlah kita goreskan melalui jalur penulisan. 
Lalu… Setelah itu… Atau… Selebihnya… Biar Tuhan yang Menetapkan…

Share: