seminar fiksi hal bahagia

Hal apakah paling membuatmu bahagia? Berapa lamakah hal paling bahagia itu berlangsung? Sanggupkah hal paling bahagiamu berubah drastis menjadi hal buruk atau bahkan hal paling tidak bahagia?

Perkenalkan, nama saya adalah Saya. Kali ini saya sebagai Pembicara akan mengemukakan beberapa pengalaman saya yang menurut saya itu adalah hal bahagia. Di akhir cerita nanti, akan saya ceritakan hal paling bahagia yang pernah saya alami.

Sebelumnya, selamat pagi para Pembaca! Semoga jawaban ‘Luar Biasa’ tidak keluar dari pita suara Anda. Saya sudah bosan jika setiap kali Seminar Fiksi diadakan, jawaban audiens berbeda dari kalimat sapa yang saya ucapkan. Untuk ke depannya, saya mohon kepada khalayak Pembaca untuk menjawab sesuai dengan kalimat sapa dari saya. Selamat pagi, ya dibalas dengan selamat pagi, bukan hanya dengan “Pagi…” saja. Kata selamat di awal mengandung doa, menurut saya.

Baiklah, saya mulai di kisah bahagia saya yang pertama.

Waktu itu, saya berumur tujuh tahun. Tahun pertama saya masuk sekolah. Sebelumnya saya tidak bersekolah, tetapi hanya didaftarkan di suatu taman kanak-kanak yang penuh dengan permainan. Bagi saya, TK bukan sekolah. TK itu taman. Kalau TK itu disebut dengan sekolah, maka seharusnya singkatan taman kanak-kanak diubah menjadi sekolah kanak-kanak. Tanpa taman tentunya.

Oke, kembali fokus. Ketika awal-awal masuk sekolah dasar, saya masih merasa canggung, lugu, dan kurang nakal. Berbeda dengan beberapa sahabat TK yang sekarang satu kelas dengan saya. Mereka mungkin tidak berpikir sejernih pemikiran saya. Saya canggung karena meja di kelas ini jauh berbeda dengan meja di TK, jauh lebih tinggi. Bahkan lebih dari dua kali lipat. Kemudian, meja-meja yang ada di seantero ruangan kelas ini berwarna sama. Semuanya cokelat. Kalau meja-meja di TK jelaslah tidak hanya satu warna, misalnya ada warna merah, biru, merah muda, kuning, dan hijau. Malahan tidak ada meja berwarna cokelat di TK saya.

Di sisi lain, saya merasakan hal yang ganjil. Saya menduga bahwa akan terjadi hal bahagia. Yakni, tentang kehadiran guru baru.

“Anak-anak, sekarang kalian telah berada di kelas satu SD. Di SD, sudah tidak ada lagi meja-meja kecil berwarna-warni, sudah tidak ada lagi taman permainan seperti ayunan, jungkat-jungkit, dan prosotan,” guru baru menerangkan dengan lantang tetapi tetap menyenangkan.

“Bu, bolehkah saya bertanya?” saya mengisi jeda interaksi murid-murid baru dengan guru itu dengan pertanyaan yang sangat penting. Guru baru menyilakan. “Siapa nama bu guru?” saya mengucapkan agak malu-malu.

“Oh. Iya. Maaf. Nama bu guru adalah Bu Laura,” guru baru itu menyunggingkan senyum untuk murid-murid barunya, namun durasi waktu senyumnya lebih lama mengarah kepada saya. “Terima kasih sudah mengingatkan. Siapa namamu, nak?”

Saya menjawab cadas tetapi tetap menyenangkan, “Nama saya adalah Saya, Bu Laura.”

Saya pun tersenyum. Bu Laura juga tersenyum. Murid-murid baru lainnya ikut tersenyum.

“Nah, anak-anak, kalian sebagai murid-murid baru akan belajar bersama ibu. Ibu akan mengajarkan kepada kalian untuk pandai membaca dan menulis, serta berhitung,” Bu Laura melanjutkan interaksi. Ketika saya mengetahui hal-hal yang akan diajarkan Bu Laura kepada kami, saya merasa bahagia. Saya akan sanggup membaca, menulis, dan berhitung. Sederhana sekali rasa bahagia itu. Karena mulai menit itu, saya bertekad kuat untuk menjadi orang yang berguna karena telah banyak membaca, menulis, dan berhitung.

Masih berlanjut…

2903.2014, 11:33.

 

Share: