seminar fiksi hal bahagia

Selamat dan semangat pagi, para pembaca! Semoga kabar baik senantiasa ada pada kita semua tanpa selalu mempertanyakan bagaimana kabarmu hari ini. Dan apabila Anda belum menikmati seminar fiksi tentang hal bahagia bagian pertama, saya persilakan masuk kemari: Seminar Fiksi (1) : Hal Bahagia (1).

Kebahagiaan selalu menjadi pembicaraan yang khas untuk dibincangkan. Dalam kasus percintaan yang tidak berlanjut, kebahagiaan juga ikut tidak berlanjut dalam kisah cinta yang ada. Sehingga hadirlah yang namanya ketidakbahagiaan. Ada proses tersendiri dari bahagia menjadi tidak bahagia. Bahkan, boleh jadi sesudah tidak bahagia akan ada perihal benci. Perhatikan skema kasus percintaan yang tidak berlanjut di bawah ini:

Kebahagiaan – Ketidakbahagiaan – Kebencian

Bermula dari rasa bahagia karena adanya perjalinan kisah cinta. Seiring berjalannya waktu dan kisah cinta dirasa bosan atau tidak ngeh, maka muncullah gejolak yang tidak mendukung kisah cinta. Bubar, kemudian ketidakbahagiaan menggantikan kebahagiaan. Ketidakbahagiaan terhadap kisah cinta yang sangat dalam memunculkan kebencian. Walaupun memang belum tentu kebahagiaan itu berubah menjadi ketidakbahagiaan atau kebencian, intinya kebahagiaan tertentu bisa lenyap. Akan tetapi, ia juga bisa langgeng. Misalnya kisah cintanya Habibie. Kapanpun usia jalinannya, masyarakat akan selalu berhipotesis bahwa kisah cintanya selalu membuahkan kebahagiaan.

Kebahagiaan yang berubah wujud tidak hanya ditemui dalam kisah cinta. Kisah persahabatan juga bisa seperti itu. Hal-hal mengenai tingkah laku manusia sehari-hari selalu berkait dengan kebahagiaan. Contoh hal kecil adalah tentang perilaku makan pada manusia. Manusia sering pilah-pilih menu makanan untuk disantap, agar sesuai selera. Adapula manusia yang memiliki daya juang untuk mencicipi santapan-santapan yang baru atau khas atau belum pernah disantapnya. Keduanya, tentu akan menghasilkan rasa bahagia atau rasa tidak bahagia. Akan tetapi, saya sarankan apapun makanan yang sudah pernah disantap dan rasanya memunculkan perasaan tidak bahagia, saya mohon untuk tidak mencelanya dan mencemoohnya. Makanan adalah suatu rezeki dari Tuhan. Berdoalah sebelum makan agar makanan yang akan dimakan menjadi bergizi. Pun berdoa setelah makan agar apabila makanan yang dirasakan tidak sesuai selera lidah itu bisa menjadi bermanfaat untuk tubuh.

Makan pun bisa menjadi contoh untuk membuahkan kebahagiaan. Tentunya bisa dipikirkan sendiri contoh-contoh yang lain.

Kebahagiaan dianggap berkaitan erat dengan kepuasan. Pertanyaannya, saya tidak bahagia karena saya tidak puas atau saya tidak puas karena saya tidak bahagia? Manakah yang menjadi sebab? Ini adalah pertanyaan yang sebaiknya dijawab dengan jawaban, “Tergantung.”

Mengelola perasaan juga berkaitan dengan kebahagiaan. Saya meyakini suatu hal di akhir sesi ini, seseorang yang bisa mengelola perasaan dengan baik maka kebahagiaan akan mudah digapainya.

Bagi yang suka mengumbar amarah karena makanannya yang telah disantap itu buruk, maka itulah bentuk dari perilaku pengelolaan perasaan yang gagal, sehingga takkan hadir kebahagiaan. Bersyukur pada apa-apa yang didapat, kemudian mengelolanya dengan perasaan yang baik dan nantinya akan hadir kebahagiaan.

Happiness (or unhappiness) is a response by a subject to her life conditions as she sees them. (Sumner, 1996)

1404.2014, 9:47.

Share: