SERIAL Menjadi Mahasiswa

Bagi anak SMA, terlebih yang akan lulus, menceritakan tentang perkuliahan tentunya takkan membosankan. Saya dulu juga begitu. Bahkan, yang lebih dahsyat adalah saya dan teman-teman saya justru lebih seru berbagi cerita tentang perkuliahan tinimbang mata pelajaran sekolah. Asumsi saya kenapa hal itu bisa terjadi adalah karena ini menyangkut masa depan, cita-cita, dan harapan. Mata pelajaran sendiri masih dalam kurun waktu jangka pendek. Berbeda tentunya.

O, iya, bagi kamu selaku pembaca tulisan ini yang belum mengenali saya, persilakan saya untuk memperkenalkan diri secara singkat sekali. Nama saya adalah Sevma, sekarang sedang menempuh studi sarjana di Fakultas Psikologi UGM. Singkat, kan? Jelas.

UNAS

Pertempuran awal itu bernama UNAS, beberapa orang menyebutnya dengan dua huruf: U N. Sama saja. Merupakan singkatan dari Ujian Nasional.

Di babak ini, seorang siswa harus berhasil lulus. UNAS SMA terdiri dari enam mata pelajaran. Tiap-tiap pelajaran selalu menghadirkan soal-soal yang sudah dipelajari sejak kelas satu (zaman sekarang disebut kelas sepuluh) hingga kelas tiga (atau kelas duabelas).

Di level bawahnya yang tidak nasional, terdapat USEK (Ujian Sekolah) dan Ujian Praktikum. Kedua ujian itu sulit menandingi derajat UNAS. Bayangkan, UNAS itu pakai barcode, sedangkan Ujian Praktikum mau ditaruh mana barcode-nya kalau ternyata ujiannya tidak menggunakan kertas, semisal olahraga.

Siswa-siswi angkatan tertua di SMA –maksud saya kelas tiga– banyak yang mengikuti bimbingan belajar alias les-lesan di luar sekolah. Ada yang Neutron, ada yang ikut SSC, GO, atau Nurul Fikri, dan ada juga yang lebih memilih untuk les privat. Bahkan, tidak awam lagi ada yang mengikuti lebih dari satu les-lesan. Sebenarnya itu semua cuma mengejar dua tujuan: lulus UN dan lolos ke perguruan tinggi favorit.

 

Tunggu serial selanjutnya…

Salam hangat dan cheers,
Sevma.

Share: