SERIAL Menjadi Mahasiswa _2

UNAS selalu menjadi momok penting untuk menggapai kelulusan. Penyelenggaraan UNAS selalu mewah, maksud saya adalah dalam pelaksanaannya terkesan tidak biasa. Setiap ujian di sekolah yang selalu ada di tiap semester tentu berbeda dengan ujian serentak yang dilaksanakan satu negara ini. Ujian tengah semester dan ujian akhir semester terlaksana secara biasa. Kenapa saya bilang itu biasa?

Pertama, UTS dan UAS tidak ada ekspos dari media. Berbeda dengan UNAS, ekspos habis-habisan mulai dari kecurangan, soal ujian yang tertukar, hingga siswa yang tidak bisa mengikuti UNAS gegara uang sekolahnya belum terbayarkan. Media massa juga elektronik selalu gencar memberitakan UNAS setiap tahun. Uniknya, yang saya rasakan justru berbeda di tahun ini. Bulan April 2014 bertepatan dengan pemilu. Pemilu itulah yang menjadi topik utama di tahun ini, bukan di satu bulan saja. Pembahasan mengenai pemilu tentu sudah menang telak tinimbang UNAS. Sorry, dude.

Kedua, UTS dan UAS benar-benar biasa. Itu artinya UNAS benar-benar tidak biasa. Special! Pelaksanaan UNAS yang spesial, saya rasa, karena pengamanan yang ketat. Lihatlah, polisi pun ikut menjaga. Hingga tulisan ini dibuat, saya masih belum paham alasan-alasan penyelenggara UNAS tentang mengundang polisi untuk ikut menjaga pelaksanaan UNAS. Saya jadi heran kalau sewaktu UNAS dimulai, bila ada siswa yang mencontek teman sebelahnya akan diusut sebagai kasus. Penjaga ruangan yang mengetahui perilaku ceroboh tersebut jelas akan melapor langsung kepada polisi yang berjaga. Kemudian, siswa itu menjadi tersangka. Penjaga menjadi saksi. Dan, itulah yang dinamakan kasus tanpa korban. Selang beberapa jam ruangan itu terisolasi, tempat duduk pelaku contek diberi garis kuning pertanda sebagai police line. Wartawan berdatangan, orangtua dan kerabat pelaku contek berdatangan, kepala sekolah kewalahan, pengendara motor yang lalu-lalang di depan sekolah berhenti atau mengurangi kecepatannya untuk melihat peristiwa agar bisa dijadikan bahan lelucon kepada teman-temannya, dan yang pasti, penjaga justru terbahak-bahak.

Masih satu alasan dengan spesialnya UNAS, yakni doa bersama menjelang UNAS. Siswa-siswi memanjatkan doa, menyeru kepada Tuhan-Nya agar dilancarkan dalam menggarap UNAS dan meminta agar diluluskan bersama-sama kawan-kawannya. Guru BK dan guru-guru selain BK pun juga tak kalah bersaing dengan mentor-mentor bimbingan belajar untuk memberikan motivasi kepada siswa didiknya. Inti dari alasan kedua ini hanyalah UTS dan UAS tidak sederajat dengan UNAS. National Exam is so special, especially for Indonesian students.

Dua alasan saja kenapa UNAS iu tidak biasa, tersimpulkan: (1) ada ekspos dari media secara rutin tiap tahun dan (2) UNAS benar-benar tidak biasa.

Ini opini saya, cerita saya yang tertuang untuk orang-orang yang mau meluangkan untuk membaca. Thanks. Anda pun berhak beropini sendiri tentang UNAS tanpa intervensi dari saya. Tetapi, satu hal tentang serial ini: my stories are inspired by some experiences of mine.

Semoga tetap ada rasa ingin tahu lagi untuk serial yang akan datang.

Salam hangat dan cheers,
Sevma.

Share: