SERIAL Menjadi Mahasiswa

Sebelum UNAS terlaksanakan, ekspos media selalu hadir untuk menyoroti pelaksanaannya. Setelah UNAS terselesaikan, ekspos media mulai pudar. Kalaupun ada, itu sebatas pengumuman kelulusan dengan patokan nilai UNAS yang telah terlampaui atau tidak terlampaui. Selain pengumuman kelulusan, media massa tidak begitu gencar memberitakan UNAS. Toh, kalaupun diberitakan, tetap saja membosankan jika yang diberitakan adalah hal yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Terlepas dari media dan segala cara ekposnya, mari saya tuliskan poin penting setelah UNAS diselenggarakan. Bersiaplah!

Selo

Selo itu artinya luang. “Kowe sesuk esuk selo ra?” berarti “Kamu besok pagi luang nggak?”

Benar sekali, setelah UNAS selesai, banyak sekali waktu selo bagi siswa kelas 3 SMA yang hendak lulus ini. You would be free for anything activity. And, it is up to you!

Memang, meluapkan ke-selo-an adalah pilihan tiap pihak yang memilikinya. Memang, mendambakan ke-selo-an jugalah pilihan bagi pihak yang sedang sibuk. Tapi, di sini, di serial bagian ketiga ini, saya hendak menjelaskan tentang hakikat selo.Wusss, sangar tenan!

Selo atau luang merupakan hal yang biasa di keseharian kita. Dalam hidup, kita sering mendapatkan waktu luang. Di lain sisi, kita juga sering tidak mendapatkannya padahal sangat ingin berluang-luang. Bahkan, waktu luang adalah salahsatu nikmat yang jarang dipikirkan secara baik sehingga orang-orang yang biasanya mendapatkannya sering tidak bersyukur.

UNAS selesai, selo berdatangan bagi siswa-siswi yang akan lulus dan mungkin senang, guru-guru ikut senang karena semakin sedikit waktu mengajar sehingga lebih bebas, adik-adik kelas 2 SMA mulai merasa sebagai raja angkatan tertua dan bergejolaklah sikap bejajigan.

Siswa-siswi kelas 3 SMA di era sekarang ini boleh berbahagia atas sistem penerimaan mahasiswa baru di PTN melalui jalur SNMPTN Undangan. Tetapi, menyangka dirinya pasti akan lolos Undangan adalah hal yang harus diwaspadai. Optimis boleh, yang tidak boleh adalah santai berlebihan. Santai berlebihan dalam artian menganggap dirinya pasti akan lolos tentu bermula dari rasa optimis yang berlebihan. Sehingga, datanglah gejolak untuk selalu berleha dan hanya sedikit usaha untuk memakai celah yang lebih berguna.

“Santai aja, sob! Aku pasti lolos kok. Nilai biologiku 90, sertifikat kejuaraanku berbasis nasional dan dipuji teman-teman. Pasti lolos!”

Saya memang tidak pernah mendengar kalimat langsung di atas ini. Itu merupakan hal tersurat yang sering saya temui ketika UNAS selesai. Saya memilih untuk tidak nyelo. Saya paham karena nilai rapor saya yang tidak setara dengan nilai-nilai sempurna se-nasional. Saya mengerti karena prestasi saya tidak memukau di kalangan penyeleksi calon mahasiswa baru. Saya sadar bahwa SMA saya tidak bakal 100% siswanya akan diterima via Undangan. Saya tahu lebih dalam bahwa sepuluh pelajar (5 siswa dan 5 siswi) dari SMA Negeri 6 Yogyakarta tidak bakal disetujui semuanya untuk diterima di Fakultas Psikologi UGM melalui jalur Undangan. Tetapi, saya tidak pesimis dengan mengandalkan SNMTPN Undangan saja.

Bimbingan belajar adalah satu cara saya untuk menggapai universitas dambaan. Bukan satu-satunya. Everyone has some choices. Kalau ada yang sreg tanpa les, maka silakan saja. Kalau ada yang cocoknya dengan les privat, itu juga dipersilakan tanpa larangan saya atau menteri pendidikan, kan?

Selo! Selo! Selo!

Bagi saya, setiap orang harus bisa memanfaatkan waktu luang dengan baik. Apalagi kalau pembahasan tentang babak setelah UNAS, pasti seru sambil ndredheg atau ‘deg-deg’-an. Peluang lulus SMA memang boleh diprediksi nyaris mendekati YA.

Ada hal tertentu yang saya rasakan secara berbeda dari ‘lulus SMA karena UNAS’ dengan ‘lolos Undangan karena rapor dan prestasi’. Kalau sebelum kelulusan SMA, teman-teman di sekitar saya saling mengatakan, “Sudahlah, pasti lulus UNAS!”. Berbeda dengan sebelum kelolosan Undangan, yang sering terkatakan ialah, “Semoga kita lolos Undangan dan diterima di PTN favorit!”. It is not about right or wrong.

Dulu, setelah UNAS, saya diajak rekan satu sekolah untuk bekerja sama menjadi editor di film pendek angkatan 2013. Saya menolak karena itu pasti akan mengorbankan banyak waktu luang saya dan akan menanggalkan waktu untuk belajar guna menghadapi perang penerimaan maba. Saya pilih untuk menjaga waktu luang dengan baik. Sinau! Migunani!

Satu quote di bagian akhir serial ini dari saya,

Jangan merasa selo kalau sedang selo.
Jangan mencoba untuk selo kalau memang sedang tidak selo.

Sinau! Migunani!

Salam hangat dan cheers,
Sevma.

21:05, 0205.2014

 

Share: