Kecuali kelas, kesibukan menulis sangatlah jarang ditemui di setiap keadaan di sekitar kita. Menulis masih lebih sedikit daripada membaca. Dan keduanya tentu jauuuh lebih sedikit daripada berbicara dan/atau mendengarkan.

Ah, urusan ini kan sebenarnya sederhana, hanya soal kritis saja yang membawanya menjadi ogah-ogahan untuk menulis. Tulisan kali ini ditulis sewaktu sibuk, soal kapan mem-posting­-nya itu masih dijadwalkan oleh aku sendiri. Intinya aku menulis. Kemudian, aku menjadwalkan tulisan itu di suatu hari dan memiliki tepat waktu yang enak untuk mulai dibaca.

Menulis bukan soal urusan bakat. Sama seperti bernafas menggunakan hidung, itu cuma urusan kebiasaan. Bernafas, toh, bisa pakai mulut juga, kan? Sama dengan kegiatan menulis. Menulis bisa juga dengan mengisi TTS, merangkum buku paket Biologi, mengerjakan tugas. Tapi ingat, itu hanya notabene pribadi.

Menulis yang lebih hakiki adalah yang bisa menghibur orang lain, itu masih di level awal. Selanjutnya adalah soal tulisan itu bermanfaat atau tidak. Kemudian, mampu menginspirasi orang lain atau tidak.

Ada yang bertanya, tulisan saya jelek, tulisan saya begitu-begitu doang, jarang diminati. Sewaktu aku mengikuti seminar kepenulisan yang dihadiri pembicara bernama Tere-Liye, ia berkata bahwa tulisan itu hanyalah soal relevan atau tidak relevan, bukan soal bagus atau jelek.

Jadi, yuk, mulai nulis. Nulis perasaan, nulis cara mencintai walau tidak dibalas cintanya, nulis cerpen, nulis puisi, nulis tulisan. Nah, kalau sudah terbiasa menulis kan enak, sedap, dan nikmat. Tidak akan ada lagi sibuk untuk tidak menulis.

Share: