perpuspsy

Semester tujuh ini saya memang belum ambil skripsi, tapi rasanya kok sudah begitu menyita pikir saya ya? Saya kerap kali ke perpustakaan fakultas hanya untuk memastikan bagaimanakah skripsi saya nanti, apa judulnya, dan sukses atau tidak ya(?). Ini berat. Banyak kawan yang telah melenggang mendahului saya. (Meski saya punya harap untuk menyejajarkan kondisi di semester delapan, tapi kok ya rasanya mustahil dan malah bisa nihil.) Setiap kali saya takzim belajar di perpustakaan, yang saya lihat yaa kawan-kawan seangkatan yang tengah takzim mengerjakan skripsinya. Ada yang sendirian, ada yang rombongan. Ada yang berbekal makan siang pula malah! Nikmat sekali seharian seperti itu, diulang-ulangi pula. Seolah saya memberi klaim bahwa mereka telah menapaki surga duluan tanpa perlu perhitungan amal. Perpustakaan adalah surga, bukan? Buku-buku adalah kenikmatan hakiki, kan? Tapi skripsi adalah apa? Kepuasan batin?

Semester tujuh ini saya─sama seperti semester sebelumnya─juga masih berkutat untuk selalu berkarya: menulis fiksi. Dan asal Anda tahu, duhai pembaca, saya ini maluuu sekali belum pernah bisa menyelesaikan novel, sedikit sukses menulis cerita-cerita pendek, dan banyak galau tentang puisi-puisi patah hati. Karya fiksi saya perlu saya bukukan. Fiksi dan skripsi adalah dua hal yang mennguras energi pikir saya. Resah sekali saya ini.

Tapi keluhan─kata beberapa orang─memang sedikit diperlukan, bukan? Sampai ia menyublim (atau menguap?), keluhan itu kemudian menggantang asap, lalu berubah: solusi memukul telak dan keluhan pun kalah. Selamat jalan, mungkin begitu kata si solusi.

Saya, sebagai manusia yang masih diberi waktu hidup di dunia, diwajibkan bersyukur. Saya, oleh Tuhan, begitu banyak diberi kenikmatan. Menunda skripsi demi meraih banyak SKS di semester ini adalah kenikmatan. Tersendiri, bagi saya. Saya diberi waktu untuk mematangkan seperti apa skripsi saya nanti, secocok apa saya dengan tema skripsi, dan lagi-lagi apakah skripsi itu juga bisa mengambil andil di kehidupan saya di masa mendatang (di mana saya ada tekad menjadi seorang akademisi abadi).

Saya bersyukur, Tuhan telah memberi kesempatan kepada saya yang tidak saya sia-siakan untuk menjadi asisten dosen di dua mata kuliah. Statistika dan Metode Penelitian Kuantitatif. Tuhan memberikan kebahagiaan kepada saya melalui dosen-dosen cerdas dan baik hati yang saya asisten-i: Pak Wahyu, Bu Esti, dan Pak Profesor Dicky. Tuhan memupuk tekad saya untuk belajar banyak dan belajar lagi dengan mereka sebelum saya diberi lampu hijau untuk skripsi. Tuhan tak pernah main-main, saya percaya itu.

Menunda skripsi di semester ini, saya rasa, mirip seperti saran Mbak Okky Madasari terhadap pertanyaan saya tentang bagaimana cara kita (sebagai mahasiswa yang masih banyak tugas) berkarya fiksi pada waktu seminar kepenulisan hari Sabtu (22/4) di Fakultas Psikologi UGM. Banyak membaca karya sastra sebelum menulis sastra adalah yang baik, bagus, dan benar. It’s so deep.

Lengkapnya, sesuai apa yang saya catat, seperti ini:

“Dengan banyak membaca karya sastra, maka kemudian kita akan punya banyak amunisi. Hingga ada satu titik untuk mulai menulis.”
– Okky Madasari

Saya ulangi lagi: menulis skripsi dan fiksi adalah dua hal yang meguras banyak energi saya. Energi pikir saya.

Sekarang, saya masih diberi waktu mumpung. Mumpung belum semester delapan, mumpung masih 2016, dan mumpung masih muda dan masa muda adalah masa yang baik untuk menyerap segala macam kata dan kalimat susastra, maka akhirnya saya memang harus banyak belajar dan belajar banyak.

Saya harus menunda memulai, berkesiap, lalu setelah berancang-ancang, saya akan ikut melenggang, menyusul atau menyeimbangkan keadaan. Saya harus banyak belajar sebelum nanti pada waktunya mengeluarkan amunisi hasil belajar. Membuktikan pada dunia, ini lho saya, saya bisa juga lho ya! Ini karyaku. Serius, ini karyaku!

Cukup banal memang…

Saya tahu tantangan ini nggak main-main. Dan nggak akan pernah main-main. Kegigihan adalah kata kunci dan ia bisa dibuktikan hanya dengan menjadikannya sebagai kata kerja.

Semoga tulisan ini bisa mengandung manfaat untuk kalian. Semoga tulisan ini tidak nirfaidah.


Ditulis di hari Senin pagi beberapa jam sebelum meng-asisten-i Statistika, tanggal 24 Oktober 2016, di kamar tercinta di Bumi Kalasan. Disunting demi hal keren pada satu hari kemudian (25/10), di tempat yang sama

Share: