2 sosok jalan kembali

Seumpamanya, jalan lalu itu telah ditutup, gerbang berikut ini juga tidak akan terbuka. Jeruji besi sebagai sampul sudah tidak lagi mengkilat, malah berkarat. Poros usang ikut membuat aroma jijik. Muncul serabut-serabut hijau yang terurai ke bawah. Angin sanggup memutuskan dan menerbangkannya.

Telah lama aku pergi. Dan kini, aku kembali. Menikmati setiap inchi langkah kaki. Jalannya teramat sunyi.

Aku mencoba mengetuk gerbang. Aku ketuk sekali lagi.

Gerbang itu terbuka. Sosok tinggi dan bermata sendu menatapku lamat-lamat. Ia mengobservasi penampilanku. Kosong tatapan itu membuatku tersentak. Gerbang itu ditutup kembali. Aku masuk ke dalam beranda rumah itu. Tanganku digenggam erat oleh sosok yang tidak aku kenal. Si pembuka gerbang memaksaku berjalan cepat. Aku tak mampu. Ia lantas menyeretku. Kemudian, senjata tumpul terhunjam keras mengarah ke kepalaku.

Aku mati. Atau, hanya pingsan?

***

Mataku sayu. Ini bukan mimpi. Repot memang. Aku tidak menyangka akan diperlakukan seperti hewan. Kejadian ini pasti ada yang merencanakan.

Lima tahun lalu, aku meninggalkan rumah ini dengan hangat. Sekarang, aku terduduk dan terikat lemah di hadapan para bengis yang jumlahnya tidak sanggup aku hitung.

“Siapa kalian? Mengapa kalian ke mari?” aku sontak bertanya dengan suara tergesa.

“Kami adalah agen. Maaf sekali, pertanyaan keduamu tidaklah penting untuk kami beri tahu,” jawab seorang dari mereka.

“MENGAPA KALIAN KE MARI?” aku bertanya lagi. Aku benar-benar marah.

“Kami sudah bilang bahwa pertanyaan itu tidak penting, bodoh!”

Ruangan berubah gelap. Seketika, aku terpukul keras dari sisi belakang. BHUG!

Tidak ada yang membelaku. Tidak ada yang menyelamatkanku. Aku sendiri, mereka pecundang. Aku nyaris mati, mereka bukanlah pemenang. Aku mati? Atau, hanya pingsan lagi?

***

Bercarik-carik kertas berserakan menyelimutiku. Terpendamlah aku. Aku belum mati. Nyawa itu masih ada. Mereka menghilang. Aku berteriak. Sekali lagi, aku berteriak. Tiada jawaban.

Aku tak sanggup berdiri. Susah sudah aku seretkan kedua kakiku perlahan. Payah memang, tempat ini sengaja dibuat berantakan. Aku nyalakan lampu. Terlihat jelas di setiap sekat dinding ruangan ini. Tertulis satu kata yang diulang-ulang dengan tanda seru sebagai akhiran.

BACALAH! BACALAH! BACALAH! Banyak sekali. Sampai-sampai aku pun muak dengan berbagai macam jenis tulisan yang tampak.

Satu kata yang tidak sama tergurat di atap. Kemilaunya menyaingi sinar lampu yang menyala.

SEGERA!

Di tempat tadi aku ditidurkan, aku pun mengambil satu kertas yang berserakan. Aku bandingkan satu dengan yang lain. Semuanya sama. Tidak ada bedanya. Ditulis dengan pena bertinta hitam. Aku mulai membacanya.

Masih sedikit yang mengetahui
Bahwa ada kehidupan setelah kehidupan
Dan kematian sebagai jembatan
Bekal dan persiapan tidaklah pantas dibingungkan
Mendengunglah atas nama kehidupan yang lebih abadi
Kekal, pasti datang

***

Lima tahun lalu, saat engkau juga meninggalkan kediamanmu. Engkau tak berkabar-kabar untuk hendak kembali. Ketidaktahuanmu akan kematian justru membuahkan senyum bagi para kebanyakan yang merindukanmu. Engkau, akankah mengalami peristiwa yang sama? Tersekap dan tersiksa sekadar mengiangkan masa-masa yang datangnya sudah ada yang merencanakan.

Kembalilah, wahai engkau…

_________

Written by Sevma

0304|2015

Share: