Baca episode pertama di sini

Produksi

Sehari sebelum syuting (Selasa (9/8)), saya dan beberapa kru melihat kembali lokasi syuting sekaligus menitipkan beberapa peralatan syuting. Untuk mengeratkan solidaritas kru dan pemeran, kami main UNO sebelum pulang pada malam harinya.

Hari Rabu (10/8), syuting dimulai pukul 8.30 pagi. Adegan yang diambil tidak acak sesuai urutan nomor pada naskah. Emosi pemeran sangat dimainkan di syuting hari Rabu itu. Adegan yang melompat-lompat dan menyita banyak waktu  membuat saya selaku sutradara menyerahkan tugas sutradara ke Widya. Adegan pertama yang disyuting adalah berziarah, lalu diikuti obrolan paska-ziarah. Adegan terakhir (pada film) diambil pada Rabu siang. Emosi sedih tidak saya perkirakan akan sulit diperankan Yazida. Ternyata sangat sulit dan re-take beberapa kali. Terlebih, peran Yazida membutuhkan hafalan naskah yang panjang.

Di jadwal, syuting hari Rabu selesai pukul 16.30. Di dunia nyata, syuting hari Rabu selesai beberapa menit sebelum maghrib.

Hari Kamis (11/8), menyisakan satu adegan di waduk UGM. Syuting ini juga acap menjengkelkan. Hari itu adalah hari ospek. Kehutanan UGM rupanya ospek di sekitar waduk—semacam pos-pos outbound. Berisik bisa kami antisipasi. Yang sulit kami antisipasi adalah ketika tiba-tiba ada rombongan mahasiswa baru berjalan di belakang aktor. Re-take, deh, bila sempat hal yang tidak diduga itu terjadi. Untungnya, hanya satu adegan. Sebelum azan Zuhur, syuting pun selesai. And…, it’s a wrap!

Share: