Seperti ada yang kosong dari hari lebaran tahun ini. Kampung halaman Jogja yang menyisakan kenangan masa kecil itu tampak lengang. Patut diketahui bahwa saya sudah tak punya kakek dan nenek. Simbah (nenek dari jalur ibu) adalah yang terakhir beristirahat—atau kata lainnya: Tuhan menakdirkannya untuk tidur panjang.

Jika ada perihal yang saya banggakan di Jogja beserta alasan mengapa saya harus pulang dari Jakarta, hal itu berwujud keluarga kecil saya di Kalasan. Saya rindu mereka. Tetapi, saya juga rindu Simbah. (Saya menahan tangis di paragraf ini…)

Selepas sholat Idulfitri, Pakdhe paling semangat memunguti kembang yang membusuk di atas dua tempat istirah simbah. Makam simbah bersanding dengan makam Mbah (suami Simbah). Pakdhe menyuguhkan air kepada adik saya untuk diguyurkan ke atas gundukan.

Saya dan dua adik saya mengitari makam Simbah; Pakdhe dan istrinya di dekat makam Mbah. Pakdhe membaca surat Yasin dan membacakan doa. Saya diam, menangkupkan tangan, dan beberapa kali terbesit di dalam hati seolah ingin menyatakan bahwa cucunya datang ke tempat istirahnya. (Di makam, saya menahan tangis… Dan sampai di paragraf ini, saya tak kuat menahan tangis atas ingatan itu…)

*

Simbah… Sevma datang…
Sevma mohon maaf… Mohon maaf kalau Sevma jadi cucu yang nggak bener, sering nyeleweng, atau barangkali sering bikin Simbah dongkol…

*

Bagaimana mungkin rumahmu sepi? Kamarmu juga sepi dan cuma Ibu yang berani menengok.

Tidak ada masakanmu pagi itu. Tidak ada teh anget manis yang berderet di meja dapur dan di meja ruang tamu. Tidak ada berisik anak-anakmu dan cucu-cucumu. Tidak ada kamu. Tidak ada Simbah hari itu…

Tidak ada tawaran yang sering saya abaikan: “Ma, madhango sik…”; “Ma, imbuh madhange…”; “Mbok nek libur ki mbrene. Tilik simbahe…”

(Tangisan saya pecah di bagian ini. Perlu jeda untuk melanjutkan…)

Dapur terasa hampa. Ruang tamu tinggal sisa. Foto-foto di dinding itu menyemai ingatan masa-masa lalu. Dua adik saya sama diamnya dengan saya. Kami hanya duduk-duduk saja di ruang tamu. Tidak lama kami menengok Simbah dan rumahnya. Kami pulang. Kami tidak jalan-jalan, seperti lebaran sebelum-sebelumnya.


Ditulis di Jakarta Selatan, dua bulan setelah Simbah wafat.

Share: