tentang keadilan dalam hidup

Apakah hidup ini adil? Jika ya, dimanakah letak keadilan itu?

Kata-kata itu sering saya  tanyakan dari beberapa minggu yang lalu hingga saat ini, melalui aplikasi LINE, jejaring sosial Twitter, dan secara langsung. Pertanyaan yang seraya bermakna retoris, tapi sebenarnya tidak. Pertanyaan yang selalu saya ingat, berasal dari novel karya Tere Liye yang berjudul Moga Bunda Disayang Allah.

Aku menanyakan pertanyaan itu ke beberapa teman, bahkan juga kakak angkatan di Psikologi UGM. Lebih dari 75% responden menjawab bahwa hidup ini adil. Semua jawaban tentang pertanyaan keadilan sangatlah memuaskan. Mayoritas responden mengaitkan jawaban dengan kaidah agama. Yakni bahwa Allah Yang Maha Adil maka hidup ini dibuatnya menjadi adil.

Adapun ada salah-satu teman SMA yang masih satu almamater universitas menjawab bahwa di dunia ini yang namanya keadilan itu tidak ada. Jawabannya agak menjauh dari pertanyaan, karena yang saya tanyakan adalah soal apakah hidup ini adil, bukan soal apakah dunia ini adil.

Ada juga responden yang saat ini masih duduk di bangku kelas 12 (3 SMA). Saya pun menyengajakan diri untuk menjadi bagian yang kontra, bagian yang berseberangan dengan pola jawaban. Dan alhasil, ia tetap bersiteguh menjawab bahwa hidup ini adil. Bahkan sangat antusiasnya, responden ini mengajak curhat sejenak. Tentang kegalauan masa SMA yang bingung memikirkan soal masa depan setelah lulus SMA. Ice breaking!

Kabar baiknya ada satu jawaban yang sangat saya kagumi. Jawaban dari teman wanita satu angkatan di Psikologi UGM. Jawaban yang bukan sekadar jawaban biasa, tetapi juga memotivasi dan mengajak pribadi agar senantiasa memiliki rasa syukur. Berikut jawabannya,

Hidup itu adil, percaya saja bahwa yang kamu dapatkan itu adalah yang terbaik. Ada yang lebih tahu kamu daripada kamu sendiri.

Jawaban di atas sudah disetarakan dengan bahasa yang baku. Setelah jawaban itu saya sempatkan untuk bertanya lebih dalam lagi, “Terus apa kamu udah merasa hidup ini beneran adil?”

Dan berikut jawaban lanjutannya,

Adil dari Tuhan ke manusia itu sudah, tapi kalau adil sesama manusia belum, soalnya ada manusia jahat yang mengambil hak manusia lain.

Nah, jawaban tentang keadilan yang ini dikaitkan dengan perbandingan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain.

Setelah mengevaluasi jawaban-jawaban dari responden, saya terngiang ada satu novel lagi karya Tere Liye yang membahas tentang keadilan, yaitu Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Ada satu kutipan dari novel tersebut di halaman 200-201 yang saya tulis ulang di buku kutipanku dan itu sangat mengena di hati dan pikiranku. Berikut kutipan yang satu tulis,

”Apakah hidup ini adil, Ray? Entahlah. Aku juga pernah sekali-dua bertanya kepada Tuhan.Padahal kau tahu, aku memiliki kesempatan untuk melihat wajah keadilan yang tidak kasat-mata. Ah, sayang kita selalu menurutkan perasaan dalam urusan ini. Kita selalu berprasangka buruk. Kita membiarkan hati yang mengambil alih, menduga-duga…. Tidak puas menduga-duga, kita membiarkan hati mulai menyalahkan. Mengutuk semuanya. Kemudian tega sekli, menjadikan kesalahan orang lain sebagai pembenaran atas tingkah laku keliru kita.

“Apakah hidup ini adil, Ray? Gembong preman yang membuat Ilham dan Natan kehilangan mimpi-mimpinya memang tidak seperti Plee yang membalas dosanya di tiang gantungan. Gembong preman itu tetap sehat-walafiat hingga ajal menjemput. Tapi apakah hidup ini jadi tidak adil baginya? Tidak, Ray. Pembalasan di dunia hanya sepotong kecil dari keadilan langit. Ada cara lain bagi Tuhan untuk membuat timbangan keadilan itu berjalan baik. Kau dan sebagian besar orang di muka bumi boleh jadi mengingkarinya, tapi itu nyata, pembalasan hari akhir itu nyata, senyata kau sekarang yang tersungkur mengenang semua masa lalu ini.”

….

“Waktu itu kau sering bertanya mengapa Tuhan memudahkan jalan bagi orang-orang jahat? Mengapa Tuhan justru mengambil kebahagiaan dari orang-orang baik? Itulah bentuk keadilan langit yang tidak akan pernah kita pahami secara sempurna. Beribu wajahnya. Berjuta bentuknya. Hanya satu cara untuk berkenalan dengan bentuk-bentuk itu. Selalulah berprasangka baik. Aku tahu kata-kata ini tetap saja sulit dimengerti. Aku sederhanakan bagimu, Ray, maksudnya adalah selalulah berharap sedikit. Ya , berharap sedikit, memberi banyak. Maka kau akan siap menerima segala bentuk keadilan Tuhan.”

Sebelum tutup paragraf, saya berharap semoga pembaca mengerti hakikat akan keadilan dalam hidup ini.

Saya sengaja menyembunyikan satu pertanyaan tentang keadilan dan jarang saya tanyakan kepada responden. Dan berikut pertanyaan lengkapnya,

Apakah hidup ini adil? Jika ya, dimanakah letak keadilan itu? Tetapi jika tidak, apakah kita yang terlalu bebal untuk mencari dan memahami letak keadilan dalam hidup ini?

Sebagai penutup paragraf, biarkan saya mengutip kata-kata indah tentang keadilan dari novel Tere Liye yang berjudul Moga Bunda Disayang Allah,

Terima kasih, ya Allah! Terima kasih. Mungkin kami tidak akan pernah mengerti di mana letak keadilan-Mu dalam hidup. Karena mungkin kami terlalu bebal untuk mengerti. Terlalu ‘bodoh’. Tapi kami tahu satu hal, malam ini kami meyakini satu, Engkau sungguh bermurah hati. Engkau sungguh maha pemurah atas seluruh hidup dan kehidupan.

 

 

~ Ananda Sevma, telah selesai menulis tulisan ini pada pukul 22:17, tanggal 20 Oktober 2013

Share: