Oi, judul di atas mohon dibaca sekali lagi. Maksudku jangan sampai malah terbaca Terkutuklah!, padahal jelas beda jauh.

Terketuklah wahai pintu hati!

Hari Kamis, 9 Januari 2014, sore hari itu saya bergegas menuju Toko Ihya’ untuk membeli peci baru. Tidak sampai lima menit memilah dan memilih warna dan tekstur yang cocok, akhirnya satu peci terbeli. Sewaktu di pintu keluar, saya terngiang beliau. Terngiang hingga mencapai derajat terketuklah.

Saya bersalaman dengan pemilik toko itu, Ustadz Afifi –semoga Allah merahmati beliau–, kemudian ia menanyakan kuliah dimana, saya jawab di Psikologi UGM. Kemudian ia menanyakan kenapa saya jarang kelihatan lagi, saya jawab seadanya, “Di kampus.”

Dengan pertanyaan begitu, hati saya mulai terketuk. Kalau diibaratkan lebih dalam, pertanyaan dengan satu tanda tanya meluncur menuju benak hati dan menyerukan, “Terketuklah!”

Sebelum pulang, perkataan yang disampaikan adalah ajakan untuk ikut Pesantren Kilat yang diselenggarakan Majeed Reporters. Dengan jawaban Insya Allah, saya diserukan dengan sebuah janji yang akan mengetuk hati berulang-ulang.

Bersyukurlah!

Waktu sebelum Asar pada hari Jumat di Masjid Jogokaryan, acara Pesantren Kilat dimulai. Sambutan kedua disampaikan oleh Ustadz Afifi selaku Pembina dari penyelenggara acara. Di antara yang disampaikan adalah bersyukur karena bisa menghadiri acara-acara semisal kajian Islam ini.

Terketuklah lagi, terketuk dengan kata-kata yang menyusup menyadarkan hati.

Hari itu saya sadar kembali, saya yang sebelumnya lalai kembali tersadarkan oleh suatu ketukan. Hari itu saya berpikir banyak setelah kembali malam hari dari Masjid Jogokaryan (saya tidak menginap dan tidak ikut hari Sabtu-nya karena harus menjemput simbah yang menginap di rumah sakit). Dan hari itu saya merenung bahwa agar hati seseorang menjadi tergugah adalah dengan diketuk.

Semoga rasa syukur itu tidak pernah ada habisnya. Mensyukuri karena hati masih bisa terketuk, masih bisa menuntut ilmu agama, masih bisa berada di antara kawan-kawan yang shalih.

Semoga aku dan kau sadar selalu. Aku ulangi, semoga aku dan kau sadar selalu.

Share: