UI-Depok-Ardiyan-Wisnu

UInd

Wisnuw menajamkan matanya. Apa yang dilihatnya bukanlah kampusnya yang dulu. Ini Universitas Indonesia, yang tidak jauh dari indekosnya di Jalan Jagakarsa Raya, Jakarta Selatan.

UI lagi ramai-ramainya. Sama seperti Jalan Margonda Raya. Di sekitar danau, di antara pohon-pohon, garis merah-putih membentang. Ada isyarat kepada pengunjung bahwa berhati-hatilah di sekitar danau, waspadalah, kalau nyemplung, bisa berabe.

Rupanya ada perhelatan wisuda di gedung besar dekat danau. Orang-orang memakai batik; mereka boleh jadi tidak kebagian kursi atau tengah menunggu yang-diwisuda di luar saja. Orang-orang membawa hadiah: bunga atau boneka bertoga atau balon warna-warni. Orang-orang di UI menunggu wisudawan, ingin berfoto, mengabadikan momen, ingin mengucapkan selamat, semangat, dan semoga sukses.

Aku dan Wisnuw tidak seperti orang-orang itu. Kami membawa minuman yang disebut di banner-nya sebagai khas Thailand, diberi merk Dul-dul, dan dijajakan di deretan kaki lima Stasiun Pondok Cina. Seperti pemudi penggemar Dum-dum saja. Namun, merk yang kami beli ini cukup indie, Bung! Bukan cuma Nom-nom yang menjadi Dum-dum indie, Dul-dul pun turut menjadi pesaing.

Dari luar gedung, terdengar nyanyian-nyanyian, asalnya dari dalam gedung. Bagaimana jika aku dan Wisnuw menyambung nyanyian dari dalam gedung itu dengan lirik himne UGM? Bukankah semua himne universitas negeri ini punya keselarasan lirik maupun nada? Sama-sama menyayat hati apabila dinyanyikan saat momen wisuda.

Ini Depok, non-Sleman

Kemacetan Jalan Margonda Raya itu minta ampun. Tidak dengan Jalan Juanda, sebab ia masih bisa kita ampuni. Bila tujuanmu adalah ke Jakarta tanpa melalui Jalan Lenteng Agung, ambil jalan alternatif. Lihat saja nanti, kamu akan masuk ke kawasan brimob. Sejuk, Bung! Banyak pohon. Banyak oksigen pula tentunya! Wisnuw saja lebih dari dua kali menyampaikan ketenangannya tentang lokasi tersebut.

Yang aku ketahui tentang Depok ya sebatas Margonda dan Cinere saja. Daerah Cimanggis-Kelapa Dua? Aku tidak begitu tahu. Terlebih Sawangan-Pasir Putih atau Cipayung. Di sana, pastilah banyak pekerja ibukota. Rumahnya di pinggiran begitu itu, kerjanya di ibukota Indonesia. Sudah barang lazim, kok.

Jalan Kaki yang Absurd, Dari Poltangan ke Sekitar Salihara

Aku, Wisnuw, dan Trisno absurd betul. Dari arah berlawanan, banyak motor dan mobil menuju selatan. Kami berjalan kaki ke utara. Kendaraan itu, sebagian kecilnya, tidak menyorotkan lampunya. Dan hampir semuanya melaju di atas 40 km/jam. Kadang-kadang aku berpikiran, jangan-jangan pengendara ini terburu-buru karena tengah menjalankan kompetisi khayalan. Mereka tidak ingin didahului kereta komuter. Jadi, sebagai pembanding, mereka tidak mau mengakui bahwa jalan raya juga berhak dimanfaatkan sedemikian-rupa-sehingga sama lancarnya dengan rel kereta. Ketela…

Bersabar dikit, kan, bisa. Sepertiku, dan seperti dua kerabatku ini. Dari Jalan Poltangan yang lumayan sepi, belok kanan (ke utara), dan menantang kendaraan bermesin di sebelah timur rel kereta. Edan! Eh, absurd, ding…

Lebih edan lagi ketika kami menyeberang rel kereta, hendak mengarah ke Jalan Raya Ragunan, Pasar Minggu. Kalau sehimpun pemulung yang berada di depan kami bisa melakukannya, why we not? Absurd.

Medeni…,” kata Wisnuw.

“… sing ngajari ncen…,” tukas Trisno.

Setelah berhasil menyeberangi rel, kami berada di trotoar yang berada di atas jalan underpass. Tugas kami adalah menyeberang jalan ke trotoar yang berada di tepi jalan raya. Ini sulit. Sungguh-sungguh sulit… Kendaraan dari selatan tidak jauh bedanya dengan kendaraan yang kami tantang di belokan setelah Poltangan.

Mengko sik!” kata Wisnuw, yang posisinya paling belakang.

Kami tidak kunjung menyeberang. Sialan.

Iki nek ora nyebrang, mlebu lorong!” sahutku, sambil berupaya ngekek atas kegeblegan yang terjadi malam itu, tapi gagal.

Trisno—yang berada di antara aku dan Wisnuw—mengatakan, “Kudune awak dhewe wis nyebrang saka awal mau…”

Entah pada menit dan tengokan ke berapa kami akhirnya berhasil menyeberang ke trotoar yang benar. Entah apa isi batin para pejalan kaki atau pedagang kaki lima yang melihat polah kami yang edan. Absurd, ding…

Bersyukurlah. Sebab, makan malam bersama bisa ditunaikan di sekitar Salihara—tidak sampai melewati Jalan Salihara. Makan malam ditegakkan di Jalan Raya Ragunan, tepatnya di dekat Holland Bakery, detilnya di Bakmi Djogja Mas Komari. Tidak hanya makanan dan minuman yang dihidangkan, nyanyian pengamen multi-peranti turut memeriahkan malam Minggu (2/2). Obrolan menyertai. Kenyang pun begitu.

Apakah kami akan pulang dengan cara yang sama absurdnya?

Tidak. Pesan taksi, deh, akhirnya…

Share: