Suatu kali seorang penikmat ilmu (sebut saja: ilmuwan atau S) diprotes oleh penikmat ilmu yang lain (ah, kalau yang ini, sebut saja: pesaing).

Pesaing itu menilai bahwa S selaku ilmuwan adalah orang yang tidak mengutamakan prinsip ilmiah. Pesaing mulai beraksi dengan menyatakan bahwa S bukan lagi seorang ilmuwan, S sudah keluar dari prinsip ilmiah. Masih di waktu yang sama di zaman postmodernisme, si pesaing menyebarkan isu itu melalui artikel lokal maupun interlokal, status FB dengan menyertakan foto agar tidak dianggap hoax, twit sarkas dengan hashtag #nomention #guerapopo #yingan, foto pernyataannya di Instagram dengan hashtag #vsco #nofilter #bukan_olshop, dan juga video pernyataan di Youtube yang diawali iklan website jual beli Berniatnggak.com sudah ditonton lebih dari 1000 kali tayang.

Tentu S merasa heran atas pikiran garis keras pesaing itu. S panik. Namun, kepanikan S mesti diatasi, S pun menemui pesaing itu.

“Woi, brofista, wahai pesaing. Mengapa Anda menyebarkan isu kampret bahwa gue tidak lagi berprinsip ilmiah? Apa alasan Anda?” tanya S penuh ingin tahu.

Pesaing itu pertama kali menyatakan pernyataannya secara langsung di depan S. “Hei, S! Akhirnya kamu menemuiku juga… Gini ya, aku heran dengan sikapmu selama ini. Beberapa minggu yang lalu kamu jelas-jelas telah menerbitkan tulisanmu yang tidak ilmiah, kan? Di tulisanmu itu, blas, sama sekali tidak ada sumber pustakanya, analisis datamu juga meragukan! Tidak valid dan reliable, kan, kalau gitu?” pesaing bertanya balik.

“Tulisan yang mana? Terakhir kali tulisan gue dimuat di jurnal yaa sekitar lima bulan yang lalu…,” S menyanggah.

“Jangan menyanggah, deh. Jelas-jelas aku baca tulisanmu minggu lalu!” seru pesaing.

“Sekarang gini aja, kalau benar Anda membaca tulisan gue, tolong sebutkan judulnya,” S mulai tidak panik.

“Judulnya itu adalah Psikomedi!” jawab pesaing dengan cepat.

S pun juga ikut menjawab balik dengan cepat, “WOI, BROFISTA, WAHAI PESAING!! ITU NOVEL TERBARU KARANGAN GUE!!! SEJAK KAPAN NOVEL HARUS DISERTAKAN DAFTAR PUSTAKAAA!!”

Pesaing itu termenung.

S bertanya kembali, “Ngomong-ngomong, Anda sudah pernah baca novel atau kumpulan cerpen atau hal-hal fiksi lainnya, kah?”

“Mmmm… Belum,” jawab pesaing dengan tidak begitu cepat.

Pesaing itu pulang. Pesaing melihat bahwa videonya di Youtube lebih banyak dislikes-nya daripada likes­-nya. Pesaing menatap kaget kalau followers Twitter-nya berkurang drastis. Pesaing itu kesal sekali.

Pesaing itu termenung lama sekali…

2911.2014 ; 8.25 AM

Share: