warga kulon progo burhanudin arif 1

Ia berasal dari Kulon Progo. Kau tahu Wates? Nah, itu. Jika tidak tahu, bukalah aplikasi peta dan ketik saja nama daerah yang tidak kauketahui. Kau akan mengerti seberapa jauh jarakmu dengan daerah itu. Jika kau sedang di Jakarta, kau jauh dari Kulon Progo, jauh dari Wates. Begitulah yang sedang dialami tokoh utama kita. Warga Kulon Progo ini mengirimiku pesan pada beberapa hari sebelum ia tiba di bandar udara. Aku menyarankan beberapa pilihan kendaraan publik yang mampu mengantarnya dari bandar udara ke indekosku di Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Pilihan paling mahal sudah jelas naik taksi. Pilihan yang lumayan murah adalah naik bus DAMRI. Warga Kulon Progo ini menjajal transportasi umum, kemudian transportasi privat guna menjangkau ketepatan lokasi indekosku. Dan siang itu, barang-barang yang dibawanya tidak begitu banyak. Masih muat tertampung di kamar indekosku.

Minggu siang itu, seharusnya menjadi jadwalku menonton film di bioskop di Atrium Senen bersama Akh Mad. Jadwal itu pun merupakan peralihan dari Jumat malam. (Akh Mad bilang bahwa dia capek, jadi, ganti hari saja.) Jadwal menonton pun, setelah diganti, tetap saja gagal dilaksanakan. Aku bilang kepada Akh Mad bahwa aku harus menyambut warga Kulon Progo. Tetapi aku tetap berusaha sekuat keyakinan untuk menemui Akh Mad, bersama warga Kulon Progo. Namun, sebelum kami pergi menuju Gang Pancing—lokasi indekos Akh Mad, kami pergi ke daerah Kuningan—tempat kerja warga Kulon Progo beberapa minggu ke depan.

Warga Kulon Progo tidak membawa sandal, maka, ia memakai sandalku yang mulai trepes (karena kualitasnya yang buruk dan dulu kubeli seharga sepuluh ribu di Jagakarsa). Kalau aku tidak salah ingat, sebelum kami berjalan kaki menuju shelter TransJakarta terdekat, warga Kulon Progo berujar bahwa ia diminta atasan untuk mengganti merk rokoknya. Ia jelas menyesali perintah itu. Tetapi ia juga tak mampu membantah. Pekerjaannya akan ia mulai secara resmi pada hari lusa, namun, peraturan semestinya harus tertanam pada benaknya agar tidak berlaku tingkah macam-macam. Pekerjaannya di bawah naungan merk rokok kesohor tanah air. Merk rokok yang telanjur menjadi konsumsi sehari-harinya merupakan saingan dari perusahaannya. Bagaimana pun juga, musuh memang sulit berkawan, kan?

Kami sampai di shelter Grogol 2, langsung mendapatkan bus yang mengarah ke Kuningan, dan berdiri di depan pintu otomatis, serta masing-masing menggantungkan satu tangan di pegangan. Tidak ramai, sih. Tetapi kursi tidak ada yang nihil penumpang.

Warga Kulon Progo berceloteh tentang bus. Mesin, kecepatan, dan suhu adalah bahan celotehnya. Aku kurang tertarik dengan celotehnya, tetapi tetap menyimak. Dan ketika jeda pertama berjalan, ia menunjuk satu stiker yang berderet di kaca bus: stiker paling kanan: “kartun pria menarik rok kartun perempuan ke atas” dicoret di dalam lingkaran.

“Stikernya…,” kata warga Kulon Progo, seolah ada perasaan senang yang menghinggap setelah melihatnya.

“Saking seringnya, digawe stiker,” balasku, berusaha memecah perasaan senangnya. Warga Kulon Progo membalas dengan cengiran yang kental akan ke-Kulon-Progo-annya.

Minggu itu jalanan utama dari Grogol Petamburan ke Kuningan tidak ramai. Meski Minggu masih menyisakan siangnya untuk merambat menuju sore, panas yang menerik bukan alasan utama warga ibukota malas keluar rumah. Minggu, juga Sabtu, adalah hari paling asyik dan waktu paling signifikan untuk rehat setelah menuruti deskripsi kerja, spesifikasi kerja, dan perintah ini-itu.

Bersambung…

Share: