kuningan-sopo-del-tower

Jadi begini. Warga Kulon Progo akhirnya turun di halte terdekat kantornya. Namun, sebelum turun, aku menanyakan tentang tower kerjanya nanti: dimanakah letaknya. Kami sadar, sesaat sebelum TransJakarta berhenti, kami melihat aneka tower menjulang, saling bersaing mencakar langit dan kerap membuatmu terhalangi menikmati senja. Warga Kulon Progo menunjuk salah satu tower. Yang itu, katanya. Aku menengok sekadarnya. Tidak tahu yang ia maksud.

Kami tidak langsung ke tower kerjanya. Kami menyusuri jalanan kecil, yang selain hanya bisa dilalui pengendara motor dan pejalan kaki, juga berderet rumah-rumah warga. Mata warga Kulon Progo amat waskita apabila di depan rumah terpampang pengumuman tentang indekos yang disewakan. Beberapa rumah menawarkan sewa kamar indekos, sebagian besar dicatat oleh warga Kulon Progo.

Posisi kami, kemudian, berada pada tanah yang tidak diaspal maupun di-konblok. Semak tak berbelukar di sisi kiri, parit kecil di kanan-kiri jalan. Tembok di sisi kanan jalan tergambar para pahlawan tanah air. Aduh, sayangnya, gambar tampang cemong dan kalau tidak menerbitkan kegelian mendalam, ia bisa turut mengakibatkan mimpi buruk yang sangat lucu jika kauceritakan kepada anak-cucu.

grafiti-bung-karno grafiti-bu-kartini

Setiba di depan tower tempat kerjanya warga Kulon Progo, aku menanyakan kepada penjaga keamanan tentang benarkah ini tower yang di dalamnya ada ruang kerja GDP. Seorang penjaga keamanan menjawab tidak tahu. Kawannya, yang seragam dengannya, membantu menjawab. Tidak ada, jawabnya.

Warga Kulon Progo melengkapi pertanyaan. Ia menyebutkan induk usaha pekerjaannya. Penjaga menjawab ada. Penjaga juga menyebutkan dua lantai tempat kerja warga Kulon Progo. Oh, ternyata induk usaha lebih dikenal di tower ini.

Kami berjalan menjauhi tower, berbelok ke rumah-rumah di sekitar Kuningan. Sekali berhenti, warga Kulon Progo mencatat nomor gawai salah satu indekos dan memilih untuk menelepon. “Sing duwe wong Cilacap,” ujarnya setelah menutup sambungan telepon.

Kami berjalan lagi, dan menyeberang jalan yang hanya bisa dilalui satu mobil dari arah belakang dan satu mobil dari arah depan. Dua perempuan tampak mendorong sepeda motor tanpa gigi, bannya bocor. Mereka meninggalkan sepeda motornya di tepi jalan dan entah ke mana mereka berjalan setelah bengkel di dekat kami tutup. Aku menunjuk salah satu indekos dan bertanya kepada penjaga konter pulsa di depannya, apakah masih ada kamar. Penjaga konter menyilakan kami masuk ke gang kecil. Ia menolak untuk membimbing kami sebab ia hanya penjaga konter, dan konternya terpisah dari indekos.

Warga Kulon Progo masuk gang, ia berjalan lebih dulu. Aku melihat sepeda motor dengan salah satu ban yang bocor masih terparkir di tepi jalan. Penumpangnya entah ke mana.

Gang kecil itu sebenarnya bukan gang. Ia sekadar lorong antara dua rumah tingkat dan memanjang ke belakang. Di kanan, ada jasa binatu. Di kiri, ada kandang hewan. Di atas dan di bawah, jendela-jendela tertutup menandakan bahwa itu semua adalah kamar indekos. Warga Kulon Progo kurang beruntung. Hanya ada satu kamar di lantai dua, dan menurutku, kondisinya bisa dibilang mengenaskan. Maaf, tepatnya, kurang angin.

kandang-burung-kuningan

Ibu pemilik indekos membimbing kami ke indekosnya yang lain. Kami susuri saja lingkungan Kuningan. Lokasi indekos yang ditunjukkan ini berjauhan dari indekos sebelumnya dan semakin jauh dari tower kerjanya warga Kulon Progo. Di depannya, ada lapangan bulutangkis. Lima anak kecil sedang menghabiskan waktu siang, saling cengkrama dengan subjek gue lo.

Kamar indekos yang ditunjukkan lebih mendingan daripada sebelumnya. Di lorong pojok, kau bisa melihat pemandangan gedung pencakar langit dan pencabik senja. Atas-atap rumah warga Kuningan juga berjejalan, seraya menghamba pada tower-tower sekitar.

Aku melihat ada kertas tertempel di dinding bagian dalam kamar indekos. “Dulu ditempatin sopir,” kata ibu pemilik indekos sambil memunguti beberapa sampah yang belum disingkirkan.

Warga Kulon Progo menyimpan nomor gawai si ibu. Lalu, kami turun. Warga Kulon Progo menyahutku. Ada uang jatuh, katanya. Aku menjumputnya meski tidak seberapa. Aku berencana memberi uang itu kepada salah satu anak kecil yang sedang bermain di lapangan depan indekos.

“Hei, ada yang mau uang?”

“Mau, mau, mau.”

“Tapi jawab pertanyaan dulu,” aku iseng, “yang tahu, angkat tangan, terus jawab.”

Lima anak kecil bersiap dan anteng mendengarkan pertanyaan.

“Siapa presiden Indonesia ketiga? A. Soekarno; B. Soeharto.”

Satu anak mengacung dan menjawab A. Aku katakan: salah. Satu anak lain mengacung segera dan menjawab cepat. Aku katakan lagi: salah. Semua anak itu bingung. Namun, kebingungan pelan-pelan menipis dari salah satu anak yang agak gempal dan memakai baju bola. Ia mengacung dan berujar sontak, “Habibie!”

“Benar!” aku memberi uang temuan itu kepadanya. “Dibagi-bagi, tapi, ya!”

Melihat adegan penuh pesan edukasi itu, warga Kulon Progo menerbitkan cengir dari dua katup mulutnya. Lalu, kami berjalan kaki ke halte TransJakarta. Sekarang, kami akan ke indekos Akh Mad.

Bersambung…

Sebelumnya: Warga Kulon Progo yang Mencicipi Ibukota (1)

Share: