“Saat wisuda, yang disarjana menjadi raja. Bunga dan segala buah tangan serta toga-toga menjadi tanda restu dan hormat untuknya. Paska-wisuda, raja menjadi jelata. Bunga-bunga berubah warna. Bunga-bunga menjelma menjadi doa.”

Selain berterima kasih secara langsung kepada beberapa pemberi bunga wisuda, saya perlu memohon maaf kepada mereka semuanya karena saya mungkin membuatnya terlampau terepotkan untuk memberi buah tangan di hari wisuda saya.

Tulisan ini saya tulis sebagai bentuk balasan kepada pemberi kenangan saat saya wisuda. Saya akan mengulas bunga-bunga itu. Sebenarnya, tulisan ini ingin saya kasih judul Unboxing Flower Bouquets When The Wisuda Itu Telah Diperhelatkan. Tapi, karena saya ingin menulis artikel lepas dengan sedikit puitis, saya mencari judul lain saja.

Semua pemberian bunga yang diunggah pada pos ini dijepret tepat seminggu setelah saya terima atau tujuh hari setelah saya mengikuti rangkaian upacara wisuda (22/11) di Fakultas Psikologi UGM.

1.

Bunga ini dari Mayang, seorang perempuan alumnus Psikologi UGM yang wisudanya bareng saya. Sama-sama November. Padahal selama prosesi wisuda, saya tahu persis Mayang ini nggak bawa bunga. Lalu, kenapa bisa-bisanya bunga ini tersampaikan ke saya? Jawabannya ialah karena Mayang telah memesan dari agen bunga wisuda yang rutin mengadakan orderan bunga wisuda, yakni Palapsi. Sehingga, anak Palapsi memberikan titipan orderan itu ke recipient-nya. Saya, salah satunya.

Pesan yang disampaikan Mayang:

Congraduation sev. Ditambah prestasinya, dikurangi ngeselinnya 😀

Terima kasih, Mayang. (Untungnya bukan ‘Terima kasih, Yang…’, emangnya Sayang?)

Mawarmu, overall, keren.

2.

Bunga ini dari Yoga. Dia kawan saya sejak SMA. Kami sempat sekelas di kelas XI-IPA 4. Berbeda dengan saya yang masuk Psikologi UGM melalui jalur SBMPTN, Yoga masuk via jalur SNMPTN Undangan. Pintar? Memang. Tapi, suaranya nyetér. Pas ketawa makin nyetér. Setidaknya, ke-nyetér-annya bisa diantisipasi dengan torehan prestasinya yang pernah berekspedisi ke Selandia Baru bersama Pecinta Alam Psikologi. (Dia satu-satunya atlet dari angkatan 2013 Psikologi UGM). Tepuk tangan dulu, pemirsa! Maa-ma-yoo!

Dulu, awal semester satu, saya dan Yoga sama-sama ikut Fun Rafting-nya Palapsi—saya yang ngajak. Kami lanjut ikut Diklat Palapsi. Waktu berjalan, Yoga fokus dan berkembang pesat di Palapsi—jadi anak air. Saya fokus dan berkembang nggak begitu pesat di Psikomedia—pinginnya jadi peraih Nobel Kesusastraan.

Yoga sama seperti Mayang: lulus bulan November. Adalah anak Palapsi juga yang menitip-berikan kepadaku.

Pesan yang disampaikan Yoga:

Selamat yo bro! muga” tambah sukses dan sehat selalu

Catatan: Pesan ditulis tanpa penyuntingan.

Kata muga”  berarti semoga.

Konon, selama SMA sampai (kira-kira) tengah semester satu perkuliahan, Yoga ini kalau berkirim pesan kerap diawali tanda titik. Contohnya (hanya fiktif, tapi berdasarkan kisah yang pernah saya lalui bersama Yoga):

.sev, melu funrafting?? byr piro tow?
.ssok quiz psidas ttg opow??
.kirimi ebook e paser smit,,

3.

Tidak seperti dua bunga sebelumnya, bunga ini tanpa kartu ucapan. Padahal, sebelumnya ada. Entah karena selotip bolak-balik yang kurang erat atau karena sempat bersinggungan sehingga kartu ucapannya jadi lepas. Untung saya hapal siapa saja pemberi bunganya. Bunga ini, lagi-lagi, juga dititip-berikan oleh Palapsi.

To: Sevma
From: Nike
Selamat wisuda Mas Sevma! Sukses selalu!

Makasih ya, Nike!

4.

Setangkai bunga ini dari Mbak Cime dan Mbak Via. Keduanya mahasiswi Magister Profesi Psikologi UGM. S1-nya di Psikologi UGM, angkatan 2012. Kenal mereka sejak berkepanitiaan di Psikologi Rumah Kita 2014. Saya sie Acara (dan MC). Mereka berdua jadi pemandu mahasiswa baru. Bukan pemandu acara lho—itu mah gue!

Lagi-lagi, bunga ini dititip-berikan oleh Palapsi. Entah terlupa atau terburu, tidak ada pesan yang tertulis di kartu ucapan. Overall, makasih, kakak-kakakku!

5.

Bunga ini dari Adri. Selain teman saya sejak SMA, Adri ini teman saya satu kelompok mentoring—bahkan mulai kelas sepuluh sampai kelas sebelas. Saya dan Adri diterima di Psikologi via jalur SBMPTN. Adri berganti nama panggilan sejak masuk Psikologi. Menjadi Aad. Mungkin ia ingin berada di presensi teratas. Secara alfabet, lebih dulu dari Aan.

Adri wisuda bareng saya. Adri memberikan setangkai bunga mawar ini ketika sedang perayaan sekaligus sesi foto-foto di taman cinta selatan gedung D.

Di bunga ini, ada catatan atau pesan tambahan, tapi tidak tertera nama recipient. Nggak apa-apa. Yang penting: thanks ya, Ad!

To:
From: Aad
Selamat wisuda guys!
@
adriwaskito

6.

Ini bunga dari Nina, asisten Unit Konsultasi Psikologi (UKP) UGM. Sama seperi Nike, Nina menitip-berikan bunga ini pada Palapsi. O, iya, Nina dan Nike serta saya pernah berkolaborasi ikut pengabdian masyarakat di Klaten, dalam rangka follow-up diklat Palapsi. Waktu itu, Nina belum berjilbab. Syukurillah, sekarang sudah.

O, iya, sepertinya, ada kesamaan yang saya pahami dari anak-anak Palapsi yang masuk pengabdian masyarakat: sama-sama cinta dunia anak.

Pesan yang tertulis di kartu ucapan yang tertempel di tangkai bunga ini ialah:

Selamat wisuda mas sevmaa!
semoga sukses selalu

Dua kata pertama pada pesan di atas serupa dengan dua kata pertama pada pesannya Adri. Kebetulan…

7.

Saya belum lama ikut Diklat Keluarga Rapat Sebuah Teater (KRST) UGM. Sabtu (18/11) Diklat hari terakhir, empat hari berikutnya saya wisuda. Saya berterima kasih sepenuhnya kepada kalian, para anggota keluarga.

Ini bunga krisan. Mungkin karena ingin tampil beda dari yang lain—yang memberi mawar. Kartu ucapannya juga beda. Tampak handmade-nya! Happy graduation ditulis tegak-bersambung dengan spidol hitam, di bawahnya dengan huruf kapital tertulis KRST ♥. Di bagian terbawah tertera TO : SEVMA

(Sebenarnya, ada yang kurang. Adalah gelar! S.Psi.! But, overall, kalian keren. Gue uga!)

8.

Jujur, bunga-bunga yang termuat di rangkaian bunga ini indah-indah dan bervariasi. Cara menyusun antarbunganya beserta cara menangkupkan dengan plastik transparannya juga unik. Yang jelas, mana ada bunga seperti ini dikasih oleh seorang cowok. Seorang cewek aja bukan. Melainkan dua perempuan adik angkatan di Psikologi sekaligus di Psikomedia: Rinda dan Dara. Mereka berdua memang fans berat saya.

Beda dengan bunga lainnya, bunga ini terisi air yang tertampung di bagian bawah bouquet. Beberapa mililiter air sempat mengucur ke luar dan mengenai kartu ucapan yang menempel di depan bunga. Desain yang saya perkirakan adalah desain buatan mereka pun terlihat membias. Tapi masih bisa terbaca, kok!

CONGRADUATION
MAS SEVMANANDA!
SUKSES SELALU YA MAS

OKE DEK! KAMU UGA SUXESELALUWUWUW~~ THANKXS

9.

Saya jelas nggak tahu berapa harga bouquet ini. Uniknya, warna pita pada rangkaian bunga ini sesuai warna favoritku: biru. Yang bikin agak geram tapi tetap menyenangkan adalah tulisan di kartu ucapan, tepatnya di bawah kata Congraduation!.

Berikut gambar versi zoom-in.

Wajar kalau ternyata masih tak terlihat dan tak terbaca. Ruang tulisnya saja menyiratkan untuk ditulis dengan ukuran font 12, ini malah 6. Bercanda tak sebercanda itu, Nak!

To: Sevma Affleck sang Aktor Psi seantero Psikologi
From: Murid yang tak menganggap dirinya dan suhunya seorang murid
Sudah S.Psi jangan lupa lanjut sampe PHD biar bisa nganter pizza geratis sama beli canon 5D dan MacBook secara mandiri.

Dipikirnya, para pengantar pizza itu harus lulus S3? Ini tentu bentuk dari penistaan intelektual. Tapi tak apa, doa dalam pesan tentang alat-alat canggih mutakhir itu semoga saja segera bisa kumiliki.

Rangkaian mawar ini dititip-berikan oleh Palapsi dan saya baru tahu pemberinya saat sesi foto-foto di taman Psikologi UGM. Ocha, anak IUP Psychology (bukan Psikologi!), bilang kalau bouquet ini darinya. Selamat! Selain sebagai penulis pesan dengan karakter terbanyak, kamu telah menjadi pemberi bunga dengan usia termuda.

Maka dari itu, lekaslah nikah muda—seperti yang kau impi-impikan. Maaf ya, Cha, belum bisa memberikan balik suatu bunga untukmu. Kalau kamu minta bunga, aku mundur; tapi, kalau minta buku, aku tu penulis.

10.

Ini bukan bunga KW. Ini replika bunga. Bunga matahari, kan, ya? Bagi saya, ini bunga terlucu, sebab ia tidak akan layu, tidak akan berubah warna, dan mungkin selalu bisa menemani waktu tidurku.

Pesan berupa doa dan nama-nama dari tujuh perempuan shalihah pemberi bunga ini tertulis dengan tinta hijau tua di bingkainya.

Barakallah
Sevma, S.Psi!

– Mimi, Zahra, Dola, Saqya,
 Geni, Zahra Fad, Hilda –

Meski tujuh nama pemberi tertulis di bingkai, bunga ini hanya diberikan oleh Mimi. Selebihnya, titip salam, kata Mimi. Huh, kalian…, ciwi-ciwi KMPIPLFNUANSA…, selalu punya cara terbaik untuk menjadi sahabat sampai surga. Wa fikum barakallah!

Bdw, kapan kita melawat resepsi lagi? Atau, aku yang dilawat?

BONUS 11.

Ini memang kembang wisuda. Bermahkotakan Chitato, berkelopakkan Twistko. Sea Crunch dan Top bertengger sebagai putik dan benang sari. Itulah makanan ringan yang dirangkai indah dengan pita coklat di luarnya. Isi beserta rangkaiannya tampak simetris. Dua bungkus yang bermerk sama dipasang di kanan-kiri, sedangkan bila ada satu bungkus dipasang di tengah.

Alifah, yang wisudanya juga November, memberi rangkaian makanan ringan ini. Waktu memberi, ia sama sepertiku: mengenakan toga dan jubah wisuda berwarna hitam. Alifah memang teman saya yang keren; selama tiga tahun bekerja bersama di suatu unit di Fakultas Psikologi UGM, momen-momen pelatihan adalah bukti bahwa Alifah merupakan perempuan yang ger-cep. Setangguh Marsa, teman seunit juga. Bedanya, Marsa sudah menikah.

Dalam rangkaian makanan ringan ini, saya baru ngeh ada kartu ucapannya yang tertempel dan sembunyi di antara dua merk berbeda setelah beberapa hari tersimpan baik-baik di kamar.

CONGRATS
Alhamdulillah S.Psi ya 🙂
Semoga setelah ini dilancarkan segala kegiatanmu kalau sudah ngeTOP jangan lupa teman haha
AF

CONGRATS JUGA 4 U, FAH.

Jadi, kapan ke Jogja lagi?


Sekian tulisan ini saya sajikan. Semoga bisa bermanfaat bagi Anda para pembaca. Semoga Anda terpantik untuk ikut menulis. Entah tentang bunga, atau tentang selain bunga.

3-15 Desember 2017

Share: