Hari Rabu (6/12), saya ikut public lecture tentang ASEAN Identity in Short Film atau identitas ASEAN dalam lingkup film pendek. Dua pembicaranya bernama Wregas Bhanuteja dan Amanda Nell EU. Acara ini dihelat dalam rangka rangkaian public lecture Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2017.

Selama kira-kira dua jam, moderator membimbing acara dalam Bahasa Inggris. Bukan hanya Wregas dan Amanda yang berpapar, ada presentasi poster ilmiah yang sama dengan topik kuliah siang itu. Satu poster dari Indonesia membahas mengenai filmmaker muda Indonesia, sedangkan satu poster lagi dipresentasikan associate professor dari Filipina mengenai komedi dan siaran televisi di Filipina.

Di akhir acara, saya bergejolak untuk menanyakan sesuatu kepada Wregas. Pertanyaan ini saya pendam sekiranya sejak Maret 2017—sejak saya nonton Prenjak-nya Wregas yang menang di Cannes tahun 2016 itu. Jawaban dari pertanyaan itu tidak kunjung saya temukan di artikel maupun video yang mengulas Prenjak dan sutradaranya.

Setelah menunggu beberapa panitia atau volunteer JAFF berfoto ria dengan Wregas, saya maju menanyakan hal itu. Saya tanya dengan Bahasa Indonesia. Dijawabnya dengan Bahasa Jawa. Saya putuskan untuk melanjutkan beberapa pertanyaan dengan Bahasa Jawa, deh. Selain soal sesuatu tentang Prenjak, saya beralih cepat menanyakan sesuatu tentang Lemantun— film pendek yang juga directed by Wregas.

Karena terburu waktu harus segera ke Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Wregas memohon untuk menyudahi obrolan itu. Saya pun bersemangat. Marwah menjadi seniman muda pelan-pelan bangkit.


Kejadian yang dipandang sebagai bencana dapat menjadi dark comedy karena orang-orang yang mengalaminya justru merasa bahagia dan menertawakan setiap detil peristiwa itu—atas dasar melihat kelakuan para tetangganya.

– catatan saya pada public lecture ber-Bahasa Inggris yang disampaikan Wregas.

Share: