20. La La Land (2016)

Genre drama musikal memang menarik, apalagi kalau kisahnya semenyenangkan dan bisa menimbulkan kepupusharapan seperti La La Land ini. Dua tokoh utama tidak terlalu mati-matian untuk menjadi bintang, meski mereka boleh dianggap bagai pungguk merindukan bulan.

19. Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives (2010)

Filmnya Thailand yang aneh. Wahai! Uncle Boonmee tidak benar-benar bisa memanggil masa lalunya. Namun, ia hanya sering didatangi arwah-arwah yang humanis. Maksudku tidak ujug-ujug mengagetkan dengan suara berdebam. So slow gitulah. Lalu, kamu jadi tahu apa makna hidup untukmu dan untuk sekelilingmu. Termasuk ikan lele sekaligus!

18. Her (2013)

Kasihan juga, sih, kalau kamu tu jomblo dan sampai-sampai menisbatkan diri sebagai orang yang jatuh cinta dengan bot. Bot itu pintar, lawan jenismu, dan yaa, ia bisa memberi kenyamanan, nyambungnya komunikasi, serta kenikmatan seperti pada umumnya. Sayang nian, botmu juga melayani orang jomblo sekaligus yang non-jomblo lainnya. Sakit, dong? Siapa suruh main hati! Eh, main komputer—bot.

17. Land of Mine (2015)

Kalau nggak masuk Oscar, aku nggak bakalan nonton ginian. Kostum perang di sini tidak memberimu gambaran tentang perang. Film ini tentang betapa ketelanya menjadi suruhan yang tugasnya mencari ranjau. Solidaritas-tak-terbatasmu diuji. Persis ketika kawan baikmu terkena ranjau itu: sengaja maupun tak sengaja.

16. Omar (2013)

Film Palestina yang menang di Cannes. Jelas ada tensi politisnya. Bukan perkara teritori saja, melainkan perkara drama dan pengkhianatan dari dua pihak yang ambigu benar-salahnya.

15. Istirahatlah Kata-Kata (2017)

Bisakah kamu jawab pertanyaan ‘Dimana keberadaan Wiji Thukul?’? Film ini tidak menjawab keberadaan penyair dan pengganyang itu. Film ini mendiskusikannya—tentu dalam tataran estetika dan puitik. Seperti puisinya, kamu diminta “jangan menyembur-nyembur, kembalilah ke dalam rahim, segala tangis dan kebusukan”.

14. The Isle (2000)

Jadi perempuan yang bisa bicara tapi sungkan bicara itu sulit, kan? Nggak juga kalau untuk aktris di film Korea ini. Dan Kim Ki-Duk lebih dari mahir merangkai kesedihan dengan real-life yang bisa disangka-sangka.

13. Bad Guy (2001)

Kalau kamu mencintainya, jangan tergesa-gesa bilang sayang. Kalau kamu disakitinya, juga jangan buru bilang benci ke dia. Njuk kepiye?? Film Korea dan (lagi-lagi) besutan Kim Ki-Duk ini bisa memberi jalur alternatif: jadi bad guy! Walaupun bad guy, kamu tetap bisa mengevaluasi sedihmu, kawan. Dramatized. But, you flow.

12. Moebius (2013)

Trust me, aku menontonnya tanpa subtitel. Kamu pun wajib begitu: lha wong nggak bakal ada subtitelnya. Se-thriller-thriller-nya Kim Ki-Duk, film Korea ini (ah, lagi-lagi Korea) tetep jatuhnya ke drama. Dan ini adalah drama keluarga. Bengis memang kalau ditelisik satu per satu tokohnya. But, sepakatilah: hidup memang harus menyedihkan, karena kalau tidak: berarti belum khas Asia.

11. Dogtooth (2009)

Kamu seumur-umur hanya terpingit di rumah dan syarat izin keluar adalah lepasnya gigi taringmu. Intinya: kamu dilarang ke luar rumah, kecuali kamu pretel taringmu dengan sengaja. Yorgos Lanthimos selalu punya lanskap dunianya sendiri. Ia menyuguhkan multitafsir tentang parenting, kediktatoran, homeschooling, kebebasan, hingga psikologi perkembangan yang kacau.


Urutan ke 1-10 ada di tautan berikut:
sevmananda.wordpress.com/2018/01/08/10-film-terkeren-2017/

Share: